Jodoh Si Ketos

Jodoh Si Ketos
Episode 36


__ADS_3

"Kenapa papa malah nyalahin Galang, sih?" tanya Galang.


"Ya karena kamu pulang duluan Shabita jadi nangis."


"Apa hubungannya sih Pa, Galang yang balik duluan dengan Shabita nangis?"


"Ya tentu saja ada. Shabita merasa bersalah karena gak bisa cegah kamu balik." Bagas melihat pangkal hidungnya yang mendadak pening.


"Cih merasa bersalah," decih Galang.


"Gak usah sok peduli deh. Kalo emang punya niat untuk cegah aku balik harusnya pas di rumah dong bukan pas udah aku ke stasiun. Ya tapi ya sudahlah ya orang dia nya sendiri sibuk mesra-mesraan sama cowok lain!" ungkap Galang dengan menyunggingkan senyumnya sebelah bibir.


"Kamu cemburu?" tanya Bagas melihat ekspresi Galang.


"Buat apa aku cemburu, Pa? Aku hanya merasa jijik aja sama perempuan murahan kaya gitu. Di depan suaminya sendiri sudah berani apalagi kalo jauh dari aku, mungkin lebih dari itu." tutur Galang.


"Galang, cukup!" bentak Bagas.


"Loh kenapa papa bentak Galang sih?" sewot Galang tidak terima.

__ADS_1


"Kamu istri sendiri dijelek-jelekin..."


"Bukan dijelek-jelekin, Pa, emang itu kenyataannya. Bukan sekali dua kali aku mergoki dia jalan sama cowok bahkan mesra tapi sering, Pa. Menurut papa, apa itu istri yang baik?" ucap Galang emosi.


Prang!


Gelas yang dipegang Shabita pecah, jatuh dari genggamannya.


Bagas dan Galang cukup kaget melihat Shabita sudah berdiri tidak jauh dari sana. Tanpa berkata, Shabita membereskan pecahan gelas kemudian membuangnya ke tempat sampah. Setelahnya Shabita kembali ke kamar.


"Bicarakan baik-baik masalah kalian!" pesan Bagas sebelum berlalu meninggalkan Galang.


"Akh!" Galang meremas rambut frustasi.


Pluk! Pluk! Pluk!


Air mata Shabita jatuh membasahi bukunya. Ternyata Shabita tidak bisa kuat menahan diri, ucapan Galang yang menganggapnya murahan itu cukup menyakiti hatinya.


"Ma, Pa, aku rindu kalian!" Shabita menangis tergugu sambil terduduk di meja belajar.

__ADS_1


Ketika Galang masuk, Shabita buru-buru menghapus jejak air matanya lalu melanjutkan aktivitas belajarnya.


Galang beranjak ke ranjang tanpa berkata apa pun pada istrinya. Mereka seolah tidak menganggap satu sama lain.


Beberapa saat kemudian, Shabita memberanikan diri untuk berbicara dengan Galang yang masih sibuk maen game.


"Lang, kalo kamu ada waktu aku mau ngomong sesuatu!" Shabita menghampiri Galang lalu duduk di tepi ranjang. Galang tidak menyahut atau pun menoleh pada sang istri.


Shabita merasa canggung dan tidak nyaman dengan keadaan seperti ini.


"Lang, aku mau membatalkan perjanjian pra-nikah kita!" ucap Shabita.


Gerakan jari Galang berhenti, laki-laki itu menoleh pada Shabita yang duduk dengan tatapan hampa.


"Aku gak bisa nunggu sampe 6 bulan, aku ingin mengakhiri semuanya sekarang. Toh, mama dan papa ku juga sudah tidak ada jadi mereka tidak akan marah kalo aku memintai kita berpisah." Shabita menghela napas sejenak.


"Ayo kita cerai, Lang!" tambah Shabita.


Galang masih diam, tidak mengeluarkan ekspresi apa pun. Kaget sudah pasti. Galang tidak menyangka bahwa Shabita akan mengakhiri hubungannya secepat itu.

__ADS_1


"Besok aku mau pindah ke rumah papa lagi, Untuk papa Bagas biar nanti aku yang jelasin, kamu gak usah khawatir!" tutur Shabita.


Galang masih belum. berbicara. matanya menatap sang istri dengan tatapan yang sulit diartikan.


__ADS_2