
Sudah hampir satu jam, Shabita menunggu Galang di parkiran. Wanita berponi itu bersandar berdiri pada mobil Galang dengan memeluk tas Galang.
Shabita melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 4 sore. Sesekali Shabita mengusak-ngusak sepatunya ke tanah untuk mengusir rasa bosan.
"Galang kemana sih?" mata Shabita mengitari sekeliling parkiran. Disana juga masih terparkir motor Kevin dan Amir. Sekolah belum sepi karena ada beberapa murid yang masih mengikuti eskul.
Sekitar 15 menit kemudian, Galang beserta and the genk menuju parkiran.
"Galang." mata Shabita berbinar melihat suaminya berjalan ke arahnya. Shabita menyambut Galang dengan senyuman.
"Kenapa belum pulang?" tanya Galang dingin.
"Nungguin kamu." aku Shabita.
"Ciee yang udah ditungguin. Padahal tinggalin aja si Galang kampret ini, marah-marah mulu pas meeting kayak cewek PMS." adu Kevin.
"Nah bener tuh. Tolong ya dijinakin biar gak keluar terus tanduknya." Amir bergidik ngeri.
"Mulut lo berdua bisa diem gak?" sewot Galang.
"Wiissshh selow dong lo. Ngegas mulu lo kaya tukang balon." sahut Kevin.
"Eh bege, apa hubungannya gas sama tukang balon?" Amir menggeplak bahu Kevin.
"Tukang balon gas maksud gue." imbuh Kevin.
__ADS_1
"Berisik lo berdua. Lama-lama gue jejelin juga nih sepatu." Galang hendak membuka sepatunya.
"Ampun suhu!" ucap Kevin dan Amir serempak seraya berlari ke arah motor mereka.
Galang merapikan sepatunya kembali lalu masuk ke arah kemudi tanpa menghiraukan istrinya. Shabita mencebikkan bibirnya melihat itu.
"Mau ikut pulang gak?" Galang membuka kaca mobilnya.
"Iya iya." Shabita masuk ke dalam mobil. Tas Galang masih dipeluknya tanpa sadar.
Sepanjang perjalanan hanya ada hening diantara mereka. Shabita sesekali melirik suaminya yang judes sambil fokus menyetir. Jujur saja, Shabita tidak nyaman dengan situasi ini tapi bingung harus memulai dari mana.
Sesampainya di rumah Galang masih dingin. Tidak berbicara sedikitpun pada istrinya. Bahkan Galang sampai tidak ikut makan malam. Shabita semakin bingung dengan sikap Galang yang kembali ke setelan pabrik.
"Apa ini gara-gara aku ya? Tapi apa?" gumam Shabita seraya mengaduk makanannya. Kebetulan Bagas juga belum pulang, alhasil Shabita hanya sendirian di meja makan.
"Kenapa, non?" Marni yang datang dari arah laundry room bertanya pada Shabita yang tampak bengong.
"Eh, mbak. Gak papa, mbak." jawab Shabita.
"Aduh jangan bohong sama mbak, kalo ada apa-apa cerita aja, siapa tau kan mbak bisa bantu." ujar Marni.
"Hem gimana ya, mbak. Bingung aku juga." Shabita menggaruk dahinya yang emang gatal.
"Pasti ini ada masalah sama den Galang, ya?" tebak Marni.
__ADS_1
Shabita dengan ragu-ragu mengangguk kecil.
"Sudah mbak duga." Marni tersenyum bangga.
"Galang dari tadi marah-marah mulu, mbak. Dingin banget lagi sikapnya sama aku." keluh Shabita.
"Hem, apa ada hal yang bikin den Galang marah gitu?" Marni mengusap-usap dagunya.
"Gak tau deh, mbak. Tadi di sekolah setelah aku dapet coklat dari Rio, Galang jadi marah gitu lah." jelas Shabita.
"Aha, mbak tau alasannya kenapa den Galang begitu." Marni menaik turunkan alisnya sebelah.
"Kenapa, mbak?" Shabita penasaran.
"Sini mbak bisikin."
Shabita mengarahkan telinganya mendekati mulut Marni. Mata Shabita melotot mendengar penuturan Marni.
"Masa iya, sih mbak?" tanya Shabita setelah Marni selesai berbisik.
"Gampang buat bujuk den Galang mah, lakuin aja saran mbak." Marni mengacungkan jempolnya.
"Hm baiklah."
Selesai mengerjakan saran dari Marni, Shabita lantas tidur di sofa lagi. Sungkan rasanya tidur seranjang dengan Galang yang sedang dingin.
__ADS_1
Sekitar tengah malam, Galang terbangun karena merasa lapar. Dilihatnya sang istri tidak tidur disampingnya. Galang bertambah kesal.
Mata Galang kemudian menangkap sebuah kotak makan diatas nakas. Insting Galang yang sedang lapar menuntun untuk mengambil kotak tersebut. Diatasnya ada secarik kertas yang bertuliskan 'Maaf, jangan ketus terus nanti bintitan atau bisa jadi kudisan Hehee. Semoga kamu suka ya!'. Galang kemudian membuka kotak makannya. Sungguh Galang terkejut melihat isi kotak makan tersebut.