Jodoh Si Ketos

Jodoh Si Ketos
Episode 45


__ADS_3

"Ya tapi gak dibuang juga, Lang." protes Shabita. Menurutnya sayang sekali bucket secantik itu harus dibuang.


"Nanti aku beliin. Jangan protes lagi." tegas Galang. Bibir istrinya maju 5 cm.


Hanin yang baru datang memandang aneh keduanya.


"Kalian?" tanya Hanin curiga.


"Iya, Nin. Saran kamu aku jalani." Shabita mengembangkan senyumnya.


"Aaahhh selamat ya!" Hanin memeluk Shabita. Hanin senang karena mereka tidak jadi pisah.


"Lang, dipanggil pembina OSIS tuh!" seorang murid dari kelas lain masuk menghampiri Galang.


"Oh iya, thanks!" ucap Galang. Murid tersebut kembali keluar kelas.


"Aku kesana dulu, ya. Awas loh jangan diambil lagi bunganya!" pesan Galang sembari mengusak poni Shabita.


"Iya ih, malah rusakin poni." Shabita merapikan poninya kembali.


"Cieeee, kiw kiw." goda Kevin dan Amir.


"Apaan sih?" pipi Shabita merona merah diperlakukan semanis itu oleh suaminya. Galang berlalu untuk menemui pembina OSIS.

__ADS_1


Hingga guru pelajaran pertama masuk, Galang belum kembali lagi ke kelas.


Sementara di ruang Pembina OSIS sedang terjadi meeting dadakan.


"Ini kenapa bisa terjadi sponsor pada mundur gini?" tanya Pak Chandra, selaku pembina OSIS.


"Kita juga gak tau, pak. Tiba-tiba saja mereka meminta dana yang sudah diberikan." jelas Tim Humas.


"Lang, apa kamu gak pantau ini semua?" tanya pak Chandra.


"Kemaren kita meeting baik-baik aja. Saya juga sering tanya sama mereka yang bertanggungjawab soal itu dan memang semua lancar." tutur Galang.


"Iya, pak. Gak ada masalah kok." tambah tim Humas.


"Baik, pak. Kita akan berusaha bujuk mereka." ucap tim Humas.


"Lang, nanti sepulang sekolah kita adakan meeting lagi untuk mengevaluasi sejauh mana persiapan kita." kata pak Chandra.


"Baik, pak. Saya akan share di grup OSIS." sahut Galang.


"Ya sudah, sekarang kalian kembali ke kelas."


Galang juga tim Humas kembali ke kelas masing-masing. Pikiran Galang berputar mencerna masalah ini. Menurut Tim Humas, sponsor yang satu ini tidaklah sulit untuk diajak kerjasama namun tiba-tiba mereka membatalkan pasti ada hal yang tidak beres. Padahal kalau Galang mau, bisa saja dia meminta Bagas untuk berdonasi tapi Galang ingin hasil dari kerja keras mereka bukan hasil dari privilege.

__ADS_1


Galang masuk ke kelas kendati sebentar lagi pelajaran pertama akan berakhir. Galang menjelaskan pada gurunya perihal dia masuk telat, sang guru pun memahami dan mengizinkan Galang mengikuti pelajarannya.


Wajah Galang terlihat lesu. Ada rasa takut dalam dirinya jika nanti acara tidak sesuai yang telah direncanakan bahkan mungkin saja bisa batal. Ditambah lagi pak Chandra sempat bilang kalau sponsor lain bisa saja ikut mengundurkan diri sedangkan dana yang diperlukan untuk acara itu tidaklah sedikit.


Galang duduk dibangkunya. Shabita menoleh ke arah Galang. Rasa penasarannya ia simpan dulu sampai pelajaran selesai.


Berkali-kali Shabita melirik ke arah Galang dan terlihat suaminya tampak melamun. Fiks Shabita tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya hingga pelajaran usai.


Shabita mengambil HP nya yang diletakan di tas kemudian menyembunyikannya dibalik buku supaya tidak ketahuan. Lantas Shabita mengirimkan pesan pada nomor yang belum ada namanya, itu adalah nomor Galang.


["Kamu kenapa?"] tanya Shabita.


Setelah mengirim pesan, Shabita menoleh ke arah Galang lagi. Suaminya masih diam saja.


"Ish kenapa gak dibuka sih?" gerutu Shabita pelan.


["Heh Galang resek, kamu kenapa sih melamun terus? ada masalah apa?"]


Lagi-lagi Galang masih belum terlihat membuka HP nya. Shabita mulai geram.


["Woy balas napa!"] geram Shabita kemudian mengirim pesan beruntun berisi emoticon cemberut.


Getaran HP yang beruntun membuyarkan lamunan Galang. Dilihatnya pesan dari sang istri.

__ADS_1


["Aku gak papa cuma kangen aja sama kamu 😍"] balas Galang.


__ADS_2