Jodoh Si Ketos

Jodoh Si Ketos
Episode 41


__ADS_3

"Makasih, mbak!" ucap Shabita ketika mereka sudah sampai kamar.


"Iya sama-sama, non. Kalo butuh apa-apa panggil aja, ya!"


Shabita mengangguk lalu Marni pamit undur diri.


Dari arah kamar mandi terdengar suara gemercik air. Galang sedang mandi, Shabita akan menunggu giliran di sofa saja. Kakinya diurut perlahan oleh dirinya sendiri.


"Aw!" ringis Shabita.


"Sepertinya harus panggil tukang urut ini mah." pikir Shabita.


Galang keluar dari kamar mandi dengan mengenakan bathrobe. Matanya melirik sekilas ke arah sang istri yang sedang memijat kakinya.


"Udah selesai mandinya, Lang?" tanya Shabita saat sadar Galang sudah keluar kamar mandi. Galang hanya mengangguk.


Shabita berdiri akan ke kamar mandi dengan langkah tertatih.


"Ck, dasar ceroboh!" Galang menggendong tubuh Shabita menuju kamar mandi.


"Eh eh, Lang!" kaget Shabita.


"Udah mandi sana! Nyusahin aja." ketus Galang.

__ADS_1


Jleb!


Hati Shabita merasa berdenyut nyeri mendengar ucapan Galang. Shabita menunduk.


"Maaf, Lang kalo aku nyusahin kamu!" Shabita kira Galang tidak akan ketus lagi.


"Udah sana kamu keluar, aku mau mandi!" Shabita mendorong tubuh Galang. Setelah air mata keluar. Galang melihatnya.


Tangan Galang menahan pintu kamar mandi. Shabita heran. Banyak herannya deh kali ini.


"Maaf!" Galang mengusap pipi Shabita.


"Jangan menangis lagi. Aku gak suka!" ungkap Galang.


"Maafin aku selalu ketus sama kamu, aku belum bisa jadi suami yang baik buat kamu!" Galang menatap istrinya.


"Tadi aku hanya kesal sama yang seolah-olah menganggap semua ucapan ku bohong padahal itu tulus. Aku gak mau kamu pergi dari rumah ini, aku ingin memperbaiki semuanya, Hem!" ungkap Galang jujur.


Shabita masih melongo tidak percaya. Hal apa yang bisa membuat Galang berubah secepat ini.


"Lang, kamu yakin?" tanya Shabita. Matanya memperhatikan setiap ucapan Galang.


"Aku serius!" Galang memegang tangan Shabita.

__ADS_1


"Aku bingung, Lang." Shabita menunduk.


"Bingung kenapa?"


"Ya bingung aja,"


"Apa yang buat kamu bingung, sih? Kita bisa memulainya dari awal? Bukan kah pernikahan ini juga yang diinginkan oleh mama dan papa kamu? Ayo kita wujudkan bersama-sama!" bujuk Galang.


"Tapi aku belum cinta, Lang." aku Shabita. Kendati hatinya sering berdebar kala berdekatan intens dengan Galang, namun Shabita belum mengartikan itu sebagai cinta.


"Kita jalani aja dulu, seperti perjanjian kita diawal. Jika selama masa itu kita masih sama-sama tidak menemukan cinta, apa boleh buat kita mungkin harus berpisah." tutur Galang.


Penuturan Galang masuk akal juga menurut Shabita. Wajar jika mereka belum saling jatuh cinta, ketemunya juga baru dan selalu saja terlibat cekcok.


"Baiklah, mari kita coba." Shabita mengembangkan senyumnya. Galang senang melihat Shabita tersenyum seperti itu. Galang pun membalasnya dengan senyuman pula.


"Hem, kita coba layaknya pasangan suami istri pada umumnya, ya!" celetuk Galang.


"Hah maksudnya gimana, Lang?" Shabita belum paham. Otaknya masih nge-load buat mencerna keinginan Galang.


"Kita tidur seranjang!" goda Galang seraya mencolek dagu istrinya.


"Iiiihhh dasar Galang mesum!" Shabita mendorong tubuh Galang kencang hingga laki-laki itu terjengkang ke belakang keluar kamar mandi. Shabita segera menutup pintu kamar mandinya. Otak Shabita langsung tertuju kesana.

__ADS_1


"Ah sakit pantat gue!" Galang memegang pantatnya yang menghantam lantai.


"Kasar banget sih jadi cewek! Awas ya kamu!" ancam Galang seraya mengusap-usap pantat.


__ADS_2