Kekasih Terpaksa Sang Penguasa

Kekasih Terpaksa Sang Penguasa
Bab 10. Bawa Gadisku!


__ADS_3

“Gadis itu sekarang tinggal di apartemen Bougenvil, lantai tiga, nomor empat.” Annie memberitahu di telepon.


Sepanjang siang hingga sore wanita itu mendatangi beberapa rumah teman Lisle. Tak ada yang benar-benar akrab. Shania yang diketahuinya sebagai sahabat Lisle tampak menutup mulut rapat-rapat. Dia hanya mengatakan Lisle tak pernah menelponnya sejak pergi malam itu.


Tapi ada Bella yang bermulut pedas. Dia mengatakan keponakannya itu menyewa sebuah apartemen jelek di Black Mountain. Dan mengatakan pendapat pribadinya yang bagi  Annie tak masuk akal, Lisle telah bekerja di sebuah kelab dan mendapatkan uang dengan menjadi wanita penghibur di sana. Lisle yang setahu Annie tak pernah punya pacar, bagaimana mungkin bisa  berhubungan dengan banyak lelaki?


Seorang gadis berkacamata minus yang juga tak begitu akrab dengan Lisle membenarkan alamat itu. Dia menyangkal soal pekerjaan yang diceritakan Bella. Menurutnya itu cuma khayalan gadis itu karena masih jengkel dengan Lisle suatu hari.


Meski tak percaya dengan Bella, mau tak mau Annie merasa lega juga mendengar perkataan gadis yang selalu membenarkan letak kacamatanya setiap kali melorot saat berbicara. Bagaimana mungkin dia menyerahkan seorang gadis yang tak lagi murni untuk tuan Aaron?


Respon Aaron tidak seperti harapan Annie.


“Kau sudah mengosongkan rumahnya?” cetus Aaron membuat Annie terbelalak tak percaya. Dia pikir tuan Aaron akan memberikan sedikit kelonggaran padanya. Sepanjang hari itu dia terlalu sibuk mencari informasi tentang Lisle tapi Aaron masih menginginkannya meninggalkan rumah itu.


Wanita itu mengepalkan tangannya karena marah. Hanya itu yang bisa dilakukannya. Menahan diri, apalagi. Seorang Aaron tak pernah peduli perasaan siapa pun.


“Be... belum, Tuan....” Tenggorokan Annie terasa tercekik.


“Sebaiknya kau pergi besok. Tapi jangan kuatir, aku akan mengembalikan rumah sialan itu bila jaminannya sudah kudapatkan.” Lantas Aaron memutus sambungan.


Di sebuah rumah besar dalam ruang kantornya, Aaron meletakkan ponselnya di atas meja. Dia memandang pada Bay yang sedang duduk di sebuah sofa di depannya  “Suruh Mike dan Harry ke sini!” perintahnya.


Bay tidak mengatakan apa pun. Hanya mengangguk pelan dan bangkit meninggalkan tuannya di ruang kerja besar itu.


Aaron telah terbiasa dengan sikap Bay yang tak banyak bicara. Bukan berarti Bay bisu. Sesekali dia bicara juga. Hanya sangat jarang.


Tugas kali ini tidak berat. Hanya membawa seorang gadis dan mengawalnya sepanjang perjalanan lebih kurang setengah jam dengan pesawat. Apa yang membahayakan dari seorang gadis lemah? Bila semuanya berjalan lancar, gadis itu sudah akan ada di rumah ini besok .


Membayangkan tentang gadis itu, Aaron tersenyum sendiri. Dia kerap melihat Lisle di toko Annie sedang melayani pembelinya. Cantik. Gerak-geriknya halus dan bicaranya juga lembut. Dia sering ke sana membeli hal-hal kecil hanya sebagai alasan bisa menyapa gadis itu.

__ADS_1


Aaron tahu gadis itu ramah kepada siapa pun. Setiap kali dia memanggilnya sweety, gadis itu hanya tersenyum manis dan mungkin menganggap itu cuma lelucon seorang lelaki tua.


Lagi-lagi Aaron tersenyum pada tembok di depannya.


Sejak awal dia melihat Lisle, Aaron tahu bahwa dia harus memilikinya. Apalagi dia tahu beberapa pemuda telah mencoba mendekati Lisle, semakin membuat Aaron bersemangat untuk segera mendapatkan gadis itu. Disusunlah kemudian sebuah rencana. Kebetulan Bibi Lisle yang penjudi itu selalu kehabisan uang. Jadi Aaron memberinya pinjaman yang terus bertambah setiap harinya. Setelah pinjaman itu cukup banyak hingga tak memungkinkan bagi wanita itu membayar, Aaron menginginkan Lisle sebagai jaminan.


Kira-kira setengah jam menunggu, terdengar ketukan di pintu.


“Masuk!” Aaron mempersilakan.


Dua orang lelaki, satu bertubuh kurus dan yang lainnya berperawakan sedang, masuk. Di belakangnya, Bay menyusul tapi hanya sebatas pintu. Dia menunggu di sana.


Dua orang suruhan Aaron itu tinggal di belakang tembok pembatas rumah besar tuannya. Ada sebuah rumah berukuran sedang dan beberapa rumah lainnya yang dihuni para pekerja perkebunan kopi.  Bay hanya berjalan kaki sebentar melewati sebuah pagar untuk sampai ke sana.


Mike bertampang muram dan selalu terlihat sedih sejak kematian istrinya. Padahal dia sendiri yang sudah mencekik wanita itu saat mabuk. Menjadi semakin sering mengunjungi bar di daerah itu setelahnya.


Sedangkan Harry adalah kebalikan dari Mike. Tubuhnya hanya sedikit lebih rendah di banding Mike yang jangkung dan kurus. Tapi wajahnya tak henti tersenyum.  Orang-orang bahkan mengira dia juga kelihatan tersenyum saat dia bersedih.


“Temukan gadis ini!” Tuan Aaron mengulurkan sebuah amplop coklat berukuran folio.


Harry menerimanya dan segera melihat isinya. Sebuah foto. Secarik alamat dan sebuah amplop yang lebih kecil. Dia tahu isinya, setumpuk uang kertas.


Harry menyeringai senang begitu melihat langsung lembaran-lembaran alat penukar itu. Tanpa menghitung, dia tahu itu adalah jumlah yang cukup banyak.


“Jangan ada kekerasan. Bila harus memaksa, jangan sampai gadis itu terluka. Aku tidak ingin paketku tiba dalam keadaan cacat meski cuma sekedar goresan.” Aaron berhenti, teringat olehnya kulit putih mulus milik gadis itu.


“Tapi yang pasti selesaikan tugas ini secepatnya. Aku akan memberikan bonus tambahan bila kalian tiba nanti.”


Seringai di wajah Harry makin lebar mendengar janji Aaron. Mike tampak ikut tersenyum tapi kemuraman di wajahnya membuat senyum itu terlihat buruk. Dalam pikiran keduanya adalah betapa beruntungnya mereka kali ini. Tugasnya sangat mudah tapi mereka dibayar mahal untuk itu.

__ADS_1


“Baik, Tuan. Kami akan berusaha secepatnya kembali.” Harry yang berbicara.


“Bay akan mengantar kalian ke bandara. Ingat, jangan memancing keributan kalau tidak perlu!” Aaron mengingatkan.


Keduanya hanya mengangguk.


“Kalian boleh pergi. O ya, Mike, sementara kalian bertugas, aku tidak ingin kau mengacaukannya dengan kesenangan minum-minummu itu!”


“Baik, Tuan.” Kali ini Mike yang menyahut. Dia memang tidak berencana mabuk mulai malam ini sampai dua hari ke depan. Dia masih punya waktu setelah tugas ini selesai.


“Pergilah!” Aaron menggerakkan tangannya di udara sebagai bentuk pengusiran.


Keduanya bergegas pergi diikuti Bay.


Sekembalinya Bay dari mengantar satu jam kemudian, Aaron tampak sibuk dengan lembaran-lembaran kertas di mejanya. Dia mengangkat wajahnya begitu melihat Bay masih berdiri meski dia sudah menyuruhnya pergi beristirahat.


“Apa tidak lebih baik saya yang pergi, Tuan. Konon Black Mountains bukan tempat yang ramah.”


Si bisu ini berbicara juga, pikir Aaron.


“Aku masih memerlukanmu di sini, Bay. Beberapa pinjaman akan jatuh tempo dalam dua hari ini. Aku tak bisa mengandalkan yang lain.” Dia memberitahu.


“Aku tahu kecemasanmu. Tapi dia cuma seorang gadis miskin. Tak ada yang akan kehilangan.” Aaron menenangkan sambil terus melanjutkan pekerjaannya.


Di hatinya, Bay membantah perkataan tuannya. Sesuatu bisa tak sesederhana kelihatannya.


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2