
Ying Hua mengikuti mobil yang sedang membawa Bing Bing dari kejauhan, mereka tidak bisa mendekat karena Ying Hua sadar lawan mereka adalah pasukan Wang Chen yang cerdik dan peka. Sebenarnya Ying Hua tidak menyangka semuanya menjadi lebih kejam untuk Bing-Bing, dia tidak memiliki hati sejahat itu untuk orang yang hanya sekedar lewat dihidupnya.
Mobil hitam tersebut berhenti di tepi pinggir kota yang dihiasi oleh hutan belantara, Ying Hua dan Aming memberhentikan mobilnya cukup jauh. Ying Hua menyipitkan matanya untuk melihat apa yang akan mereka lakukan terhadap Bing Bing di pinggiran kota ini.
"Sepertinya nona muda itu akan mati" Ungkap Aming
"Dia tidak boleh mati"
"Lagipula anda kan membencinya nona, kenapa harus repot-repot menyelamatkan nya?"
"Kamu tau sebuah pepatah Arab "Kawanmu musuhmu, musuhmu kawanmu" sebuah pepatah yang memberikan arti bahwa musuhmu bisa menjadi temanmu"
"Jadi kamu mau berteman dengannya?"
"Tentu saja tidak, dia hanya pemanis dalam hidupku alias aksesoris yang akan aku gunakan sewaktu-waktu. Kita tidak bisa membiarkan orang sehebat dia mati begitu saja bukan?"
"Nona anda sangat menakutkan"
"Berhenti berbicara, kamu telepon kakakku minta bantuan kepadanya. Aku butuh pasukan elit nya itu"
"Bagaimana anda tahu tentang pasukan elit tuan?" Tanya Aming kaget, setahunya pasukan elit tuannya hanya diketahui oleh dirinya. Bahkan keluarga Ying tidak tahu sama sekali tentang pasukan elit yang dibuat oleh Ying Jiazhen
Ying Hua ingin memukul mulutnya yang suka bocor, dia lupa jika pasukan itu tidak boleh diketahui oleh siapapun di keluarganya. Ying Jiazhen membuat pasukan elit itu hanya untuk melindungi keluarga kecilnya dari ancaman pembisnis lain, ayah mereka tentu saja tidak setuju dengan tindakan kriminal seperti itu jadi Ying Jiazhen terpaksa melakukan secara diam-diam.
"Ahh kenapa memangnya kalau aku tau? Selama ini aku sadar ada orang-orang yang selalu melihat gerak gerik ku, aku ini peka sekali tau?!!"
"Benarkah? Saya rasa nona tidak peka, anda saja tidak tahu jika banyak pria yang mengincar anda"
"Apakah kita harus membahas hal tidak penting ini? Apakah kamu mau aku langsung terjun ke orang-orang berjas itu dan memukuli mereka sendiri?!! Aku pastikan besok kamu hanya mengenang nama mu, kakakku itu orangnya tidak segan-segan"
Aming meneguk ludahnya kasar, dia pun mengambil handphone khususnya dan memanggil tuan muda terhormat nya.
"Tuan...bolehkah saya meminta bantuan kepada pasukan elit kita?...Ah tidak...ini begini..."
Ying Hua merampas panggilan tersebut " Kakak!! Jika kau tidak meminjamkan pasukan mu sekarang, aku pasti akan mati, aku akan mati hari ini! Jadi cepat kesini selamatkan adik kecilmu! Aku butuh bantuanmu, aku tidak bisa sendiri menangani hal mengerikan ini. Aku mohon kakak, ini yang terakhir...mungkin" Ungkap Ying Hua ragu
"Dimana kalian? Apa yang terjadi kepadamu?! Kamu tidak akan mati, adikku tidak boleh mati. Cepat berikan lokasimu"
"Baiklah...Aming kirimkan lokasi kita sekarang"
Aming pun mengambil handphone nya dan memberikan lokasi yang bisa langsung dilacak oleh tuan muda nya, setelah itu Aming memberikan handphone nya kembali kepada Ying Hua, dia tidak ingin mendengar suara marah tuan muda nya itu.
"Sekarang cepat kesini"
"Tetap ditempatmu dan jangan lakukan apapun, aku tau kamu akan berbuat nekat Ying Hua"
"Aku harus menyelamatkan hidup seseorang kakak, kalau aku tidak bisa melakukan hal ini apakah aku masih disebut manusia? Tenang saja, aku ini orang hebat. Sampai jumpa"
Tutt tutt...
Setelah Ying Hua mematikan panggilan secara sepihak, dia pun mematikan handphone milik Aming. Ying Hua yakin pasti kakaknya akan menelpon mereka terus menerus, hal itu hanya menganggu konsentrasi nya saat ini.
__ADS_1
"Mereka telah masuk ke hutan nona"
"Ayok kita turun dan masuk ke hutan juga"
"Nona...saya tidak ingin sesuatu terjadi kepada nona. Sebaiknya anda tetap disini, biar saya yang menyelamatkan nona Bing Bing"
Ying Hua tidak ingin berdebat pun berkata " Baiklah, jangan sampai terluka parah. Aku akan menunggumu dalam waktu 30 menit, jika kamu belum kembali aku akan pergi menyusul"
Aming menganggukkan kepalanya, dia pun segera keluar dari mobil dan mengendap-endap memasuki hutan bersamaan dengan pasukan Wang Chen yang membawa Bing Bing masuk secara paksa.
...----------------...
Pinggiran Kota Luhan, Hutan Luhan.
Seorang pria dengan pakaian yang penuh bercak merah menyeringai kejam menatap seonggok tubuh yang kini sedang dijadikan pijakannya. Pria itu menghisap batang rokoknya dengan elegan, tangannya yang penuh dengan tonjolan otot membuang rokok tersebut setelah puas menikmati nya.
"Tolong...to..long maafkan saya tuan, saya...sa..ya...uhuk uhuk" Ungkap orang yang sedang diinjak oleh pria tersebut
Pria yang menggunakan kemeja putih dengan celana hitam itu hanya menatap datar ke depan tanpa mengasihani orang yang dipijaknya. Selang beberapa lama, seorang pria berkacamata muncul dari belakang dan berkata
"Tuan...beberapa orang memasuki hutan ini. Kita harus pergi sekarang"
Pria kemeja putih itu berdiri, dia pun memberikan kode mata kepada orang-orang nya untuk menyelesaikan pria yang telah terbujur kaku di lantai kotor tersebut.
"Buat dia mati" Ungkapnya
"Siap Tuan" Jawab mereka serentak
"Siapa yang berani memasuki kawasanku Jianlin?" Tanyanya kepada pria berkacamata
"Saya tidak tahu, tapi mereka membawa seorang gadis muda yang terlihat menyedihkan"
"Urus mereka, aku tidak mau orang lain mengotori hutan milikku ini"
"Baik tuan"
...----------------...
30 menit kemudian...
Ying Hua akhirnya keluar dari mobil, dia pun melepaskan sepatu high heels nya dan menggantinya dengan sneaker. Tak lupa ia mengikat rambutnya tinggi-tinggi, dia harus melihat apa yang sedang terjadi.
Ying Hua memasuki hutan yang diselimuti pohon-pohon tinggi, di dunia nya dulu tidak pernah ada hutan yang memiliki pohon setinggi ini. Hutan ini sangat lembab, seolah-olah dia berada di negara lain, mengingatkan dirinya dengan hutan Amazon yang terkenal akan hewan buasnya. Memikirkan hewan buas, dia menjadi merinding sendiri.
Ying Hua mengambil beberapa kayu yang sebesar lengannya, dia harus membawa senjata untuk menikam mereka. Bagaimanapun dia sadar diri jika dirinya tak bisa melawan orang-orang yang pandai berkelahi.
"Lihat saja, akan aku berantas mereka dengan kayu ku ini. Mati kalian!"
Ying Hua kembali berjalan, dari kejauhan dia mendengar suara yang familiar. Ying Hua yakin itu suara teriakan Aming, Ying Hua dengan cepat berlari menerobos ranting-ranting tajam yang melukai dirinya. Dia tidak perduli kini keselamatan Aming adalah utamanya.
Ying Hua melihat Aming yang dipukuli oleh beberapa pria berkaos hitam, disisi lain dia menatap sosok Bing Bing yang berada di pelukan pria berkacamata dengan jas Oren yang mencolok, bagaimana bisa ada pria menggunakan jas Oren di tengah hutan seperti ini?
__ADS_1
Ying Hua yang sadar dengan teriakan Aming pun mengambil ancang-ancang maju ke depan, dia berteriak keras dan memutar mutarkan kayu miliknya ke arah orang-orang tersebut. Dia tidak perduli siapa yang akan kena, intinya Aming harus selamat.
"Ahhh pergi! Pergi kalian dari Aming ku, pergi kalian setan jahanam. Kalian akan mati hari ini! Ahhh"
para pria yang memukuli Aming pun segera mundur melihat keganasan seorang Ying Hua, namun berbeda dengan pria yang lain. Pria dengan jas merah itu berjalan mendekati Ying Hua dan dengan gesit mengambil paksa kayu yang Ying Hua gunakan karena hal tersebut tubuh Ying Hua tertarik menuju dada bidang pria tersebut.
Aroma asing memasuki Indra penciuman Ying Hua, dia masih bingung dengan situasinya sekarang. Ying Hua pun mengadahkan kepalanya untuk melihat siapa yang berani menghentikan tindakannya, sebuah bibir tebal bewarna merah muda menyambut dirinya disusul dengan rahang tajam dan hidung mancung yang mempesona. Mata hitam legamnya menatap Ying Hua dengan pandangan tak suka, Ying Hua terpesona dengan wajah pria itu. Dunia novel memang dunia yang penuh dengan pria tampan.
"Siapa kau?" Tanya pria itu sambil mencengkram dagu Ying Hua kuat
Ying Hua kesakitan, kenapa pria ini sangat kasar kepadanya? Siapa dia? Apakah dia ketua dari orang-orang Wang Chen? Benar-benar pria kasar, dia benci pria kasar seperti ini.
"Lepaskan aku sialan"
"Hah!! Sialan kata mu?!!" Tekan nya
Suara bariton itu sangatlah memukau, Ying Hua menyadarkan dirinya. Kenapa dia cepat sekali terpengaruh dengan gerak gerik pria asing ini?
"A...ahkkk..aku disini hanya menyelamatkan temanku!!! Hei ini sakit!!"
Dagu Ying Hua dibuang kasar kesamping oleh pria berjas merah itu, Ying Hua menyentuh dagunya yang memerah. Dia pun memelototi pria aneh dan kasar didepannya.
"Teman? Wanita itu?"
"Iya dia temanku! Dan pria yang kamu pukuli ini juga temanku, dia mencoba menyelamatkan teman ku itu! Kenapa kalian memukulinya! Lagipula siapa kalian? apakah kalian pesuruh Wang Chen? Kenapa ganteng sekali sih" Gumam Ying Hua di akhir
"Wang Chen? Maksud mu pecundang itu? Kamu wanitanya?" Tanya nya kepada Ying Hua
"cuih cuih aku tidak sudi menjadi wanita nya, jangan berkata kotor kepadaku" Jawab Ying Hua kesal
"Maaf nona, saya sebagai perwakilan ingin meminta maaf sebelumnya. Saya kira, pria yang menyelamatkan nya ini akan berbuat sesuatu kepada wanita muda itu ternyata pria teman anda benar-benar menyelamatkan nya." Jawab seorang pria berkacamata
"Makanya sebelum memukul seseorang tanya terlebih dahulu tujuan mereka, kalau buruk baru kalian pukul" Teriak Ying Hua
"Berisik sekali kelinci ini" Ungkap pria berjas merah
"Kelinci? Aku ini manusia?!! Tidak lihat apa!!" Ying Hua paling tidak suka dengan kelinci, yah dia mempunyai trauma karena digigit oleh hewan lucu itu.
"Sebenarnya kalian ini siapa?" Tanya Ying Hua kembali
"Ahh maaf sebelumnya, perkenalkan saya Jianlin dan ini Tuan saya Xukai"
Xukai? Aku sepertinya pernah mendengar nama ini, entah kenapa nama ini membuatku merinding
"Xukai?"
"Yah benar Mao Xukai, pembisnis terkemuka dari wilayah barat negara ini" Balas Jianlin
"Apa?!!!!!" Teriak Ying Hua
Bersambung...
__ADS_1