
"Suasana disini bikin nyaman ya," ucap Shabita.
"Seger dingin gitu," lanjut Shabita.
"Iya, bikin betah apalagi ciwi-ciwinya!" balas Amir.
"Cewek mulu yang lo pikirin," timpal Galang.
"Jomblo macam gue apalagi coba yang dipikirin kalo bukan cewek, ya sama aja sih kaya yang onoh!" Amir menunjuk Kevin dengan dagunya.
"Apaan sih lo, gaje banget jadi makhluk." sergah Kevin.
Mereka sedang duduk di gazebo pinggir kolam ikan. Dibelakang villa mereka ada hamparan sawah milik warga. Suara katak bersahutan seolah mengiringi malam mereka.
"Tuh katak gak serak apa ya? Bunyi terus dari tadi," seloroh Amir.
"Suara lo aja gak serak yang ngemeng mulu dari tadi," timpal Galang.
Dihadapan mereka ada singkong goreng beserta teh manis hangat yang dibuatkan sesuai permintaan Galang. Katanya biar berasa suasana kampungnya.
"Suara gue fals kalo gak dipake ngomong!" tukas Amir.
"Emang suara lo udah fals dari sananya, Onta!" ucap Kevin sambil mengunyah singkong goreng.
__ADS_1
"Udah ah jangan ribut terus, kita nikmati suasana malam ini!" lerai Shabita.
"Kalian sih enak kalo kedinginan bisa saling menghangatkan, lah gue?" keluh Amir.
"Ya lo peluk aja si Kevin." ledek Galang sambil terkekeh.
"Najong banget," protes Amir.
"Lagian siapa juga yang mau peluk lo, anjay?!" tanya Kevin kesal. Sebenarnya mereka biasa bercanda tapi nada Kevin serasa berbeda.
"Vin, biasa aja dong lo. Lagi PMS lo?" balas Amir tidak mau kalah.
"Atau lo kangen sama Tiara?" lanjut Amir. Kevin diam, mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Keesokan harinya, Bagas sudah siap untuk mengucapkan janji suci pernikah bersama ibu anaknya. Bagas berdiri di depan cermin besar sembari memperhatikan penampilannya yang mengenakan pakaian pengantin khas sunda.
"Mey, hari ini Mas akan menikah dengan Marni. Dia wanita yang tepat untuk mendampingi Mas setelah mu. Mas akan membuat Marni bahagia, menebus semua kesalahan kita dimasa lalu." monolog Bagas. Dia tersenyum memantaskan hatinya untuk menyambut kebahagiaan yang baru.
Setelah semua siap, rombongan Bagas kembali menuju rumah Marni.
"Sayang, apa yang kamu rasain pas mau nikah dengan ku?" tanya Shabita.
Mereka berangkat satu mobil denga Bagas.
__ADS_1
"Waktu itu deg-degan sama kesel juga sih," aku Galang.
"Kok kesel sih?" bibir Shabita sudah cemberut.
"Kan waktu itu kita nikah paksa sayang, jadi belum ada cinta yang disadari." ungkap Galang mengusap lembut tangan istrinya.
"Kalo sekarang aku udah cinta mati sama kamu!" lanjut Galang. Bibir Shabita perlahan mundur, tidak monyong lagi.
"Tapi aku sempet terpesona sih sama kamu waktu itu," kekeh Galang yang membuat bibir Shabita tersenyum.
"Berarti kamu udah jatuh cinta dong sama aku?" tanya Shabita.
"Kayaknya udah deh. Seperti yang suka disebut si Onta kalo aku Sebenernya udah jatuh cinta sama kamu pas kita ketemu pertama kali cuma ya aku gengsi aja buat ngaku makanya aku sering gangguin kamu supaya kamu notice aku. Ya rada b*go juga sih gak sadar sama perasaan sendiri." aku Galang.
"Tapi kamu suka ketus sama aku sampai pernah kamu sebut aku perempuan gak bener." timpal Shabita. Dia menatap Galang.
"Itu karena aku cemburu sayang, kamu peluk-pelukan sama cowok lain di depan aku." Galang mengucapkannya tanpa kebohongan.
"Makanya jadi cowok jangan cemburuan," Shabita mencubit pinggang Galang.
"Sayang, sakit. Kebiasaan suka cubit-cubit gitu, aku cubit balik nih itu nya!" arah mata Galang menatap bagian yang menonjol pada tubuh istrinya.
"Enak aja, ini aset aku untuk anak-anak nanti!" Shabita menutup dadanya dengan telapak tangan.
__ADS_1
"Ekhmmm," suara deheman Bagas menyadarkan pasutri kencur bahwa di dalam mobil mereka tidak hanya berdua melainkan ada Bagas juga sopir. Shabita menunduk malu, menelusuapkan wajahnya dilengan Galang sedangkan Galang tertawa melihat istrinya.