
Sebentar lagi magrib, pasutri muda itu memutuskan untuk segera pulang.
"Seru naik motor dibanding mobil!" teriak Shabita, karena kalau ngomongnya pelan gak bakalan kedengeran soalnya lagi dijalan dan pake helm.
"Ya udah nanti tiap hari naik motor aja." balas Galang dengan suara tak kalah kencang.
Sesekali Galang melihat istrinya lewat kaca spion. Sungguh, Galang tidak mau kehilangannya.
"Ada yang mau dibeli dulu gak?" tawar Galang.
"Enggak deh kayanya." jawab Shabita.
5 menit kemudian, yang katanya 'enggak' itu sudah berubah manakala melihat deretan jajanan di pinggir jalan.
Galang sebagai suami yang sayang banget sama istrinya hanya bisa menuruti dan mengangguk ketika istrinya membeli beberapa jajanan. Dengan setia pula Galang mengikuti langkah Shabita yang kesana kemari menghampiri penjual jajanan. Galang bagian bayar dan bawa makanannya.
"Udah cukup kayanya." Shabita mengetuk-ngetuk dagunya namun matanya masih melihat penjual lain.
"Cukup sayang, ini udah banyak loh." Galang mengangkat jajanan yang udah dibeli Shabita.
Pada akhirnya, kedua pasutri itu tiba ke rumah saat hari sudah gelap.
"Sayang, aku ikut mandi bareng kamu." rengek Galang seraya memegang handuk Shabita.
__ADS_1
"Gak mau Ish, malu." Galang menyingkirkan tangan Galang dari handuknya.
"Malu kenapa sih?"
"Ya malu aja." Shabita melengos ke arah kamar mandi.
Saat ini keinginan Galang yaitu mandi bersama jadi dia menggendong Shabita ke kamar mandi kemudian mengunci pintunya.
Di meja makan sudah tersaji makan malam juga jajanan Shabita.
"Papa, belum pulang ya, mbak?" tanya Galang setelah duduk di kursinya. Semenjak saling mengungkapkan, Shabita dan Galang selalu berdampingan.
"Belum, den. Kayanya larut lagi, deh." Marni menyiapkan piring untuk Galang dan Shabita.
"Papa ini kebiasaan banget sering lupa waktu gitu." ujar Galang.
"Dari dulu emang gitu ya, sayang?" tanya Shabita dengan mulut penuh oleh cakue.
"Iya, aku aja sering ditinggal sendirian. Untuk ada Mbak Marni jadi gak terlalu kesepian banget." ungkap Galang.
Marni sudah bekerja di rumah Galang sedari Galang kecil. Umur Marni sudah dewasa namun belum juga menikah. Mungkin umurnya hanya beda 5 tahun dengan mama Galang. Entah apa yang menjadi alasan Marni sampai menunda menikah begitu. Galang bahkan sudah menganggap Marni seperti keluarganya sendiri. Wanita manis asal Ciamis itu sangat perhatian sama Galang.
"Kenapa papa gak nikah lagi aja." usul Shabita.
__ADS_1
"Aku udah nyuruh papa buat nikah lagi tapi selalu nolak, alasannya belum siap."
"Hem begitu. Gimana kalo kita jodohin papa aja?" usul Shabita.
Uhuk Uhuk!
Galang sampai tersedak. Dengan sigap Shabita memberikan minum untuk suaminya.
"Dijodohin sama siapa? Kamu ini ada-ada aja."
"Kalo itu sih gampang." Shabita tersenyum dengan alis terangkat.
"Jangan aneh-aneh, ah." sergah Galang.
"Aku gak aneh-aneh, kok. Siapa tahu kalo papa punya istri jadi inget waktu terus pulangnya gak malam gini, papa juga akan ada yang perhatiin," jelas Shabita.
"Terus kamu mau jodohin papa sama siapa?" Galang meneguk sisa air di gelasnya.
"Kalo itu kamu percaya aja sama aku. Aku pasti bakalan cariin wanita yang pas buat papa. Pokoknya papa harus punya istrinya lagi." kata Shabita mantap dengan idenya.
"Ya udah terserah kamu. Tapi jangan yang sembarangan ya, aku gak mau papa hanya dimanfaatin." peringat Galang.
"Tenang aja, sayang. Serahkan semuanya pada istri mu ini." Shabita menepuk dadanya. Galang hanya tersenyum melihat Shabita.
__ADS_1