
Pesta pernikahan Kennard dan Lisle menjadi pesta pernikahan terbesar sepanjang sejarah kota Black Mountain. Digelar di hotel termewah milik Diamond Group sendiri dan dihadiri tamu-tamu penting dan terhormat. Media massa mengekspos beritanya habis-habisan. Dan terungkapnya banyak hal mengejutkan banyak orang. Salah satunya adalah bahwa pasangan itu sebenarnya sudah lama menikah.
Lisle dalam balutan gaun pengantin putih berdiri di depan cermin menyusut sudut matanya yang mengembun. Ada perasaan bahagia dan sedih yang bercampur jadi satu. Dia tak mengira bahwa Kennard akan memberinya pesta semegah itu. Dan merasa sedih karena sahabatnya Celine tidak bisa berdiri di sisinya hari ini.
Sehari sebelumnya Lisle pergi ke tempat Celine dirawat dan berharap yang terakhir kalinya bahwa Celine telah pulih hingga dia bisa mengajak gadis itu ke pesta pernikahannya. Ternyata kenyataan tak sesuai keinginan. Mata Celine masih dipenuhi tatapan asing. Lisle akhirnya pulang dan menangis sepanjang perjalanan kembali ke Palm Garden.
“Nyonya, tuan sedang menunggu Nyonya di ruang utama.” Seorang wanita dengan seragam pelayan menyampaikan pesan.
“Katakan, aku segera ke sana,” ujar Lisle sembari menolak riasannya diperbaiki oleh seorang penata rias.
Sebenarnya Lisle merasa lelah setelah setengah hari menerima ucapan selamat dari para undangan. Dari sekian banyak tamu, orang yang diharapkannya malah tidak datang. Steve tidak bisa dihubungi. Entah dimana saudara satu-satunya itu berada. Sudah sebulan sejak kepergiannya, Lisle tidak mendengar kabar beritanya.
Sang pelayan membantu Lisle memegangi bagian belakang gaunnya yang panjang agar tidak tersangkut saat berjalan. Lagi-lagi dia menjadi pusat perhatian saat melangkah memasuki ruang utama pesta yang besar dan megah. Matanya menemukan suaminya di dekat panggung besar sedang bersama sepasang tamu lelaki dan wanita. Lisle tidak bisa melihat wajah keduanya karena posisi mereka yang berdiri membelakangi. Tapi sepertinya Lisle mengenalinya.
Saat Lisle sudah hampir dekat dengan mereka, si tamu lelaki berbalik ke arah Lisle. Sontak Lisle menjerit senang.
“Steve! Kupikir kau tak akan datang.” Lisle memburu ke arah Steve dan tanpa mempedulikan pandangan orang-orang, dia memeluk saudaranya. Dia sangat merindukan Steve. Sebenarnya, dia merindukan ayah ibunya. Sekarang yang tersisa hanya saudara laki-lakinya, bagaimana dia bisa menahan diri untuk tidak memeluk laki-laki ini.
Jangan pedulikan suami pencemburu itu. Biar saja dia terbakar sendiri, suara batin Lisle acuh. Dia bahkan tidak melirik Kennard sama sekali dan malah mengeratkan pelukannya.
Steve merasa sesak napas, tapi dia tidak menolak pelukan kerinduan itu. Dia juga tidak akan peduli seandainya tuan Kent marah besar. Lelaki itu justru membalas pelukan adik perempuannya.
“Tentu saja aku akan datang. Kau adikku satu-satunya. Bagaimana perasaanmu sekarang? Apa kau bahagia?” tanya Steve sambil menyentuh sisi wajah Lisle yang berlinangan airmata.
“Aku sangat bahagia....” Suara Lisle tersekat di tenggorokan. Dia nyaris putus asa karena tak melihat Steve di antara para tamu.
“Ehem.” Gadis yang berdiri di dekat mereka berdehem setelah beberapa lama diabaikan.
“Lisle, apa kau masih mengingatku?”
Lisle melepaskan pelukannya dari Steve dan berbalik ke arah asal suara. Tanpa perlu waktu yang lama dia langsung mengenali gadis itu.
“Andra? Tentu saja aku ingat. Bagaimana aku bisa lupa?” Lisle menghapus airmatanya dan meraih kedua lengan Andra. Hatinya merasa kagum pada kecantikan gadis itu. Dulu dia selalu percaya kalau Andra lebih mirip seorang model.
Andra tertawa. “Kau kelihatan sangat cantik, Lisle.”
“Kau lebih cantik.” Lisle balas memuji. “Jadi, dengan siapa kau datang?” Lisle menatap sekeliling dan bertemu pandang dengan Steve. Keningnya berkerut saat baru terpikir sesuatu.
“Apa kalian datang bersama?” tanya Lisle meminta kepastian atas dugaannya.
Steve hanya bergumam mengiyakan. Sedangkan Andra mengangguk sembari tersenyum penuh teka-teki.
Lisle melepaskan pegangan tangannya dari Andra. “Kalian... A... apa dia gadis iitu”
Lisle menatap Steve dan Andra bergantian. “Kalian berpacaran?” pekiknya.
__ADS_1
Andra tak dapat menahan tawanya kini. Dia menoleh pada Steve meminta persetujuan. Kemudian katanya, “Sebenarnya, kami sudah menikah?” Gadis itu menunjukkan cincin di jari manisnya.
“Aah!” Lisle histeris sendiri. “Kalian curang. Kalian bersembunyi dariku!” Lalu dia teringat pada Kennard yang dari tadi tampak tidak peduli dengan kehebohan yang ditimbulkan istrinya. “Ken, apa kau juga tahu kalau mereka sudah menikah?”
Jawaban Kennard membuat Lisle benar-benar kesal. “Apa aku perlu tahu?” ujar suaminya tanpa memandang sedikit pun pada istrinya.
“Ken!” Lisle menekuk bibirnya dan menarik lengan suaminya. “Apa kau tidak merasa kalau Steve semakin lama menjadi semakin mirip denganmu?”
Kali ini Kennard menoleh pada Lisle. Wajahnya menyiratkan ketidaksenangan. “Jangan pernah menyamakan aku dengan siapa pun.”
Lisle kini tertawa. “Bukankah dia juga menikah tanpa setahu orang-orang sepertimu? Dia belajar banyak darimu.”
“Dia cuma seorang peniru,” bantah Kennard pantang mengalah.
Steve dan Andra hanya bisa saling berpandangan mendengar perdebatan itu. Keduanya diam-diam menyelinap pergi dari sana. Mereka tahu, jika tinggal lebih lama lagi mungkin nasib mereka tidak akan begitu baik.
Waktu Lisle menyadari Steve dan Andra yang tiba-tiba menghilang tanpa berpamitan, dia mulai sibuk mencari-cari. “Kemana mereka?” Lisle sudah hendak beranjak dari sisi suaminya tapi segera dicegah.
“Mereka tidak akan kemana-mana. Apa kau tidak lapar? Kau belum makan apa pun sejak tadi pagi.” Kennard mengingatkan Lisle.
Pagi tadi mungkin Lisle terlalu gugup hingga tak sanggup menelan sesendok pun makanan. Dia hanya menghabiskan beberapa teguk susu. Saat makan siang pun gadis itu menolak makan sesuatu dan lagi-lagi hanya minum segelas air putih.
“Aku tidak berselera. Rasanya perutku tidak enak. Setiap aku melihat makanan apa pun sepertinya isi perutku hendak keluar.” Lisle merasa mual teringat aneka hidangan yang ada di atas meja. “Mungkin karena aku terlalu gugup dengan pestanya.”
“Tapi sekarang sudah hampir sore. Kau harus makan sesuatu. Kalau tidak kau bisa sakit. Aku tak ingin terjadi apa-apa padamu.” Kennard menarik Lisle menuju deretan meja dengan aneka hidangan. Dia mengambilkan sepotong puding ke sebuah piring kecil. “Cobalah!”
“Tidak mau?” Kennard meletakkan piring di tangannya ke meja, merasa khawatir ketika menyadari ekspresi tidak nyaman di wajah Lisle. Padahal sebentar tadi dia tampak baik-baik saja. “Sayang, apa kau merasa sakit?”
Lisle tidak menyahut. Kepalanya terasa pusing tiba-tiba. Dia berpegangan pada lengan Kennard bermaksud menjadikannya sebagai tumpuan. Namun pandangannya lalu menjadi gelap dan dia bahkan tidak lagi memiliki kekuatan untuk berpegangan pada suaminya.
“Lisle!”
Lisle samar-samar sempat mendengar panggilan cemas Kennard sebelum kehilangan kesadaran.
***
“A... apa? Aku hamil?” Lisle menatap Kennard dengan rasa tidak percaya. Baru saja suaminya memberitahu kemungkinan itu. “Tapi....”
Lisle teringat kalau dia memang ‘tidak kedatangan tamu’ bulan lalu. Namun kesibukan persiapan pernikahan membuatnya tidak sempat memikirkannya dan hanya mengira jika itu masalah hormon belaka.
Dipandanginya Kennard dengan perasaan campur aduk. “Tapi, aku masih kuliah. Bagaimana aku....”
“Sayang, jangan memikirkan yang tidak-tidak dulu. Semua bisa diatur. Sekarang yang penting jaga kesehatan dirimu dan calon anak kita.” Kennard berusaha menenangkan kekhawatiran Lisle.
Lisle terdiam beberapa saat. Lalu teringat olehnya sesuatu. Belum sempat dia mengatakannya, terdengar pintu kamar diketuk.
__ADS_1
“Masuk!” ujar Kennard pada seseorang di luar sana.
Pintu terbuka. Steve dan Andra berjalan masuk.
“Bagaimana keadaannya? Kau tidak apa-apa?” Steve mendekat ke sisi tempat tidur.
“Steve, kurasa kau akan punya keponakan.” Lisle menggenggam tangan kakaknya sambil tersenyum. Tadi dia hendak menanyakan keberadaan Steve pada Kennard. Ternyata lelaki ini sudah muncul lebih dulu.
“Benarkah?” Steve terlihat terkejut sekaligus bahagia. Dia menoleh pada Kennard di sebelahnya. “Tuan, selamat menjadi ayah.”
Steve tahu kesepian yang selama ini dirasakan tuannya. Itu persis yang dirasakannya pula. Setelah menikah dan dianugerahi keturunan, kebahagiaan tuan dan adiknya tentu akan lebih sempurna. Steve juga berharap kebahagiaan itu akan segera menular padanya.
Dipandangnya saudari dan tuannya bergantian. Lalu tatapannya bertemu dengan Andra, gadis yang telah dinikahinya diam-diam. Semua wajah tampak berbahagia atas berita itu dan Steve berharap kalau kebahagiaan itu akan berlangsung lebih lama lagi. Dan lebih lama lagi.
Kali ini benar-benar TAMAT yaaa.... 🤭🤭🤭
Tapi tentu saja tidak menutup kemungkinan author bikin novel lain yang mengisahkan tentang anak-anak dari Lisle dan Kennard. Namun untuk saat ini cerita mereka sampai di sini dulu.
O ya, author baru mulai menulis novel baru. Judulnya KUTUKAN BULAN MATI. Genre roman fantasi. Kalau ada waktu mungkin bisa mampir.
Akhirnya, terima kasih banyak atas semua dukungan dari kalian. Terima kasih sudah baca, like, komen, rate, favorit, hadiah.
Semoga kita semua diberi keselamatan, kebahagiaan, kesehatan dan rejeki yang banyak serta berkah. Tetap semangat menjalani hari. Dan... HAPPY NEW YEAR 2023 🎉🎉🎉
Salaaam.... 🥰🥰🥰
__ADS_1