
"Sakit, Lang." ringis Tiara, menghempaskan tangan Galang.
"Itu ulah lo, kan?" tuduh Galang.
"Apa sih maksudnya?" tanya Tiara belum paham.
"Alah jangan pura-pura gak paham deh, lo. Yang tau tentang aku sama Shabita itu cuma elo dan sahabat kita." ujar Galang.
"Oh soal foto nikahan si Shabita itu." Tiara bersidakep dada.
"Nah kan akhirnya lo ngaku juga." ucap Galang.
"Ngaku apaan sih?" sinis Tiara.
"Udah deh, lebih baik lo ngaku sebelum gue sebar tentang keluarga, lo." ancam Galang.
"itu bukan gue." sentak Tiara.
"Alah kalo bukan lo, siapa lagi? Cuma lo yang gak suka sama Shabita dan hubungan kita." timpal Galang.
"Lo pikir cuma gue doang yang gak suka sama cewek lo yang kecentilan itu, yang lain juga banyak kali." delik Tiara.
"Berani lo ngomong gitu sama cewek gue!" wajah Galang sudah emosi menghadapi Tiara yang tidak mau mengaku. Siapa lagi di sekolah ini yang punya dendam dengan mereka kalau bukan Tiara?
__ADS_1
"Cih, menyebalkan sekali." decih Tiara.
"Awas lo, macem-macem lagi sama kita, abis lo sama gue." ancam Galang sambil menunjuk wajah Tiara kemudian pergi meninggalkan Tiara. Galang yakin bahwa Tiara lah pelakunya.
Dikarenakan lusa adalah hari ulang tahun sekolah maka pihak sekolah membebaskan murid untuk tidak belajar. Gantinya adalah membantu panitia untuk mempersiapkan acara atau bagi murid yang mau ikut pentas seni maka di pakai untuk latihan.
"Gue penasaran siapa sih orang yang udah nempel foto lo di mading." ujar Hanin. Kedua gadis berponi memilih duduk di tribun menyaksikan para panitia menata tempat acara. Galang melarang keras Shabita untuk membantu. Takut kecapean katanya.
"Aku gak tau, Nin. Entah punya motif apa orang itu." Shabita menatap jauh ke depan.
Shabita tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padanya jika foto yang dipasang adalah foto pernikahan aslinya. Sudah pasti dikeluarkan dari sekolah. Shabita belum siap. Kendati masih bisa home schooling atau bisa saja meminta bantuan Bagas tapi Shabita tidak mau.
"Gue yakin orang itu tau rahasia pernikahan lo dengan Galang." tutur Hanin.
"Udah ah, gak usah dipikirin. Lebih baik kita habiskan saja makanan ini." seru Hanin melihat beberapa snack yang sudah dibelikan oleh Galang.
Mereka kemudian mulai menikmati snack nya sambil bercengkerama. Pandangan Shabita sesekali melihat ke arah suaminya yang sedang sibuk mengatur persiapan.
"Abit." suara Rio menghentikan ketawa dua gadis itu.
"Rio?!" ucap Shabita.
"Gue gabung sama kalian, ya." pinta Rio. Tanpa dipersilakan pun Rio sudah duduk di dekat Shabita.
__ADS_1
"Eh, lo, duduknya deket gue sini." titah Hanin.
"Apaan sih, lo?" sahut Rio.
"Nanti si Galang nyamuk kalo lo deket-deket ceweknya." jelas Hanin.
"Iya, Rio. Maaf, kamu pindah duduk aja, ya. Atau aku aja yang deket Hanin." tutur Shabita.
"Ribet banget sih. Lagian lo takut banget sama si Galang. Segitu bucinnya." cibir Rio.
"Bu-bukan gitu, Rio." Shabita mengibas-ngibas tangannya.
"Heh, ngapain lo deket-deket cewek gue?" Galang menarik bahu Rio.
"Wet, santai dong, lo." sewot Rio, mengusap bahunya.
"Sayang, ikut aku." titah Galang pada Shabita.
Galang menatap tidak suka pada Rio. Perselisihan mereka di mulai ketika sama-sama jadi calon ketua OSIS. Galang yang menang padahal tidak berminat sama sekali bahkan pendaftarannya pun dilakukan oleh teman-teman, dalam artian Galang diajukan oleh orang lain. Sedangkan Rio, dia benar-benar ingin jadi ketua OSIS. Rio percaya bahwa kemampuan di atas Galang yang dikenal badung, tapi kenapa dia bisa kalah dari Galang? Kalau soal ganteng, Rio tidak kalah ganteng. Sampai sekarang Rio yakin bahwa pihak Galang curang, terlebih Galang adalah anaknya Bagas, salah satu orang yang punya kuasa di SMA Samudera.
"Ayo sayang!" Galang menarik tangan istrinya untuk pergi dari tribun sana.
Rio menatap nanar dengan bibir ditarik sebelah. Kebencian Rio pada Galang tidak akan pupus begitu saja.
__ADS_1