Jodoh Si Ketos

Jodoh Si Ketos
Episode 40


__ADS_3

"Aku serius!" Galang memasang wajah seriusnya. Shabita sendiri masih bingung dengan sikap Galang yang tiba-tiba.


"Lang, kamu gak kesurupan, kan?" celetuk Shabita dengan polosnya.


Galang mengusap wajahnya kasar. Kenapa istrinya malah tidak menganggap semua ucapannya.


"Iya, aku kesurupan. Kesurupan jin cinta!" sewot Galang.


"Emang ada gitu, Lang, jin cinta?" Shabita malah menganggap serius soal jin cinta.


"Ada. Jin nya kamu!" ucap Galang kesal.


"Lang, berarti aku ada tanduknya dong?" celetuk Shabita.


"Iya ada. Panjang banget tuh tanduk." Galang menatap kesal ke istrinya. Hancur sudah niat Galang yang akan romantis. Entah Shabita benar-benar tidak mengerti atau malah mengerjainya.


"Segimana, Lang, panjangnya?" kepo Shabita. Wajahnya terlihat antusias membahas jin cinta.


"Dah lah, aku males ngomong sama kamu!" Galang berdiri lantas meninggalkan Shabita.


"Eh Lang mau kemana?" Shabita mengejar langkah Galang tapi kakinya tersandung kakinya sendiri.


Byurrr!


Shabita tercebur ke kolam. Galang tidak menghiraukannya. Toh, Shabita juga bisa berenang.

__ADS_1


Sesampainya diambang pintu, Galang menoleh ke belakang. Sang istri tidak terlihat di permukaan kolam. Galang langsung berlari lagi ke kolam untuk menyelamatkan istrinya. Kali ini Galang semakin panik karena Shabita menutup matanya padahal sudah diangkat. Tubuhnya segera dibaringkan ditepian kolam. Galang melakukan CPR dengan cara menekan-nekan dada Shabita.


"Aish, kenapa bisa begini sih?" gerutu Galang disela paniknya.


Uhuk Uhuk!


Shabita terbatuk, mengeluarkan air dari mulutnya.


"Kamu gak apa-apa, kan?" Galang memegang wajah istrinya. Shabita mengangguk. Galang membawa tubuh Shabita ke dalam pelukannya.


"Syukurlah, kamu gak papa!" ucap Galang lega.


Shabita masih heran kenapa Galang berubah jadi perhatian gini, mumpung lagi berubah jadi sekalian saja Shabita jahili.


"Lang, tadi aku ketemu jin cinta!" celetuk Shabita.


Sejujurnya perasaan Shabita sudah tidak karuan. Hatinya sedari tadi memang sudah dag dig dug ser cuma Shabita mengalihkannya.


"Ucapan ku tadi serius sama kamu, Abit!" Galang mengingatkan kembali ucapannya.


"Yang mana? Jin cinta kah?"


"Jin cinta lagi, Eeeuuuhhh!" gemes Galang mengepalkan tangannya.


Shabita terkekeh melihat tingkah suaminya. "Iya iya, maaf. Gak bahas jin cinta lagi deh, tapi bahas nya jin cemburuan!"

__ADS_1


"Ish, kamu tuh ya gak bisa serius apa?!" Galang mencubit pipi Shabita gemas.


"Dih cubit-cubit! Sakit tau." rajuk Shabita.


"Sama suami sendiri bilang sakit, giliran sama si Gerry salut malah kesenengan!" sindir Shabita.


"Gerry salut? Coklat?" Shabita menautkan alisnya.


"Cih, dah lah aku Males ngomong sama kamu!" decih Galang. Laki-laki itu berjalan meninggalkan Shabita.


"Ketus lagi, serius amat hidupnya. Gak bisa diajak bercanda!" Shabita melihat kepergian Galang dengan perasaan kecewa. Ternyata Galang belum berubah, masih ketus. Padahal tadi Shabita hanya berusaha mencairkan suasana. Shabita bukanlah gadis bodoh yang tidak mengerti maksud ucapan Galang namun Shabita hanya ingin tahu sejauh mana Galang membujuk dirinya.


Setelah curhat dengan Hanin, niat Shabita yang ingin pergi dari rumah ini jadi urung dilakukan. Terlebih Shabita juga mengingat pesan sang mama untuk menjaga hubungannya.


Gadis cantik itu berdiri.


"Aw!" ringis Shabita, kakinya terasa sedikit ngilu.


Shabita mengenakan bathrobe nya lalu berjalan perlahan menuju kamar Galang.


"Kayanya keseleo deh kaki ku. Pantes aja tadi susah digerakin!" keluh Shabita seraya berjalan pincang.


"Loh, non kenapa?" tanya Marni ketika melihat jalan Shabita.


"Kayanya keseleo deh, mbak. Tadi kesandung!" jelas Shabita.

__ADS_1


"Ya udah, mbak bantu jalan ke kamar, ya!" Marni memapah Shabita menuju kamar.


__ADS_2