Jodoh Si Ketos

Jodoh Si Ketos
Episode 46


__ADS_3

Shabita senyum kecil mendapat balasan dari suaminya. Hatinya berdebar tak menentu, ada sesuatu yang baru yang dirasakan oleh Shabita.


Waktu istirahat tiba. Seperti biasa di kantin Rio selalu menunggu kedatangan dua gadis cantik.


"Tumben udah pesen makan?" tanya Hanin yang melihat makanan sudah tersedia dihadapan Rio.


"Iya dong. Gue kan perhatian sama kalian!" sahut Rio. Shabita dan Hanin duduk di hadapan Rio.


"Eh Abit, aku punya sesuatu buat kamu." ucap Rio.


"Apa?" Shabita mengerutkan dahinya.


"Tutup mata dulu!" pinta Rio.


"Ih masa harus tutup mata segala." protes Shabita.


"Emang lo mau ngasih apaan sih? Lebay banget pake tutup mata segala." cibir Hanin.


"Diem lo." segah Rio.


"Cih, lebay." decih Hanin.


"Abit, ayo tutup mata dulu." tutur Rio dengan lembut.


"Iya iya." Shabita menutup matanya sambil terkekeh.

__ADS_1


Rio mengambil sesuatu dari kursi di sampingnya. Shabita mau pun Hanin tidak bisa melihat itu karena terhalang meja.


"Sekarang buka matanya!" pinta Rio.


Mata Shabita berbinar melihat kotak yang berisi coklat. Shabita suka banget coklat dan buah strawberry. Rio bisa tahu apa yang disukai Shabita karena laki-laki itu sempat bertanya.


Shabita hendak mengambil kotak coklat dari tangan Rio namun seseorang dengan cepat menyambar kotak coklat tersebut. Semua mata tertuju padanya.


"Ini buat kalian!" kata Galang sambil menyerahkan kotak coklat pada Kevin dan Amir.


"Ih Galang, itu punya ku." Shabita akan mengambil kotak coklatnya kembali.


"Enggak, ini punya kita!" timpal Kevin.


"Enak aja. Itu punya ku!" Shabita berhasil merebut coklatnya kembali.


"Elo yang apa-apaan? Beraninya lo ngasih coklat ke cewek gue." Galang memasukkan tangannya ke saku. mata mereka saling menatap tajam memancarkan sinar laser merah.


"Heh jangan ngaku-ngaku deh lo," Rio menyunggingkan senyumnya.


"Elo yang ngaku-ngaku. Mulai sekarang lo jangan ganggu cewek gue lagi, kalo sampe gue liat lo deketin Shabita lagi, abis lo sama gue!" tegas Galang.


Rio menganggap ucapan Galang hanya bualan saja. Rio sangat percaya diri bahwa hanya dia yang bisa jadi pacarnya Shabita apalagi Rio tahu bahwa Galang dan Shabita kerap tidak akur jadi tidak mungkin mereka bisa pacaran.


"Cih! Gak takut gue." tantang Rio.

__ADS_1


"Heh Teh Rio rasa gula batu, bebal banget sih jadi orang. Awas ya lu deketin Shabita lagi." peringat Kevin.


"Abit, kasih coklatnya kembali!" pinta Galang pada istrinya.


"Gak bisa gitu dong, ini kan udah jadi milik aku. Gak boleh nolak rezeki." sahut Shabita. Rio semakin diatas angin karena merasa dibela oleh Shabita.


"Nanti aku beliin sama kebun coklatnya sekalian." kesal Galang melihat ekspresi Rio yang mengejeknya.


"Kamu mah mentang-mentang anak orang kaya apa-apa bilangnya gitu, tadi pagi aja bunganya kamu buang kan, masa sekarang coklat favorit ku diminta balikin lagi?" protes Shabita.


Galang semakin kesal karena Shabita tidak paham perasaannya. Terdapat rasa kecewa di hati Galang. Istrinya memilih pemberian orang lain ketimbang menghargai perasaannya yang cemburu. Rahang Galang mengeras, tangannya mengepal dibalik saku menahan emosi.


"Ya sudah terserah!" Galang berlalu meninggalkan Shabita yang kekeh tidak mau mengembalikan coklatnya.


"Wah gawat, si Galang mode pundung!" seru Kevin. Lantas mereka berlari mengejar langkah Galang.


Shabita baru menyadari sikapnya setelah melihat Galang pergi. Betapa bodohnya ia saat ini karena sudah membuat Galang tak dihargai sebagai suami terlebih itu dihadapan Rio.


Shabita terduduk lemas di kursinya. Berkali-kali Shabita merutuki dirinya dalam hati sampai-sampai Shabita tidak ikut makan.


Satu lagi kesalahan Shabita, kenapa dia tidak ikut mengejar Galang malah diam saja di kantin bersama Rio dan Hanin.


Sampai pelajaran berakhir Galang tidak kembali ke kelas. Berkali-kali pula Shabita mengirim pesan untuk suaminya tapi tidak dibalas.


Bel jam pulang pun berbunyi. Shabita mengambil tas Galang yang tertinggal di kelas. Shabita juga menolak ajakan Rio untuk pulang bersama.

__ADS_1


Saat ini dalam hati Shabita ada rasa sesal yang amat dalam. Sudah dapat dipastikan bahwa suaminya telah kecewa padanya.


__ADS_2