
"Kenapa mama dan papa, tan?" Shabita masih bingung tapi air matanya sudah mengalir.
Ditengah isak tangis tersebut keluar seorang dokter laki-laki dari ruang UGD.
"Keluarganya bapak Yudha dan Bu Sandra!" panggil sang dokter.
"Saya anaknya dok!" Shabita menghampiri dokter diikuti oleh Galang yang berdiri disampingnya.
"Mohon maaf, orang tua dari mbak tidak bisa kami selamatkan." ucap sang dokter.
"Ma-maksudnya gimana, dok?" tanya Shabita dengan urai air mata.
"Orang tua mbak meninggal karena kecelakaan!" ungkap sang dokter.
Tubuh Shabita mematung sejenak sebelum akhirnya menangis histeris. Galang yang berdiri di samping Shabita sigap memeluk istrinya yang histeris.
"Mama, papa, dimana kalian?" Shabita menghampiri brankar orang tuanya yang akan dibawa ke ruang jenazah.
"Ma, bangun!" Shabita mengguncang tubuh Sandra yang sudah terbujur kaku. Dari selimut penutup yang dipakai oleh Sandra terdapat bercak-bercak darah padahal sudah dibersihkan, begitu pun dengan Yudha.
__ADS_1
Shabita berulang kali mengguncang tubuh orang tuanya secara berganti namun keduanya sama sekali tidak merespon.
Galang sebagai suami jelas tidak tega melihat istrinya histeris seperti itu, berulang kali pula Galang menenangkan serta ingin memeluk istrinya tapi selalu Shabita tolak. Sampai-sampai tubuh Galang terdorong ke belakang. Shabita seperti orang yang mempunyai kekuatan lebih. Perawat yang ada disana juga ikut membantu menenangkan Shabita.
Tante Shabita tidak kalah histeris menangis melihat keponakannya seperti itu, beruntung suaminya masih bisa menghandle.
Perlahan tubuh Shabita terkulai lemas hingga pingsan. Dunia Shabita seakan-akan runtuh seketika. Sosok yang selalu menyayanginya, melindunginya kini telah tiada dengan cara tragis yaitu kecelakaan.
Ternyata kemarin adalah pertemuan terakhir mereka.
Shabita yang pingsan segera di angkat ke brankar ditemani oleh Galang. Sedangkan jenazah orang tuanya dibawa ke ruang jenazah untuk diurus.
Melihat wajah Shabita yang terlihat pucat juga sembab, hati Galang terasa nyeri. Ikut merasakan apa yang istrinya rasakan. Bagaimana pun Galang pernah kehilangan mama nya yang membuat dia trauma, lantas bagaimana dengan Shabita yang kehilangan kedua orangtuanya sekaligus?
Tangan Galang terulur menggenggam jemari istrinya yang terasa dingin. Ini kali pertama Galang melakukannya secara tidak paksa.
"Ma, Pa." lirih Shabita dengan mata yang masih terpejam.
Galang dengan refleka mengusap kepala Shabita yang terlihat gelisah juga ketakutan.
__ADS_1
"Abit, tenang." Ucap Galang.
Mata Shabita terbuka. Dilihatnya Galang sedang berusaha menenangkan.
"Aku mau ketemu sama mama dan papa!" Shabita hendak bangkit dari tidurnya tapi Galang menahannya.
"Tenang Abit! Kamu harus ikhlasin semuanya." Galang memeluk tubuh Shabita yang mulai histeris lagi.
"Gak, aku gak mau ditinggalin mama sama papa. Aku mau ikut mereka!" air mata Shabita meluncur deras.
"Tenang, Abit. Ada aku disini!" Galang semakin mendekap tubuh istrinya yang meronta-ronta ingin pergi menemui orang tuanya.
"Stttt, tenang ya! Masih ada aku juga papa disini!" ucap Galang.
"Abit!" Bagas yang baru datang segera menghampiri menantunya. Galang mengurai pelukannya. Shabita langsung menghambur ke pelukan Bagas.
"Pa, mama dan papa aku pergi! Mereka ninggalin aku sendiri disini." adu Shabita dengan tangisnya.
"Gak ada yang ninggalin kamu, sayang. Kamu masih punya papa, kamu gak sendirian." ucap Bagas.
__ADS_1
"Kamu jangan pernah merasa sendirian, sayang. Ada papa juga Galang, suamimu. Kami sayang sama kamu. Orang tua ku tidak pergi, mereka hanya istirahat. Ikhlasin ya, sayang. Inget mereka akan selalu ada bersama mu, di hatimu." tutur Bagas kembali.
Shabita masih terisak-isak. Galang tidak pernah menyangka bahwa wanita yang selalu dia ketusin ternyata bisa serapuh itu. Galang sadar, selama dia bersama Shabita, tidak pernah berbuat baik pada istrinya. Seketika itu pula Galang merasa sudah tidak pantas menjadi suami, lantas bagaimana bisa menjalankan amanat Yudha jika dirinya saja masih seperti itu? Haruskah Galang merubah perlakuannya pada Shabita?