
Ying Hua kini sedang membaca naskah drama dari penulis terkenal, dia telah mempelajari naskah ditangannya selama beberapa hari. Baginya ini adalah cerita yang memang cukup unik, Ying Hua juga sudah sering melatih dirinya didepan cermin untuk mendalami karakter perannya.
Ying Hua keluar dari kamar, dia berjalan menuju ruang makan dan mengambil beberapa buah-buahan. Sudah hari kelima sejak adik dari BlackPild berada di apartemen nya, dan tentu saja dia sudah sering bolak balik ke tempat itu. Yah dia dapat melihat keseriusan dari Bei dalam membuat lagu, Bei tanpa tidur terus berusaha untuk mewujudkan keinginannya.
Apakah aku egois yah? Bagaimanapun anak-anak itu masih terkena mentalnya. Tapi demi bertahan hidup, mereka melakukan apa saja. Aku cukup salut
"Huaer kamu disini?" Tanya Ibunya yang memasuki dapur
"Ibu...Di apartemen sangat membosankan tanpa ada ibu. Aku rindu disini"
"Tentu saja, kamu harus sering berada disini. Ibu sangat senang jika anak ibu mencintai rumahnya sendiri"
Ying Hua tersenyum manis, ia pun menuju ruang tengah dan melihat kedatangan Aming. Ying Hua dengan cepat menggandeng lengan Aming tanpa mempedulikan pandangan pelayan kepadanya.
Ying Hua sama sekali tidak mengetahui bahwa Aming sudah dijadikan target "pacar idaman" bagi para pelayan, Aming adalah pria yang sangat tampan dengan kulit eksotis dan bibirnya yang tebal. Walaupun Aming memiliki darah turunan asing, dia masih tetap memukau apalagi dengan otot perutnya dan dada nya yang keras.
"Hei Aming, mau jalan-jalan tidak?" Goda Ying Hua
Ying Hua sangat menyukai Aming, pria ini adalah pria yang sangat menyenangkan untuk diajak berteman walaupun irit bicara. Aming sangat mematuhi semua perintah Ying Hua, jika Ying Hua meminta Aming untuk memakan kotoran, Aming pasti akan melakukan nya. Kapan lagi dapat seseorang yang setia seperti ini.
"Nona muda ehem tangan anda"
"Kenapa kamu tergoda dengan tubuhku yang uhuy" Godaku sambil menaikkan alisku
Aming melepaskan tanganku dan memberikan sebuah kertas yang berisikan jadwal baru Minggu depan, aku terkejut dengan banyaknya jadwal yang harus dihadiri. Aku memandang Aming dan kertas itu secara bergantian.
"Apakah kamu bercanda? Apakah kamu ingin aku mati?"
"Nona jangan mengatakan hal buruk seperti itu, nanti bisa terjadi loh"
Ini pengawal ga ada baik-baik nya dah.
"Tapi kenapa jadwal ku jadi meledak seperti ini sih? Kemarin biasa saja"
"Nona apakah anda belum tahu?"
"Apa?" Tanyaku cuek
"Nona...Iklan anda sekarang sedang booming bahkan omset perusahaan naik begitu banyak kemudian semua siaran televisi menyiarkan iklan anda tanpa henti. Produk kita bahkan kekurangan stok, gara-gara nona tuan muda Ying Jiazhen sekarang kesulitan."
Jadi kamu menyalahkan ku karena produknya terjual habis, bukankah aku harusnya dipuji disini? Kenapa aku seperti dimarahi yah.
"Bukankah itu bagus? Jadi aku makin kaya dan terkenal"
"Nona sekarang tuan muda.."
"Tuan muda terus, apakah majikan kamu dia! Atau kamu...." Tanyaku menyelidik
Yah lagipula gay tidak masalah, aku suka pria dengan pria. Bukankah aku bisa menjodohkan pria ini dengan kakak untuk kebutuhan yaoiku hehe
"Nona entah kenapa saya takut dengan pikiran anda sekarang" Ungkap Aming
"Memangnya aku memikirkan apa? Ya sudah mau tidak mau aku harus menjalani hidup sebagai artis papan atas sekarang, aku harus menikmati hari santaiku ini"
Ying Hua melenggang pergi meninggalkan Aming yang menatapnya datar, Aming tahu jika nona muda nya memang sedikit aneh.
Mungkin nona butuh psikolog.
Kalau Ying Hua tahu tentang pikiran Aming, dia pasti akan memelintir leher pria itu sampai mati. Bagaimana bisa Ying Hua dituduh sebagai orang gila?
...----------------...
Ying Hua kini sedang disibukkan dengan pemotretan tanpa henti, sudah dua hari dia sibuk seperti orang gila. Dia selalu pergi ke tempat yang berbeda tanpa henti, kini imagenya sudah mulai naik sedikit walaupun masih banyak antis yang mengkritik dirinya dan memberikan komentar jahat, sayangnya itu semua tak akan mempengaruhi mental seorang Ying Hua.
"Jadwalku selanjutnya?" Tanya Ying Hua kepada Aming
"Ke perusahaan Ying nona"
"Kenapa aku harus kesana? Apakah kakak rindu dengan adiknya ini?"
"Bukan seperti itu, anda ada pertemuan dengan perusahaan iklan X, dia ingin melakukan kontrak dengan anda"
__ADS_1
"Baiklah ayo kesana"
Ying Hua duduk di dalam mobilnya sambil memejamkan mata, lelah sekali pikirnya. Tapi kelelahan nya ini sebanding dengan apa impian yang ia inginkan, sedikit lagi, sedikit lagi dia ingin berdiri di atas panggung dengan sorak penggemarnya tanpa henti. Semoga saja lagunya akan selesai dalam waktu dekat.
Ying Hua turun dari mobilnya, ia melirik banyak sekali mobil yang berhenti didepan perusahaan kakaknya ini. Apakah ada sesuatu?
Ying Hua pun memasuki perusahaan Ying, dia menghiraukan tatapan memuja disekitarnya. Bagaimanapun Ying Hua termasuk artis tercantik saat ini jika sifat buruknya dihilangkan, ketika Ying Hua akan memasuki sebuah ruangan. Dia tanpa sengaja memasuki ruangan yang salah, disana dia melihat kakaknya dengan seseorang yang paling ia tak suka sama sekali.
"ohhh maaf aku salah ruangan, permisi"
Ying Hua menutup pintu kembali, dia berkeringat dingin dan segera berjalan menjauh. Bukankah tadi Aming mengatakan ruangannya bernomor 103?. Ying Hua kembali melihat nomor ruangan, ohh dia yang salah. Apakah dia mulai buta nomor?
Ini semua gara-gara Aming, aish bagaimana ini? Tapi...tapi kenapa pria tengil itu ada di perusahaan musuhnya, apakah dia ingin melakukan kerjasama? Tidak...aku tak akan membiarkan keluarga Ying hancur ditangan pria itu.
Ying Hua pun memasuki ruangan yang benar sambil membicarakan kontrak iklan nya dengan perusahaan iklan X.
"Baiklah terimakasih atas kerjasama nya, kami menunggu kinerja anda nona Ying"
"Tentu saja, aku juga mengantisipasi kerjasama ini"
Setelah bersalaman, Ying Hua mengeluarkan handphone nya. Sedari tadi Aming tak muncul sama sekali, apakah pria itu sedang berada di kantor kakaknya? Dia adalah pria yang sangat maniak dengan Ying Jiazhen
"Tidak diangkat? Kemana sih dia?"
Ying Hua keluar dari ruangan nya dan berjalan di lorong perusahaan dengan wajah datar, tapi sebuah cekalan tangan menariknya entah kemana, Ying Hua akan berteriak tapi mulutnya ditutup dengan cepat.
Apakah ini penculikan? Aku diculik? Apa yang harus aku lakukan?
Ying Hua dibawa ke ruangan yang cukup remang-remang, dia merasakan tembok dingin di belakang punggungnya. Pria yang menculiknya ini sangat kasar, dia mendorong Ying Hua dengan kuat ke arah tembok.
"Mmmm..mmmm" Teriak Ying Hua
Ying Hua mencoba menyesuaikan penglihatannya, dia menyipitkan matanya melihat pria dengan garis wajah yang tampan itu. Setelah lebih jelas Ying Hua terkejut dan lebih memberontak, kenapa pria ini melakukan hal penculikan kepadanya. Wang Chen pria berhati dingin dan kejam itu melepaskan tangannya dari bibir Ying Hua
"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Ying Hua kesal
"Kenapa? Apakah kamu takut?" Goda Wang Chen
"Tapi kelihatannya kamu takut manis" Ungkap Wang Chen sambil menyentuh pipi Ying Hua
"Singkirkan tangan kotormu dariku" Geram Ying Hua
"Jangan begitu, aku hanya ingin melihat keadaan mu saja kok"
"Aku? Setelah apa yang kamu lakukan kepadaku?"
"Memangnya apa yang telah aku lakukan kepadamu? Apakah kamu ingin aku beratnggung jawab manis"
"Sialan"
"Bicara yang manis" Bisik Wang Chen di telinga Ying Hua
Ying Hua menatap Wang Chen dingin, apa yang sebenarnya diinginkan pria ini? Dia sudah tak memiliki hubungan apapun dengan Wah Wenxiao, bahkan sudah berminggu-minggu mereka tak bertemu. Apalagi sekarang?
"Aku sudah tak memiliki hubungan dengan kakakmu itu, jadi jangan ganggu aku"
"Kalau begitu...mau memiliki hubungan denganku?"
"Denganmu? Dalam mimpi mu saja, aku dan kamu tak akan pernah. Lepaskan aku, ingat ini masih didalam perusahaan kakakku, jika dia tahu aku menghilang. Apa yang akan dilakukannya dengan mu yah?"
"Memangnya dia tahu jika itu aku? Aku tinggal membuat jebakan lain agar dia tidak menuduhku"
"Si sialan ini"
"Hush bicara yang manis aku bilang"
Mereka berdua saling bertatapan dingin, tiba-tiba Wang Chen semakin memajukan wajahnya ke arah Ying Hua, hidung mereka pun mulai bersentuhan hanya beberapa centimeter lagi bibir Ying Hua dan Wang Chen akan bersentuhan, Ying Hua ingin mendorong Wang Chen namun kedua tangan dikunci diatas kepala sedari tadi. Ketika hawa bibir Wang Chen akan memasuk bibirnya, handphone Ying Hua berbunyi. Ying Hua dengan cepat memalingkan wajahnya dengan raut wajah memerah.
"Lepaskan aku"
"Baik"
__ADS_1
Wang chen melepaskan Ying Hua namun tatapan pria itu membuat Ying Hua terasa sesak dan tak nyaman. Ying Hua dengan cepat mengambil handphone nya dan melihat nama panggilan yang tertera, ternyata itu adalah Aming. Untunglah disaat seperti ini Aming tahu apa tugasnya.
"Halo...aku...aku masih diperusahaan, bisakah kamu.. hei handphone ku"
Wang Chen mengambil handphone Ying Hua dan mematikan panggilan secara sepihak, dia pun mengotak ngatik handphone Ying Hua kemudian melemparkan kembali handphone Ying Hua kepada pemiliknya.
Sebenarnya apa sih mau dia? Masih saja mengganggu hidupku
"Kenapa melihatku seperti itu? Apakah kamu terpesona?"
"Terpesona mata mu, aku tidak akan suka dengan mu tuh"
Ying Hua beranjak untuk pergi, namun Wang Chen kembali mendorongnya ke tembok kumuh itu. Kini tatapan Wang Chen sangat dingin, membuat kedua kaki Ying Hua gemetar ketakutan.
"Kamu sangat menyebalkan, bisakah kamu menghilang dari pandanganku?" Tanya Wang Chen dingin
lah dia yang menarikku kesini, kenapa aku yang disalahkan. aku juga tak ingin melihatmu tuh..
"Aku juga ingin kamu menghilang dari pandangan ku" Jawab Ying Hua
Mereka saling bertatapan dingin, hawa Wang Chen lebih mendominasi suasana mereka. Entah kenapa Ying Hua mulai tak nyaman dengan tatapan gairah yang tersirat di mata Wang Chen, apakah dia salah melihat itu?
Tanpa Ying Hua sadari, Wang Chen semakin mendekati wajahnya dan dalam beberapa detik ciuman diantara mereka terjadi. Ying Hua terkejut dan mencoba mendorong dada bidang itu, namun ciuman Wang Chen sangat menekan dan mendominasi. Dia tak bisa melakukan apapun sama sekali, Ying Hua memukul-mukul dada bidang Wang Chen. Wang Chen menarik kedua tangan Ying Hua ke atas dan menahannya, dia pun mencoba membuat Ying Hua membuka celah dibibirnya. Ying Hua tetap mengatup rapatkan bibirnya, dia tak ingin melakukan ciuman dengan pria berengsek ini.
Ying Hua pun menginjak kaki Wang Chen, membuat Wang Chen melepaskan ciuman mereka dan dalam detik itu juga Ying Hua menampar wajah tampan Wang Chen dan bergegas pergi. Untungnya pintu ruangan tersebut tak terkunci, dia membuka pintu dan melihat seseorang yang familiar didepannya sepertinya orang itu adalah pengawal Wang Chen. Ying Hua tak memperdulikan pengawal itu dan bergegas pergi dengan air matanya yang tumpah tanpa henti.
"Tuan?" Tanya pengawal Wang Chen khawatir
"Hongki, bagaimana ini? Aku suka...Aku jadi suka dan tertarik" Ungkap Wang Chen dengan wajah menyeramkan
Lu Hongki mulai ketakutan, dia paling takut jika pria ini mulai tertarik dengan sesuatu dan sesuatu ini adalah manusia. Untuk pertama kalinya, Hongki melihat tuannya tertarik dengan seorang wanita dan wanita itu adalah Ying Hua.
Ying Hua berlari tertatih-tatih menuju pintu keluar, dia menangis tanpa henti dan mengelap bibirnya sampai lipstik merahnya membuat wajahnya kotor. Ying Hua tak peduli dengan tatapan aneh orang-orang, dia takut. Bagiamanapun dia tak pernah berciuman, setelah dicium paksa oleh Wang Chen, dia merasa dilecehkan sebagai seorang wanita. Ying Hua tak menyukai perasaan seperti ini.
Aming melihat Ying Hua dan segera mendekatinya, dia terkejut dengan sosok Ying Hua yang sudah kacau. Aming segera membuka jas nya dan menutupi kepala Ying Hua, dia pun segera mengantar Ying Hua kembali ke dalam mobil.
Ying Hua masih tetap diam, tangannya masih bergetar ketakutan. Dia hampir mati karena pria itu, dia juga hampir dilecehkan saat di klub dan kini dia mengalami pelecehan secara paksa oleh pria itu. Dia tak sanggup mengucapkan nama sialannya, rasanya Ying Hua ingin menghajar dan memukuli wajah Wang Chen
"Nona..Maafkan saya, saya pantas dihukum"
"Tidak..kembali ke rumah...tidak aku ingin ke apartemen sekarang"
"Baiklah Nona"
Aming tak ingin menanyakan hal yang terjadi kepada Ying Hua, dia dapat melihat Ying Hua masih syok. Sepertinya terjadi sesuatu tanpa sepengetahuan nya. Aming pun tak lupa memberikan pesan terlebih dahulu kepada Jiazhen dan segera menyalakan mobilnya pergi dari situ.
...----------------...
Ying Hua memasuki apartemen nya, dia hanya disambut oleh Bao Yu dengan wajah cerianya. Ying Hua terpaksa tersenyum dan memasuki kamarnya tak lupa ia mengunci pintu.
Bao Yu tak mengerti apa yang terjadi tapi ia mengetahui bahwa Ying Hua tidak dalam keadaan baik-baik saja. Bao Yu pun pergi ke kemar kakaknya.
Ying Hua berada di kamarnya sejak tadi sore hingga malam hari, ia menangis tanpa henti. Aming juga tak bisa membujuk Ying Hua untuk keluar sama sekali, dengan terpaksa Aming memundurkan beberapa jadwal Ying Hua. Bao Yu dan bei kini sedang menyiapkan makan malam, mereka juga mengkhawatirkan keadaan Ying Hua.
"Aming...apa yang terjadi dengan nona?" Tanya Bei
"Aku juga tidak tahu"
"Kak Ying seperti orang yang mengalami pelecehan" Ungkap Bao Yu gamblang
Kedua pria itu mengerutkan keningnya dengan ucapan Bao Yu yang kasar, seorang anak kecil sejak kapan tahu kata itu.
"Darimana kamu mengetahui tentang kata pelecahan?" Tanya Bei kesal
"A..Bao Yu melihatnya di televisi" Jawab Bao Yu takut
"Apa yang sudah kamu tonton Bao Yu, jangan mengatakan hal-hal seperti itu lagi" Tegas Bei
"Maafkan aku kakak"
Bei melirik ke arah Aming dan berkata:
__ADS_1
"Kita biarkan nona tenang terlebih dahulu, dia butuh waktu"