
Sesuai yang telah direncanakan, mereka mengantar kepergian Tiara sampai bandara.
"Guys, makasih ya, kalian udah mau jadi temen gue." ucap Tiara.
"Sama-sama, Ra. Kamu baik-baik ya disana. Jangan lupain kita!" pesan Shabita sambil memeluk Tiara.
"Iya, gue gak akan lupain kalian." Tiara mengurai pelukannya.
"Kalo kamu balik ke sini jangan lupa kasih tau kita, biar kita bisa kumpul lagi." pinta Shabita.
"Iya pasti. Kalian juga baik-baik ya, gue pasti kangen sama kalian." mata Tiara berkaca-kaca.
"Iya, Ra. Lo harus bisa jaga diri disana," pesan Amir.
"Aaaaa makasih, Amir." Tiara memeluk Amir sejenak hingga membuat Amir mematung. Matanya melotot.
"Jangan lama-lama!" ketus Kevin yang sedari tadi diam saja. Tiara melepas pelukannya.
"Yaelah, Vin. Baru juga gue merasakan dipeluk cewek, udah lo larang aja!" protes Amir. Bibirnya sudah mencebik.
"Ra, si Kevin mau dipeluk juga tuh!" timpal Galang.
"Gak usah!" tolak Kevin. Tiara baru saja merentangkan tangannya untuk memeluk Kevin tapi sudah ditolak duluan.
"Iya. Kalo gitu gue pamit ya!" pamit Tiara. Akhirnya mereka berpisah. Ada hati yang merasa sakit melihat Tiara pergi yang entah kapan kembali.
Tiara berusaha ikhlas jauh dari teman-temannya. Ini semua demi kebaikannya. Mama nya sudah berjuang agar keluarganya bangkit kembali dan mencoba meninggalkan kenangan pahit. Semoga saja dia akan mendapatkan kebahagiaan di tempat yang baru, harap Tiara.
Tiara melambaikan tangannya sebelum benar-benar pergi.
"Sedih banget ya, padahal aku baru punya temen!" Shabita mengusap air matanya yang keluar.
__ADS_1
"Jangan nangis lagi sayang, masih ada aku. Kamu gak akan kesepian di sekolah." Galang mengusap lembut jejak air mata istrinya di pipi. Shabita mengangguk. Sementara Kevin menatap nanar kepergian Tiara.
'Semoga lo bahagia, Ra!' batin Kevin.
...****************...
"Sayang, nanti kita di kampung berapa hari?" tanya Shabita.
"Kayaknya gak lama deh, soalnya papa mau bulan madu." sahut Galang yang sedang santai di sofa sembari main games.
"Wih seru juga ya," cicit Shabita. Galang berhenti main game lalu mendekat ke arah istrinya yang sedang packing baju.
"Gimana kalo kita bulan madu juga, sayang?" usul Galang. Shabita menatap Galang.
"Bareng papa?"
"Iya, barengan aja biar seru!" saran Galang lagi.
"Tapi kemana dulu?" tanya Shabita.
"Ada deh, kamu sama mama terima beres pokoknya!" Galang mengecup pipi Shabita yang mengembang karena cemberut.
"Pokoknya kamu pasti suka!" ucap Galang lagi.
"Kasih tau, dong. Aku penasaran banget!" cicit Shabita.
"Enggak. Kamu terima beres!" kekeh Galang.
"Dasar pelit!" umpat Shabita kesal.
"Dih istri ku yang cantik ngambek!" Galang mencubit gemas hidung Shabita.
__ADS_1
"Jangan pegang-pegang!" tolak Shabita galak.
"Kamu tuh semakin galak semakin menggoda!" bisik Galang penuh makna di telinga istrinya.
"Arghhh Galang, gak mau!" ronta Shabita. Tubuhnya sudah dihempaskan ke kasur oleh Galang.
Di tempat lain, Marni sedang melihat para WO bekerja mendekor rumahnya. Beruntung jalanan rumah Marni cukup luas jadi bisa dipakai acara. Sebelumnya Marni sudah pulang duluan ke Ciamis, besok Bagas dan keluarganya akan menyusul sekaligus lamaran.
Semua sudah diatur oleh Bagas, Marni dan keluarganya cukup duduk manis saja. Rencananya acara mereka akan digelar 3 hari 3 malam. Bapak Marni sempat meminta diadakan acara hiburan, tentu saja Bagas setuju. Baginya hal itu sangat mudah.
"Alhamdulillah, Marni nikah oge nya!" salah satu tetangga menghampiri Marni yang sedang duduk di teras.
"Alhamdulillah," balas Marni dengan senyuman.
"Tah kitu atuh Marni, kawin biar teu jadi perawan kolot!" timpal tetangga satu lagi. Mereka berdua, Marni sendiri.
'Aku teh udah punya anak ya, ganteng lagi. Udah punya mantu yang cantik juga!' tentu saja itu hanya terucap dalam hati. Biarlah mereka tahu nanti setelah Galang datang.
"Iya ceu," Marni masih membalas senyumnya.
"Atuh da kamu mah gawe teh meni kebablasan. Tuh lihat si Ina udah punya cucu, padahal umurnya dibawah kamu!" tutur si ibu 1.
"Iya kan dia mah nikahnya masih kecil, ceu." sahut Marni.
"Alus, tandanya dia laku. Gak seperti kamu!" cibir ibu 1.
Marni hanya geleng-geleng kepala mendengarnya. Sudah hal biasa Marni mendengar itu manakala pulang ke kampung, makanya dia jarang sekali pulang. Omongan tetangga lebih pedas dari carolina reaper.
"Pasti salaki na si Marni mah aki-aki!" nyinyir ibu 2.
Sungguh mereka bukan lagi ngomongin di belakang tapi didepan orangnya langsung. Orang seperti itu jika diladenin akan terus mengorek hal negatif, jadi lebih baik biarkan saja. Biar mereka lihat sendiri nanti.
__ADS_1