Jodoh Si Ketos

Jodoh Si Ketos
Episode 21


__ADS_3

Galang melajukan mobilnya ngebut. Tangannya mengepal kemudi mobil cukup kuat. Entah kenapa Galang tidak suka Shabita semakin dekat dengan Rio.


Kekesalan Galang bertambah manakala panggilan telponnya tidak dijawab oleh Shabita.


"Sialan!" umpat Galang. HP nya dilempar ke jok sampingnya.


Tak sampai setengah jam, mobil Galang sudah sampai di rumahnya. Laki-laki yang memiliki paras rupawan tersebut turun dengan gegas.


Di rumah yang megah itu tampak sepi seperti tidak ada kehidupan. Galang melangkahkan kaki jenjangnya menuju lantai dua, lebih tepatnya kamar mereka.


Setelah pintu kamar terbuka, Galang tidak menemukan Shabita. Raut wajah Galang semakin terlihat emosi. Jika dipikir-pikir untuk apa Galang sampai emosi seperti itu hanya karena Shabita tidak pulang bersamanya. Toh, selama ini Galang tidak peduli, kan?!


"Kemana sih tuh cewek?" gerutu Galang. Kakinya kembali melangkah keluar kamar.


Tadi Galang sempat mengecek perlengkapan sekolah Shabita yang belum ada, itu berarti istrinya belum sampai rumah.


Galang menemui Mbak Marni yang sedang sibuk di dapur.


"Mbak, Shabita udah pulang?" tanya Galang.


"Loh? Bukannya kalian pulang bareng?" Mbak Marni yang sedang memotong wortel tampak bingung.

__ADS_1


"Ck! Tadi dia pulang duluan." jawab Galang.


"Kenapa gak pulang bareng? Nanti dimarahi bapak loh." Mbak Marni menunjuk Galang dengan pisau yang dipegangnya. Sontak Galang mundur dua langkah.


Mbak Marni yang melihat majikannya sedikit takut langsung minta maaf.


"Maaf maaf, den. Mbak refleks." tutur Mbak Marni.


"Jangan maen pisau gitu lah, mbak." peringat Galang sembari memutar tubuhnya meninggalkan dapur.


"Kemana sih tuh cewek ngelayabnya? Nyusahin aja. Kalo papa tau bisa marah ini!"


...****************...


Di kediaman orang tua Shabita, Sandra sedang sibuk memasukkan beberapa pakaiannya ke koper.


"Ma, kenapa harus ke Bandung lagi sih?" rengek Shabita.


"Kerjaan papa kamu kan gak bisa ditinggal lama-lama disana." ungkap Sandra tenang.


"Tapi kan disana banyak orang kepercayaan papa, Kalian tinggal disini aja sama aku. Aku gak mau tinggal sendirian." Shabita bergelayut manja pada tangan Sandra padahal mama nya sedang packing.

__ADS_1


Sandra menatap putrinya, tangannya mengelus rambut panjang Shabita.


"Sayang, disini kamu tidak sendirian. Ada Galang, suami kamu. Ada juga Bagas, mertua kamu. Mereka sudah jadi keluarga kamu juga. Nanti mama dan papa bakalan sering kesini." ungkap Sandra.


Bibir Shabita sudah cemberut. Berat rasanya harus berjauhan dengan orang yang disayang. Terlebih orang tuanya begitu memanjakan Shabita.


Gadis cantik itu tidak yakin bahwa hidupnya akan baik-baik saja jika mereka saling berjauhan.


"Ma, aku mau pindah lagi ke Bandung ya, please!" melas Shabita.


Sandra menggelengkan kepala dengan senyum mereka dibibir pucatnya.


"Sayang, selama ini mama dan papa tidak pernah nuntut kamu ini dan itu tapi kali ini kami menuntut untuk kamu tetap disini. Mama yakin kamu akan baik-baik aja disini. Mama juga udah tenang karena kamu ada yang jagain, yaitu Galang." mata Sandra mulai berkaca-kaca. Hati ibu mana yang tega meninggalkan anaknya kendati dia sudah dewasa. Perasaan khawatir pasti akan selalu ada namun ini semua dilakukan untuk melatih Shabita supaya terbiasa jauh dari kedua orangtuanya.


"Ma, aku mau ikut kalian!" kali ini Shabita tidak bisa menahan air matanya. Shabita menghambur ke pelukan Sandra seraya menangis tersedu-sedu.


"Ma, jangan tinggalin aku sendirian disini. Aku mau ikut lagi ke Bandung, disini aku takut tidak ada yang menyayangiku tulus seperti sayangnya kalian. Hanya bersama kalian aku selalu merasa aman, please jangan tinggalin aku sendiri disini." tutur Shabita disela-sela tangisannya.


Sandra tidak kuat mendengarkan itu semua, lantas kedua wanita tersebut menangis bersama dengan saling berpelukan.


Dibalik pintu kamar Sandra, Galang menyaksikan semuanya.

__ADS_1


__ADS_2