
Hari-hari Galang dibuat semakin berwarna. Sebelum berangkat sekolah Galang selalu menyempatkan diri untuk berbincang dengan anaknya yang masih didalam perut Shabita, kini usia kehamilan Shabita menginjak 8 bulan, dimana sebentar lagi akan melahirkan.
"Anak papa yang baik, jangan nakal ya disana. Doain ujian papa hari ini lancar," Galang mensejajarkan tubuhnya dengan perut buncit Shabita. Tanganya mengelus dengan lembut sambil sesekali dicium. Tidak jarang anaknya merespon dengan tendangan jika Galang mengajaknya berbicara.
"Iya, papa, semangat ya ujiannya!" ucap Shabita menirukan suara anak kecil.
"Anak pinter!" sekali lagi Galang mencium perut istrinya dan dibalas tendangan dari dalam sana.
"Ih anak papa jago banget sih nendang-nendangnya, mau jadi pemain basket ya?" kekeh Galang.
"Iya dong, papa, aku kan mau jadi pemain badminton, orang lain mah pake raket pukulnya kalo aku ditendang pake kaki biar lebih slebew!" kekeh Shabita menirukan suara anak kecil lagi.
"Wih anak papa hebat banget ya! Awas jangan dulu pargoy disana!" mereka tertawa bersama.
"Sayang, aku mau digendong ke meja makan!" pinta Shabita dengan manja. Galang menghela napas dahulu. Tubuh Shabita saat ini bertambah semok, alhasil jika Galang menggendongnya akan butuh tenaga ekstra. Untung saja mereka sementara pindah ke kamar bawah, kasian Shabita jika nain turun tangga, begitu pun dengan Marni.
"Siap sayang!" Galang menggendong istrinya ala bridal, gegas Shabita mengalungkan tangannya pada leher Galang.
"Deuh bayi gede manja banget sih!" ledek Marni melihat menantunya di gendong.
"Aduh bayi tua gak usah ngiri," timpal Shabita karena mereka berdua sama-sama manja. Galang lalu mendudukkan istrinya dengan nyaman.
Setelah Galang dan Bagas berangkat, Shabita berencana akan mendekor kamar bayinya. Saat di USG, dokter mengatakan kalau bayinya berjenis kelamin laki-laki.
__ADS_1
Sebenarnya dekorasi dindingnya sudah oleh orang yang ahli, sekarang cuma merapikan sisanya saja.
Shabita mendekor kamar anaknya bernuansa biru muda. Semuanya sudah lengkap tinggal menunggu kelahiran anaknya saja.
"Sayang, lagi ngapain?" Marni melongokkan kepalanya di pintu.
"Sini masuk, ma!" ajak Shabita.
Marni ikut bergabung bersama Shabita yang sedang menyusun baju bayi dilemari. Ada sepatu bayinya juga, pokoknya semua peretelan bayinya sudah siap.
"Ma, ini lucu gak?" Shabita menunjukkan sebuah sepatu bayi yang sangat menggemaskan namun berwarna peach.
"Lucu sih, cuma kenapa sepatu cewek ya?" tanya Marni melihat sepatu itu yang ternyata untuk cewek.
"Hehehe, abisnya aku suka banget, ma, sama sepatunya." cengir Shabita sambil menatap gemas sepatu peach itu.
"Siapa tau, kan adik ku cewek jadi nanti bisa dia pake!" ucap Shabita.
Setiap Marni melakukan USG, jenis kelamin anaknya selalu tidak terlihat, hingga saat ini dia dan Bagas belum mengetahui jenis kelamin anak kedua mereka.
"Iya sih. Ya udah simpen aja!" sahut Marni.
"Siap mama ku," Shabita memberikan sikap hormat sambil tersenyum. Pipinya yang sekarang bertambah cubby semakin menambah aura kecantikannya.
__ADS_1
"Eh, iya, kamar adik belum selesai dekor ya, ma?" tanya Shabita.
"Iya, tapi sebentar lagi selesai juga. Biar nanti deh mama tambahin kurangnya." tukas Marni.
Kemudian kedua wanita hamil tersebut berbincang sampai tertawa.
...****************...
"Enjay, pusing banget gue!" keluh Amir saat makan di kantin.
"Ngeliat soal matematika berasa melihat malaikat maut," timpal Kevin.
"Bahasa lo, tinggi banget kaya harapan cinta yang tak kunjung datang!" ledek Amir.
"Dih si Onta kaya sendirinya kagak gitu aja!" sahut Kevin tidak mau kalah.
"Udah lo berdua nasibnya emang sama, diem gak usah bertengkar." lerai Galang.
"Calon bapak beda ya vibe nya, kaya ada manis-manisnya tuh mulut." sindir Amir.
Galang tidak menggubris. Dirinya fokus makan bakso pedas sampai semua bercucuran.
Karena cuma ujian, sekolah tidak sampai siang. Kevin dan Amir memutuskan untuk ke rumah Gakang, alasannya akan belajar bersama tetapi pada kenyataannya mereka malah bermain PS yang membuat Shabita mengomel.
__ADS_1
"Gimana mau lulus coba, kalo kalian belajar aja susah!" omel shabita seperti seorang ibu yang menasehati anaknya yang nakal. Akhirnya karena mereka takut pada kaum terkuat di bumi, mereka menyudahi bermain PS nya lalu lanjur belajar. Kevin dan Amir pulang dari rumah Galang ketika hari sudah malam.
(Tadinya hari ini mau libur karena lagi kurang sehat tapi liat permintaan update jadi gak tega. Terimakasih teman-teman udah setia baca karya ku, kemungkinan besok novel ini selesai. Jangan lupa nanti mampir di sequelnya ya, Insya Allah besok juga terbitnya)