
"Sayang, kenapa lari-lari sih?" tanya Galang yang melihat Shabita berlari ke kamarnya.
"Mau ke kamar mandi." balas Shabita.
Galang yang tadinya akan santai di ruang tv jadi urung ketika melihat istrinya masuk kamar.
"Kenapa sih?" tanya Galang lagi. Shabita terlihat mengatur napas.
"Aku datang bulan, sayang." Shabita membuka laci di meja rias mencari pemb*alut lalu kembali ke kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, Shabita sudah selesai.
"Sayang, masa udah datang bulan sih?" ucap Galang sendu.
"kan emang udah jadwalnya,"
"Kamu gak kasian gitu sama aku?" Galang mengedip-ngedipkan matanya.
"Enggak. Orang kamu gak kenapa-napa," Shabita membalasnya dengan menjulurkan lidah.
"Oh iya, aku pinjem motor sebentar ya." izin Shabita.
"Eh buat apaan?" Galang beranjak dari ranjang, menghampiri istrinya yang duduk di kursi rias.
"Mau ke indoapril bentar," jelas Shabita.
"Mau beli apa?"
"Mau beli roti tawar." Shabita memakai hoodie nya.
__ADS_1
"Loh, roti kan masih banyak di dapur, sayang. Itu mah biar mbak Marni aja yang urus." Galang mengekori langkah istrinya ke walk in closet.
"Ish, bukan roti tawar itu. Kamu cowok, mana paham." tukas Shabita.
"Ck, gak boleh pergi sendiri. Ayo aku yang anter." Galang menyambar hoodie nya juga.
"Tapi jangan pake motor ah, ini udah jam 10.Di luar juga dingin, nanti kamu masuk angin." cerocos Galang.
"Ya udah terserah kamu, aja." Shabita menarik hidung mancung Galang.
Seorang Galang mana mungkin membiarkan istrinya pergi sendiri apalagi malam begini. Walaupun Shabita bisa bela diri tapi tetap saja, Shabita adalah seorang wanita yang butuh perlindungan dari laki-laki.
Indoapril yang dituju tidaklah jauh, sekitar beberapa KM saja dari rumah Galang.
"Kamu mau ikut masuk, gak?" tawar Shabita ketika mobil Galang sudah terparkir di depan indoapril.
"Kayanya aku tunggu disini, deh. Gak lama kan?"
"Ya udah buruan!"
Shabita gegas masuk ke indoapril, mencari barang yang dibutuhkannya. Galang sendiri menunggu di mobil sambil maen game.
"Lama gak, sayang?" Shabita kembali masuk dengan sekantong belanjaan setelah selesai membeli barang.
"Enggak, kok." Galang mematikan game nya.
"Yuks kita pulang!" ajak Shabita.
"Eh bentar deh, itu ditas isinya roti tawar semuanya?" Galang melihat tas belanja istrinya terlihat penuh.
__ADS_1
"Ya bukan dong. Aku beli cemilan, dan es krim juga." Shabita mengeluarkan es krim rasa strawberry.
"Ck, dasar kamu, ya. Hobi banget jajan." Galang mengusap pucuk kepala Shabita.
"Jajan segini doang mah gak bakalan bikin uang kamu habis." timpal Shabita seraya menikmati es krimnya.
"Iya, sayang. Beli apapun yang kamu mau. Bila perlu indoapril nya aku beli." Galang mengemudikan mobilnya kembali.
"Ish jangan sombong. Itu uang papa bukan uang mu, kamu belum bisa kerja." sindir Shabita.
"Eh kata siapa aku gak bisa kerja? Aku biasa bantuin papa juga diperusahaan, apalagi kalo lagi libur sekolah. Aku ikut magang di kantor atau ikut papa meeting sama klien." tutur Galang.
"Wow luar binasa sekali suamiku." seru Shabita heboh.
"Gak binasa juga, sayang." Galang mencebikkan bibirnya.
"Iya iya, kamu emang suami ku yang luar biasa." Shabita menerbitkan senyum pada Galang.
Galang mengarahkan mobilnya tidak langsung pulang, melainkan menuju pertigaan yang ada tukang sate nya. Perut Galang merasa lapar lagi dan menginginkan sate.
Mobil Galang melaju bukan lewat jalan utama tapi lewat jalan yang lumayan sepi, katanya biar cepat sampai.
"Sepi banget ya, disini." Shabita mengedarkan pandangannya keluar jendela.
"Iya. Tapi disini aman dari begal, kok." sahut Galang.
Mata jeli Shabita melihat seorang wanita tengah berlari dengan langkah terseok-seok. Shabita berusaha memicingkan matanya ke arah si wanita itu. Dari posturnya sangatlah tidak asing.
"Sayang, itu ada wanita yang sedang lari di kejar orang." seru Shabita pada Galang. Mobil Galang sudah melewati wanita tersebut. Galang pun memicingkan matanya melalui kaca spion.
__ADS_1
"Aku kaya kenal orang itu." Shabita menoleh ke belakang dengan wajah khawatir.