
Galang berjalan menuju walk in closet untuk berganti pakaian.
"KDRT banget ini mah!" gerutu Galang yang masih mengusap-usap pantatnya.
Galang memilih pakaian santai yang akan digunakannya.
Galang belum melihat istrinya keluar dari kamar mandi. Laki-laki tampan itu memilih main PS di ruang santai.
Melalui sudut matanya, Galang melihat Shabita melewati ruang santai.
"Mau kemana?" tanya Galang tanpa menoleh.
"Mau bantuin Mbak masak buat nanti malam." Shabita berhenti sejenak.
"Gak boleh. Kamu diem aja, kaki kamu juga lagi sakit, kan?" kata Galang sedikit pocecif.
"Enggak sakit lagi, kok. Nih liat!" Shabita menggerak-gerakan kakinya yang sempat ngilu.
"Ya udah sini aja!" pinta Galang, matanya menatap ke arah Shabita.
"Ngapain?" heran Shabita karena Galang benar-benar berubah jadi ultraman baik hati rasa candy.
"Temenin aku maen PS!" Galang menepuk tempat disampingnya.
"Ish, gak mau ah." tolak Shabita.
"Kenapa?"
"Bosenin pasti. Lagian aku tuh lagi mood buat masak jadi jangan dirusak."
__ADS_1
"Yang masak kan ada Mbak, gak usah repot-repot napa sih?"
"Gak mau, aku lagi pengen makan masakan sendiri!" Shabita menjulurkan lidahnya meledek Galang kemudian berlari kecil ke dapur.
Galang memegang dadanya yang berdebar. Baru begitu saja sudah membuat hatinya jumpalitan. Sungguh Shabita terlihat menggemaskan.
"Please, demi apa pun ternyata dia cewek segemes itu." senyum Galang mengembang.
Waktu makan malam tiba. Seperti yang dikatakan Shabita, menu makan malam ini semua dia yang masak. Kebetulan Bagas pulang cepat jadi bisa makan sama-sama.
Berkali-kali Bagas memuji menantunya itu karena makanannya enak, beda lagi dengan Galang yang seolah acuh menikmati makanannya namun dihatinya lebih banyak memuji ketimbang Bagas. Masih gengsi lah ya buat ngaku!
Selesai makan malam kedua pasutri yang baru akan memulai itu kembali ke kamarnya.
"Kamu tidur disini aja!" pinta Galang seraya merapikan bantal untuk istrinya.
Shabita masih cengo, antara takut dan masih belum percaya dengan sikap Galang yang berubah.
"Kenapa?" Galang menatap sendu.
"Gak papa, cuma ya gak enak aja tidur seranjang."
Galang menghela napas sejenak, mencoba menebak perasaan istrinya yang tidak mau tidur seranjang.
"Tenang, aku gak akan ngapa-ngapain kamu, kok!" ucap Galang untuk meyakinkan Shabita.
"Hmmm, gimana ya?" Shabita memainkan jari-jarinya, bingung.
"Katanya kamu mau memulai hubungan ini dari awal, ya itu salah satu bentuknya!"
__ADS_1
"Hm, iya sih, tapi...."
"Ya udah terserah kamu aja!" Galang memotong ucapan Shabita dengan kesal. Laki-laki itu merajuk meninggalkan kamarnya.
"Ish Galang, ambekan banget sih jadi cowok!" gerutu Shabita sambil mengekori langkah suaminya.
"Galang, tunggu ih." Shabita memegang tangan suaminya supaya berhenti jalan dan berhasil.
Shabita membalikkan tubuh Galang supaya berhadapan dengannya.
"Kamu mah pundungan, awas loh nanti gondok dileher!" omel Shabita.
"Ih amit-amit. Sembarangan aja kalo ngomong!" Galang memegang lehernya takut-takut udah tumbuh gondok.
"Jangan pundungan (ambekan) gitu dong."
"Enggak, siapa juga yang pundung?!" Galang memalingkan wajahnya.
"Idih gak ngaku. Hayo loh nanti gantengnya ilang!" Shabita melongokkan wajahnya ke arah Galang yang berpaling.
Seketika rona merah muncul di pipi Galang yang mulus, putih, bersih, halus bak pantat bayi karena dipuji ganteng oleh istrinya. Bukan hal aneh bagi Galang mendapat pujian ganteng tapi kali ini rasanya beda karena yang memuji adalah wanita yang telah berhasil hinggap di hatinya.
"Ish apaan sih?!" Galang memalingkan wajahnya lagi. Malu-malu meongnya mulai keluar.
"Udah ya jangan merajuk lagi. Ayo kita kembali ke kamar!" ajak Shabita.
"Enggak, kamu duluan aja." tolak Galang. Dalam hatinya sengaja menolak agar dibujuk atau dipuji lagi oleh istrinya.
"Oke deh kalo begitu!" ucap Shabita lalu meninggalkan Galang yang melongo.
__ADS_1
Emang enak ditinggalin!