
Dikarenakan ada tambahan lain untuk acara jadi Galang dan panitia pelaksana mengadakan meeting lain sepulang sekolah jadinya Shabita dan Galang tidak pulang bareng.
Selepas meeting Galang bergegas pulang. Dalam pikirannya Galang takut Shabita benar-benar pergi.
Beberapa saat kemudian, mobil Galang sampai di rumah. Galang langsung berlari ke kamar.
"Abit!" panggil Galang ketika sudah sampai kamar. Disana tidak ada istrinya. Hati Galang semakin resah.
"Shabita!" Galang mencari istrinya ke kamar mandi namun tidak ada juga.
"Shabita!" panggil Galang lagi.
Kakinya melangkah mencari ke setiap ruang lantai atas rumah megah itu.
"Shabita!" Galang mulai panik. Buru-buru menuruni tangga.
"Ada apa, den?" tanya Marni yang melihat Galang sedari tadi memanggil istrinya.
"Shabita gak ada di kamar, mbak." ungkap Galang. Terlihat jelas kalau laki-laki itu sedang panik.
"Pffftt," Marni seperti menahan tawanya.
"Kenapa, mbak?" heran Galang. Napas Galang masih belum stabil karena berlarian mencari Shabita.
"Gak papa, den. Lebih baik den Galang ke halaman belakang aja!" usul Marni.
"Ck, mbak aku lagi nyari Shabita, Ish!" kesal Galang.
__ADS_1
"Iya, non Shabita lagi disana." Marni menutup mulutnya menahan tawa.
Galang tanpa berkata lagi segera berlari ke halaman belakang. Dilihatnya Shabita sedang menceburkan diri ke kolam, belum menyadari keberadaan suaminya. Galang berjalan mendekati area kolam.
Beberapa saat Galang menunggu namun istrinya tidak muncul ke permukaan. Galang semakin panik lalu tanpa pikir lagi Galang melompat menyusul Shabita.
Byurrr!
Galang berenang cepat ke arah istrinya. Dengan sigap Galang mengangkat tubuh Shabita.
"Eh!" kaget Shabita karena tubuhnya digendong Galang ke tepian kolam. Galang tidak sadar kalau mata Shabita terbuka, sedang menatap heran ke arahnya. Kepanikan sudah meliputi Galang.
Tubuh Shabita dibaringkan di kursi panjang. Napas Galang terdengar memburu.
Shabita melihat rambut Galang yang basah menambah kadar ketampanan suaminya. Ya, Shabita terpesona melihat itu. Kedua mata mereka akhirnya saling bertemu. Galang baru sadar kalau istrinya tidak pingsan.
Galang semakin salah tingkah. Terlebih lagi, Galang melihat istrinya hanya memakai pakaian renang tapi bukan bikini.
"Kenapa sih?" tanya Shabita, melihat suaminya salah tingkah.
Galang menarik napas untuk menetralkan pikirannya.
"Pakai handuk dulu!" titah Galang.
"Emang kenapa sih?" Shabita mencondongkan wajahnya ke arah Galang.
Laki-laki itu menelan salivanya kuat-kuat.
__ADS_1
"Ya, pake aja!" Galang memalingkan wajahnya.
Shabita memutar jengah kedua matanya. "Aku masih ingin berenang. Baru juga nyebur udah kamu angkat!" Shabita bangkit dari kursi akan melanjutkan aktivitas renangnya.
"Ada hal mau aku omongin sama kamu!" Galang memegang tangan Shabita sebelum istrinya nyebur kembali. Shabita mengernyitkan dahinya.
"Duduk dulu!" pinta Galang. Shabita menurut. Mereka duduk saling berhadapan.
Galang memberanikan diri memegang tangan Shabita. Gadis cantik itu tentu saja kaget.
"Jangan pergi!" kalimat pertama yang Galang keluarkan membuat jantung Shabita mendadak berdebar. Shabita sampai menautkan kedua alisnya melihat Galang.
"Aku gak mau kita pisah!" tutur Galang tulus, menatap istrinya.
"Kamu kenapa sih?" Shabita malah menyentuh dahi Galang dengan punggung tangannya.
"Gak panas, kok!" celetuk Shabita.
Galang yang tadinya ingin bersikap romantis jadi kesal karena Shabita menganggap dirinya sakit.
"Ish, aku gak sakit!" Galang memegang tangan Shabita lagi.
"Lah terus kalo gak sakit kenapa dong?"
"Aku gak kenapa-napa. Aku cuma minta kamu jangan pergi dari rumah ini." tegas Galang.
Shabita melongo mendengar penuturan Galang.
__ADS_1
(Maaf ya kalo masih banyak typo atau penumpukan kata 🙏 Terimakasih juga buat yang udah mengikuti novel ini.. love sekebon nanas 😍😍)