Jodoh Si Ketos

Jodoh Si Ketos
Episode 79


__ADS_3

Shabita dan Galang sudah kembali lagi ke ibu kota. Sekolah juga sudah masuk. Saatnya Galang disibukkan dengan laporan acara ulang tahun kemarin.


Seluruh sekolah tahu tentang penculikan Shabita tapi tentang Hanin mereka tidak tahu.


Saat jam istirahat di kantin, Shabita bersama suami juga duo kucrut duduk makan dimeja yang sama. Selain Hanin, Shabita tidak punya teman dekat lain.


"Sayang, kenapa melamun sih?" tanya Galang, melihat Shabita hanya melamun sambil mengaduk-aduk makanannya.


"Aku kepikiran Hanin." jujur Shabita.


"Yaelah, orang jahat begitu masih aja lo pikirin." sergah Kevin dengan mulut penuh makanan.


"Biar bagaimana pun dia satu-satunya teman aku," ucap Shabita.


"Lah kita apa dong? Kita juga kan temen ko," timpal Amir.


"Ya bedalah, kalian cowok. Mana bisa masuk toilet sama-sama." sungut Shabita.


Entahlah kenapa tidak ada yang mau berteman dengan Shabita padahal selama ini dia baik, tidak pernah bully orang.


"Tenang sayang, kan masih ada aku!" sahut Galang.


"Hehhe itu pasti." Shabita mengenyahkan pikiran aneh-anehnya.


"Nanti juga lo punya teman cewek kok, tenang aja." hibur Kevin.


Suara riuh terdengar dari meja lain, perhatian mereka ikut tertarik kesana.

__ADS_1


"Woy, ada anak koruptor nih!" seru Vanya.


"Enggak. Bokap gue bukan koruptor." sangkal Tiara.


"Halah, mau lo sangkal beribu kali pun fakta membuktikan kalo bokap lo itu koruptor!" Timpal Gadis.


"N*jis banget kan di sekolah kita tercemar karena di koruptor itu." Rachel mendelik jijik.


"Lo kalo gak tau faktanya jangan ngeb*cot gak jelas." bentak Tiara.


"Heh, mau sampai kapan lo gak ngaku Hah? Lo pikir kita bego apa, gak tau kalo lo sekarang jatuh miskin." Vanya menoyor bahu Tiara.


"Selama ini lo sok kaya padahal dari duit hasil nyolong." tambah Vanya lagi.


"Gak sudi banget kita harus punya temen miskin, anak koruptor kayak lo. Enyah lo dari hadapan kita." usir Gadis.


Vanya menarik paksa Tiara yang sedang duduk hingga Tiara tersungkur.


"Mampus, lo. Akhirnya lo ngerasain apa yang dulu gue rasain." ucap seorang siswi.


"Mati aja lo sekalian, gak bakalan ada yang nolong lo."


"Huuuuuh dasar anak koruptor!"


"Pergi lo dari sekolah kita!"


"Gue doain lo merasakan yang lebih sakit dari apa yang lo lakuin dulu!"

__ADS_1


"Huuuuuuuuuhhhh!"


Tubuh Tiara dilempari dengan sampah bekas minuman, cemilan bahkan ada yang melemparnya pakai bakso. Semua cacian yang pernah dia lontarkan dulu kini balik padanya.


Tiara hanya bisa tertunduk merasa pilu. Menyesal karena dahulu sikapnya tidaklah baik. Air mata Tiara sudah lolos. Kini Tiara tidak kekuasaan apapun atau punya orang yang membelanya.


"Ra, kamu gak papa?" tanya Shabita, masuk ke kerumunan orang yang memaki Tiara.


"Wow Wow Wow, ada yang mau jadi pahlawan nih!" Vanya bertepuk tangan. Shabita membantu Tiara berdiri. Badan Tiara sudah basah terkena berbagai minuman, gadis itu pula terisak. Shabita sungguh merasa tidak tega.


"Hey lo anak baru yang kecentilannya level naudzubillah, jangan ikut campur lo atau lo mau juga kaya Tiara?" sinis Gadis.


Shabita tidak menggubris. Dirinya sibuk menyeka wajah Tiara dengan tisu.


Sebenernya Geng Tiara tidak tahu siapa keluarga Shabita, mereka menganggap Shabita hanya gadis biasa karena Shabita sendiri tidak ingin terlihat menonjol.


"Yuks, Ra, kita ke toilet bersihin dulu badan kamu." ajak Shabita.


"Heh tidak secepat itu ya!" Gadis menahan tangan Shabita.


Dengan sekali gerakan Shabita mampu memutar tangan Gadis. Mereka rupanya tidak ingat kejadian dulu.


"Aw Aw sakit!" ringis Gadis karena tangannya dipelintir Shabita.


"Hai preman Lepasin tangan temen gue!" bentak Vanya. Shabita memutar bola mata jengah. Sekali hempasan, Gadis tersungkur.


"Awas lo, ya. Gue laporin guru BK!" ancam Rachel, membantu Gadis berdiri.

__ADS_1


Shabita sama sekali tidak gentar, digubris pun enggak ancaman mereka. Lalu Shabita melenggang pergi membawa Tiara.


Semua orang yang ikut menyaksikan membubarkan diri.


__ADS_2