
"Ya udah, guys, karena sekarang udah malem terus besok jugs sekolah, lebih baik kita pulang!" ajak Galang.
"Kuy lah kita balik," sahut Amir.
"Awas lo ketahuan baba lagi." peringat Galang.
"Aman! Baba pasti udah ngorok jam segini, motor juga bisa gue titip security biar aman." ucap Amir percaya diri tidak akan ketahuan.
"Ra, kamu pulang sama siapa?" tanya Shabita.
"Sendiri..."
"Sama gue!" sela Kevin.
"Uwaaaaahhh, babang Kevin mau langsung pake dedek Tiara ternyata!" heboh Amir.
"B*cot lo! Dah, ayo kita cabut." timpal Kevin.
"Jangan lupa duitnya kasih Tiara semua, lo jangan ngambil sepeser pun." pesan Galang.
"Aelah, tadinya duitnya mau pake Shopping di si oyen," ujar Kevin.
"Si gebleg, jangan kayak orang susah lo!" Amir memukul bahu Kevin.
Hati mencelos saat ini. Keadaannya sekarang sangat jauh berbeda. Dulu apa pun yang dia mau pasti gampang didapat, sekarang kantong doraemonnya tidak berfungsi lagi. Tiara sangat bersyukur malam ini terselamatkan, entah bagaimana hancurnya jika Rendra yang menang.
__ADS_1
Pasutri kencur dan ketiga temannya lanjut pulang ke rumah masing-masing.
Kevin dan Tiara boncengan. Tidak ada percakapan antara mereka, hanya menyebut Alamat Tiara saja.
Motor mahal Kevin yang dibeli pakai duit papi nya sudah terparkir di depan kontrakan kecil. Sedikit tidak percaya bahwa seorang Tiara Malika Cahya bisa tinggal di tempat ini. Ya, Kevin sudah tahu perihal keluarga Tiara dari Galang.
"Makasih ya, Vin, lo udah nolong gue!" Tiara menghadap Kevin sebelum masuk. Kevin tidak membuka helm nya, hanya visor yang diangkat.
"Tapi gak gratis, Ra. Sesuai perjanjian, nanti gue bakalan pakai lo tapi bukan sekarang. Mulai sekarang lo juga harus nurutin gue!" pinta Kevin.
"Gak semuanya juga kali, Vin." sergah Tiara.
"Semuanya lah, lo pikir gampang lawan si Rendra. Kalo gue tadi mati pas balap gimana hayoh?"
"Lo kan gak mati Kevin!" cebik Tiara.
"Duitnya dulu mana?" Tiara menengadahkan tangannya.
"Dasar calon emak emak, urusan duit aja lo cepet!" gerutu Kevin.
"Yeh, ini kan hak gue!" Tiara dengan cepat mengambil amplop yang Kevin keluarkan dari saku jaketnya.
"Si Bege, cepet banget ngambilnya!" omel Kevin.
"Bawel lo, Vin. Sekali lagi makasih, ya. Hati-hati lo pulangnya, awas ada kun kun nemplok dibelakang!" Tiara berlari kecil menuju kontrakannya.
__ADS_1
"Anjay Si Tiara pake nakutin segala lagi!" Kevin merasa bulu kuduknya merinding. Di sekeliling kontrakan Tiara banyak sekali pohon yang besar-besar.
"Mamiiiiiii!" teriak Kevin sambil menaut gas motornya.
...****************...
Di sebuah rumah mewah bergaya Timur Tengah, seoarang anak bujang sedang mengendap-endap seperti maling melewati setiap ruangan rumah tersebut. Bahkan saking mewahnya rumah itu ada lift segala.
"Yes, aman. Baba kayaknya sudah bobo ganteng!" seru Amir.
Tanganya terulur memencet tombol lift. Ketika lift terbuka Amir dibuat terkaget-kaget. Wajahnya tegang manakala melihat Babanya berdiri berkacak pinggang di dalam lift.
"Eh buset, baba, ngagetin aja!" Amir tersenyum kikuk. Dalam hati sudah melapalkan berbagai macam doa supaya baba nya tidak ngamuk.
Berhubung Amir anak bandel jadi doanya tidak terkabul.
"Dasar anak nakal! Sudah berapa kali baba bilang, jangan balapan lagi!" baba menjewer telinga Amir.
"Aw Aw Aw, ampun, ba. Aku gak balapan, cuma nonton aja. Yang balap si Kevin. Cius, ba, aku gak bohong!" Amir memegang kupingnya yang masih dijewer. Baba menyeret Amir ke ruang keluarga.
"Alah alesan kamu. Udah tau kamu lagi baba hukum masih aja ngeyel pake motor itu." Baba memelintir kuping Amir sebelum melepasnya.
"Baba, ampun, bisa copot kuping ku!" Amir mengusap kupingnya yang terasa panas.
"Biarin aja, biar gak ada kupingnya sama sekali!" sewot Baba.
__ADS_1
"Baba, cocotnya kalo ngomong gak difilter dulu!" timpal Amir seraya lari terbirit-birit menuju kamar melewati tangga.
"Amir, dasar ya kamu anak durhakim. Besok baba hukum lagi kamu!" teriak baba.