Jodoh Si Ketos

Jodoh Si Ketos
Episode 30


__ADS_3

Galang menggendong tubuh Shabita ke kamar yang ditunjukkan oleh Yunita. Diletakkannya tubuh Shabita di kasur.


"Lang, kamu mandi dulu aja. Biar Shabita, tante yang urus." ucap Yunita.


Galang tidak menyahut. Matanya masih fokus melihat ke arah sang istrinya yang terkulai lemas.


"Udah gak papa, Lang. Shabita pasti baik-baik aja, kamu mandi dulu aja setelah itu makan!" Yunita seakan paham isi hati Galang yang khawatir dengan Shabita.


"Baik, tan." akhirnya Galang mengangguk. Badannya juga sudah terasa lengket. Seragam yang dipakainya juga sudah lusuh.


"Sana mandi. Tante mau ngambil baju buat kamu dulu, sekalian nanti mau ganti bajunya Shabita." tutur Yunita.


Galang mengangguk lagi, lalu melangkah menuju kamar mandi yang ada di kamar Shabita.


Selesai mandi Galang keluar kamar mandi sebentar untuk mengambil baju yang disiapkan Yunita diatas nakas. Galang hanya melilit tubuhnya dengan handuk saja


Dilihatnya Shabita masih terpejam, entah tidur atau masih pingsan. Baju Shabita juga sudah ganti dengan baju tidur motif doraemon kesukaan Galang. Entah, Galang suka sekali dengan doraemon.


Galang mendekat ke arah nakas yang ada bajunya. Hati Galang tergerak untuk jangan dulu pergi. Galang lalu menatap Shabita lekat.

__ADS_1


Tangan Galang hendak menyampir rambut yang menghalangi wajah Shabita supaya wajahnya terlihat jelas.


Tangan Galang yang dingin terulur ke wajah Shabita. Kegiatan Galang tersebut rupanya membangunkan Shabita karena gadis itu merasa wajahnya dingin.


Shabita juga Galang sama-sama. Galang menarik tangannya segera. Galang jadi salah tingkah ditatap Shabita yang tanpa berkedip. Rupanya Shabita terpesona dengan tubuh top less Galang. ABS Galang terlihat jelas serta dada bidangnya terlihat berotot padahal Galang masih remaja. Semakin salah tingkah lah Galang.


"Maaf, gur gak sengaja membangunkan lu!" ucap Galang.


Galang tidak tahu lagi harus bagaimana selain segera memakai baju yang digenggamnya.


Galang memutar tubuhnya namun kesialan terjadi. Handuk yang melilit tubuhnya terlepas karena rupanya tersangkut ujung nakas. Lebih tepatnya Galang kurang kenceng melilitkannya.


"Aaaaaaaaaaakkkkkhhhh!" teriak keduanya.


Galang segera menutupi tubuh bagian bawahnya dan lari tunggang langgang ke kamar mandi sedangkan Shabita menutup wajahnya dengan bantal.


"Dasar Galang mesuuuuuuum!" teriak Shabita dari bawah bantal.


"Galang mesuuuuuuum!" teriak Shabita lagi. Hatinya sungguh berdebar-debar. Shabita bergidik ngeri ketika pikirannya terlintas tubuh Galang itu.

__ADS_1


"Tolong, aku sudah ternodai!" teriak Shabita.


Di luar kamar Shabita rupayanya ada Yunita yang akan menyuruh mereka makan. Yunita terkikik mendengar suara teriakan keponakannya. Pikiran Yunita yang sudah dewasa tentulah paham ke arah mana.


Yunita masih terkekeh ketika kembali menghampiri keluarganya yang sudah berkumpul di meja makan. Kendati ini masih suasana duka tapi mereka usahakan tidak berlarut-larut dalam kesedihan. Kita yang masih hidup harus melahirkannya.


"Mama, kenapa senyum-senyum gitu? Shabita dan Galang mana?" tanya suami Yunita yang sudah duduk kembali ke kursinya. Bagas juga ada disana.


"Mereka masih di kamar. Biarinlah pengantin baru menikmati suasana berdua dulu." sahut Yunita dengan masih terkekeh.


"Ayo kita makan duluan aja. Nanti mereka kalo udah kehabisan energi pasti makan, kok!" timpal Yunita lagi.


"Ada apa sih, ma?" suami Yunita kembali bertanya seolah paham.


"Aih kamu ini kaya anak kemaren sore aja. Tadi aku dengar ada yang sudah ternodai, paham kan?" omel Yunita.


"Oh ituuuuu..." suami Yunita paham arah omongan istrinya kemana. Bagas sendiri hanya manggut-manggut tersenyum.


"Dasar mereka ini tidak tau suasana sekali!" gerutu Bagas.

__ADS_1


Untunglah di meja makan hanya ada mereka bertiga, tidak ada anak Yunita yang masih kecil.


__ADS_2