
Galang sudah sampai di stasiun. Beruntung Galang tidak terlambat datang. Kereta yang akan Galang naiki berangkat sekitar 10 menit lagi. Galang membeli tiket langsung di stasiun.
Galang gegas naik ke kereta hingga tak lama kemudian kereta berangkat.
Jug gija gijug kereta berangkat!
Jug gija gijug hatiku gembiraaaa!
Kayak lirik lagu, eh!
Sepanjang perjalanan Galang hanya diam. Suara dering HP tidak digubrisnya sama sekali. Galang tidak peduli siapa yang menelponnya tapi yang jelas Galang merasa kecewa dengan Shabita, istrinya yang malah memilih laki-laki lain. Kendati kecewa, Galang berpikir lagi untuk menganggap ini sebagai latihan jika nanti Shabita pergi dari hidupnya bersama laki-laki yang dicintainya. Pikiran Galang sampai jauh kesana padahal Galang sama sekali tidak mencintai Shabita.
Galang belum sadar, eh!
Beberapa jam kemudian, Galang sampai di stasiun Jakarta. Karena Galang belum sarapan, perutnya terasa lapar. Galang melihat penjual makanan yang berjejer di luar stasiun jadi Galang memutuskan untuk makan terlebih dahulu sebelum pulang.
Setelah selesai makan, Galang mencari taksi untuk pulang ke rumahnya.
Siang sudah berganti malam. Terlihat Galang sedang main PS di ruang keluarga.
"Galang!" suara bariton yang begitu Galang hapal memanggil namanya cukup tegas.
Tangan Galang berhenti memainkan stik PS kemudian menoleh ke sumber suara. Disana sudah berdiri papa juga istrinya.
"Pa, aku pamit ke kamar dulu ya!" pamit Shabita.
__ADS_1
"Iya sayang. Kamu istirahat aja, biar papa yang bicara sama anak nakal ini!" tutur Bagas. Shabita mengangguk lalu berjalan menuju lantai dua.
"Kenapa kamu pulang duluan, Hah?" tanya Bagas to the point. Galang memasang wajah datar.
"Kamu tau, betapa paniknya istri mu ketika kereta yang kamu tumpangi sudah pergi?" Bagas duduk di kursi dengan menatap kesal anaknya.
Flashback on...
"Pa, Galang mau pulang sekarang ke jakarta naik kereta!" Shabita berlari menghampiri Bagas yang sedang memancing dengan Dimas.
"Apa?" Bagas kaget.
"Iya, Pa. Terus Galang kaya yang kesal gitu, Pa!" jelas Shabita.
"Kesel kenapa? kalian bertengkar?" tanya Bagas. Shabita menggeleng.
"Loh, ada Gerry juga?" tanya Dimas heran.
"Iya, om. Dari tadi Gerry disini!" sahut Shabita.
Dimas rupanya paham alasan Galang pulang dengan melihat Gerry disana.
"Om, kayanya Gerry deh yang buat Galang pulang duluan?!" bisik Dimas pada Bagas.
"Gerry, siapa?" tanya Bagas balas berbisik.
__ADS_1
"Gerry besti nya Abit, om. Bisa jadi Galang kesal karena cemburu." tebak Dimas, masih berbisik.
Shabita dan Gerry tampak heran melihat kedua laki-laki didepannya berbisik-bisik.
"Ada apa sih?" tanya Shabita kepo.
"Gak papa. Lebih baik sekarang kamu susul Galang ke stasiun gih!" usul Dimas.
"Iya, sayang. Kamu susul Galang ya, ajak dia pulang bareng kita nanti siang!" imbuh Bagas.
Shabita mengangguk saja dengan polosnya.
"Spy, mau aku temenin gak?" tawar Gerry.
Shabita menolak tawaran Gerry yang akan mengantarnya ke stasiun. Shabita tidak akan bisa berbincang banyak dengan Galang kalau dirinya diantar Gerry. Akhirnya Shabita pergi menyusul Galang diantar oleh sopir Bagas sedangkan Gerry memilih pamit pulang.
Di perjalanan, Shabita mengingat wajah Galang yang terlihat kesal. Sejauh ini Shabita tidak paham dengan sikap Galang.
Mobil yang ditumpangi Shabita sampai di stasiun. Shabita berlari segera mencari informasi kereta yang akan ke jakarta. Shabita sudah terlambat kereta yang Galang tumpangi sudah berangkat lima menit yang lalu.
Shabita kembali ke rumah dengan tangan kosong.
"Pa, Galang udah gak ada!" air mata Shabita tanpa dikomando jatuh. Entah, hatinya merasa bersalah karena tidak berhasil mencegah Galang pergi.
Bagas memeluk Shabita yang menangis. Berusaha menenangkan menantunya supaya tidak merasa bersalah.
__ADS_1
Flashback off..