
Setelah Shabita tenang. Bagas mengajaknya untuk pulang karena jenazah orang tuanya akan segera dikebumikan. Polisi sementara menyimpulkan bahwa ini adalah kecelakaan tunggal akibat rem blong, lebih lanjutnya lagi masih diselidiki.
Kecelakaan tersebut terjadi di jalan tol menuju Bandung. Mobil yang dikemudikan Yudha menabrak pagar jalan hingga akhirnya terbalik hingga mobil tersebut hancur. Tubuh Sandra terpental jauh tapi kepalanya membentur aspal cukup keras sedangkan Yudha terjepit didalam.
(Mohon maaf gambaran kecelakaan tidak rinci, rada ngeri membayangkannya)
Shabita pulang ke rumahnya yang di Bandung bersama Bagas juga Galang sedangkan jenazah orang tuanya diangkut menggunakan mobil jenazah. Tante Shabita juga menggunakan mobilnya sendiri.
Sepanjang perjalanan air mata Shabita terus terjatuh. Shabita menangis tanpa suara.
Galang yang duduk disampingnya tidak tega. Tangan Galang gatal sekali rasanya ingin memeluk Shabita tapi sungkan.
"Abit!" panggil Galang tanpa ketus.
Shabita tidak menyahut apalagi menoleh. Gadis itu hanya mengusap air matanya berkali-kali. Hatinya begitu nyeri menerima kenyataan ini tapi Shabita ingat salah satu pesan mama nya kalau semua yang ada di dunia ini tidak ada yang abadi, semua akan kembali pada yang punya.
"Abit, kalo kamu butuh sandaran, bahu gue... eh aku bisa kamu pakai, kok!" ragu-ragu Galang mengucapkan itu. Tanpa disangka Shabita menyenderkan kepalanya di bahu Galang. Jantung Galang sontak berdebar dan wajahnya mendadak tegang padahal tadi dia sempat peluk-peluk Shabita cuma yang ini rasanya beda.
__ADS_1
"Kenapa kamu gak bilang kalo orang tua ku kecelakaan?" Shabita tiba-tiba bertanya. Tanganya masih sesekali mengelap air mata juga ingusnya dengan tisu yang ada di mobil Bagas.
"Aku gak mau kamu panik dijalan makanya aku gak bilang. Maaf ya!" tutur Galang.
Shabita menggeleng. "Aku berterima kasih sama kamu karena kamu membawa aku dengan cepat sampai kesini." ungkap Shabita.
"Iya." jawab Galang singkat.
"Maaf, pinjem bahunya sebentar lagi." ucap Shabita. Galang hanya mengangguk.
Bagas yang mendengar interaksi mereka merasa bahwa hubungan anaknya tidak berjalan sebagaimana mestinya. Dari perbincangannya saja mereka seperti tidak dekat, masih menjaga jarak satu sama lain. Tapi Bagas tidak bisa memaksa lagi, biarlah mereka berjalan sendiri.
Shabita menarik napas sejenak sebelum turun. Shabita bertekad akan kuat dan ikhlas dengan kepergian orang tuanya yang merupakan takdir dari sang Pencipta.
"Kamu harus kuat, harus ikhlas!" Galang menyemangati Shabita sebelum turun. Shabita mengangguk kecil.
"Ayo, sayang!" ajak Bagas.
__ADS_1
Bukan Bagas yang merangkul Shabita tapi Galang. Bagas tidak melepaskan rangkulan tangannya pada pundak sang menantu sampai masuk ke dalam rumah yang sudah dipenuhi oleh orang-orang.
Shabita disambut oleh keluarganya yang lain. Tangis mereka pecah kembali. Suara duka begitu kental di rumah megah keluarga Yudha. Seorang pengusaha properti dari Bandung.
Jenazah orang tuanya Shabita langsung dikebumikan padahal hari sudah gelap. Dibantu oleh lampu penerangan, semuanya berjalan lancar.
Selesai proses pemakaman, Shabita pulang lagi ke rumahnya, Galang pun ikut.
"Abit, kamu istirahat dulu, ya. Ajak Galang!" titah Yunita, tante Shabita.
Di rumah megah tersebut hanya ada keluarga Yunita yang merupakan adik dari Yudha, terus nenek Shabita alias ibunya Yudha, Galang dan Bagas yang ikut menginap.
Shabita menganggukkan kepala. Langkah gontainya menuju lantai dua dimana kamarnya berada.
"Ikuti Shabita, Lang. Nanti tante anterin baju ganti untuk kamu ke kamar." titah Yunita. Shabita dan Galang masih sama-sama mengenakan seragam sekolah.
"Baik, tan." Galang mengikuti langkah Shabita.
__ADS_1
Dipertengahan tangga tubuh Shabita ambruk, beruntung Galang yang berada dibelakangnya berhasil menangkap tubuh Shabita, kalau tidak bisa terguling ke bawah tangga.
"Abit!" teriak Yunita panik.