Jodoh Si Ketos

Jodoh Si Ketos
Episode 44


__ADS_3

Galang tidak berhasil mengejar istrinya. Shabita berlari masuk ke dalam kelas setelah berkeliling lapangan. Untung saja kelas mereka ada di lantai satu, gak kebayang kalo ada di lantai tiga bisa-bisa gempor tuh kaki.


Hos Hos Hos!


Deru napas Shabita ngos-ngosan. Gadis cantik istri Galang itu duduk di bangkunya.


"Hah," Shabita menyenderkan kepala ke kursi.


Tak selang berapa lama sang suami masuk juga dengan keadaan tak jauh berbeda dari Shabita. Murid yang ada di kelas memandang aneh keduanya yang terlihat seperti habis lari marathon.


"Capek gak?" Galang duduk di kursi yang biasa ditempati Hanin.


"Enggak!" kelit Shabita. Napasnya masih belum teratur.


"Dih bilang enggak tapi engap-engapan kaya ikan kekurangan air." ledek Galang.


"Udah tau malah nanya!" sahut Shabita.


Galang melihat buliran keringat membasahi Poni Shabita.


"Makanya jangan macem-macem!" peringat Galang.


"Ekhmmm!" deheman seseorang menghentikan perbincangan mereka.


"Udah kali bucin-bucinan nya, gak kasian apa sama kita yang masih jombi." cibir Kevin.


"Nih, minum! Kalian pasti capek kan abis indiaan?" Amir memberikan sebotol minuman.


"Kok, cuma satu botol sih? Buat aku mana?" protes Shabita.


"Itu berdua sama si Galang." sahut Amir.

__ADS_1


"Gak mau ah!" tolak Shabita.


"Tenang, si Galang gak rabies kok cuma gila aja." timpal Kevin sembari memiringkan tangannya di dahi.


"Mulut lo ya minta di setrum belut listrik!" sewot Galang.


"Aw tatut!" Kevin memasang wajah ketakutan.


Galang mendelik kesal ke arah kedua sahabatnya.


"Nih minumnya buat kamu aja, aku nanti beli di kantin." Galang membukakan tutup botol airnya. Duh Sweet banget sih Galang.


"Eh, bentar bentar. Kok kedengerannya kaya ada yang beda ya?" Amir melebarkan kupingnya sedang Kevin mengarahkan kupingnya ke dekat Galang.


"Seperti ada yang manggil aku-kamu tapi bukan ayah-bunda." goda Kevin.


"Ho'oh. Dunianya bukan lo-gue lagi, guys!" tambah Amir.


Plak! Plak!


"Si bege ancamannya begituan. Gak asik ah!" rajuk Kevin.


"Udah mah kita jombi terus gak masuk pengurus OSIS lagi, makin gak ada lah cewek yang suka sama kita. Tega banget lo, Lang. Hiks!" Amir pura-pura sedih.


Galang memutar bola matanya jengah. sedangkan istrinya sedari tadi malah terkikik.


"Puas lo?!" Galang mengacungkan kepalan tangannya.


"Ampuuuuunn!" Amir dan Kevin berlari ke bangkunya seraya tertawa. Puas sekali rasanya menggoda Galang yang mulai bucin.


Dari arah pintu datang Tiara dengan raut wajah kesal melihat Galang dan Shabita duduk berdua. Tiara melempar tasnya ke meja dengan kasar. Galang sama sekali tidak peduli.

__ADS_1


"Lang, Tiara suka sama kamu ya?" tanya Shabita.


"Mana aku tau." Galang malas menjawab perihal Tiara.


"Jangan bohong. Kalo bohong matanya bintitan sebelah." sahut Shabita.


"Yang bintitan itu kalo suka ngintip bukan bohong!" decak Galang.


"Kok kamu tau sih, Lang? Kamu suka ngintip ya?" tuduh Shabita.


"Ya e-enggak lah. Mana ada aku ngintip-ngintip." Galang mengibas-ngibas tangannya.


"Bohong itu, Bit. Si Galang ini doyan banget ngintipin janda pirang yang warungnya samping sekolah kita!" Kevin memprovokasi Shabita.


"Jadi beneran, Lang?" dengan polosnya Shabita bertanya seolah-olah percaya ucapan Kevin.


Di bangku belakang sana dua laki-laki sedang tertawa puas melihat Galang gelagapan.


"Diem lo!" Galang melemparkan buku yang ada dikolong meja Shabita.


"Wah Galang ternyata selera mu janda pirang!" Shabita terkekeh.


"Ish, enggak!" sewot Galang. Wajahnya berubah kesal karena ulah ketiga orang itu.


"Abit!" panggil Hanin yang baru datang. Di tangan Hanin terdapat sebuah bucket bunga mawar cantik sekali.


"Hanin, bunganya cantik banget." kagum Shabita.


"Ini bunga gue nemu di atas loker lo! Disana ada pesannya yang ditujukan buat lo." Hanin memberikan bunganya. Shabita membaca pesan yang tertulis disana yang hanya ada kalimat 'Pengagum rahasia mu!' dan ada nama Shabita nya.


Galang merebut kasar bunga yang sedang disesap harumnya oleh sang istri. Mode cemburu Galang muncul, lantas Galang membuang bunga itu ke tempat sampah.

__ADS_1


"Lang, kenapa dibuang sih? sayang banget kan bunganya cantik gitu," Shabita mengerucutkan bibirnya.


"Nanti aku beliin sekalian sama kebonnya!" ucap Galang enteng.


__ADS_2