
Lisle menyendok makan siangnya sesuap demi sesuap dengan pelan. Dia melirik pada Kennard yang tampak telah kembali rapi dan bersemangat. Lalu kembali menunduk pada piring di depannya. Dia merasa lemas setelah satu sesi memalukan di kamar istirahat. Kennard memakannya di lantai tertinggi gedung ini dengan dinding kaca yang terbuka. Bagaimana kalau ada yang kebetulan mengarahkan teropong ke arah sini. Atau barangkali sebuah satelit di angkasa menangkap pertarungan mereka. Bagaimana kalau….
"Tampang apa itu?" Kennard menegur Lisle yang menjadi pendiam. Dia tahu istrinya tidak terima dengan perlakuannya barusan dan terus-menerus protes soal kaca yang terbuka.
"Kau menjengkelkan." Lisle merajuk dan meletakkan sendoknya. "Bagaimana kalau seseorang mengintip dari kejauhan?"
Kennard tak bisa menahan tawanya. "Sayang, kacanya tidak tembus pandang. Tidak ada yang akan mengintip. Lagipula ini gedung tertinggi di kota ini. Darimana seseorang bisa melihat sampai ke sini."
Benarkah? batin Lisle sedikit ragu. Bibirnya masih ditekuk. Terlihat tidak senang.
"Sepertinya ada yang ingin kau katakan." Kennard mengusik kebisuan istrinya. Lisle pernah diajaknya ke kantor bila merasa bosan di rumah. Tapi gadis itu menolaknya.
"Humm…."
"Humm?" Kennard meniru gumaman tak jelas Lisle. Dia telah selesai dengan makan siangnya.
"Aku tidak bertemu Celine hari ini. Ponselnya juga tidak aktif. Kata penjaga apartemen, dia sudah beberapa hari tidak pulang. Kupikir telah terjadi sesuatu padanya. Bisakah kau menyuruh seseorang untuk mencarinya?" Lisle akhirnya mengatakan masalahnya pada Kennard.
"Si Pengganggu itu?"
"Ken." Lisle tidak suka dengan julukan yang diberikan Kennard pada sahabatnya. "Dia sahabatku. Karenanya dia peduli padaku."
"Apa aku harus menemukan semua orang yang hilang? Bukankah kota ini memiliki kantor polisi?" Kennard menautkan jari-jarinya. Tampak tak peduli.
"Kau ingin aku mengadu ke kantor polisi?" Lisle balik bertanya dengan kesal.
Kennard tak menyahut. Lelaki itu bangkit dari duduknya dan kembali ke meja kerja.
Lisle ikut bangkit membuntuti suaminya. Dia berdiri di sebelah kursi dan menarik-narik lengan baju Kennard.
"Ayolah! Kau bilang kau bisa menemukan apapun dan siapapun yang ingin kau cari," rengek Lisle pada suaminya. "Celine sudah beberapa hari tidak pulang. Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya?"
Kennard merapikan tumpukan dokumen yang tadi berserakan di mejanya. Tadi penolakan Lisle padanya sempat membuat dokumen itu berhamburan ke lantai ruangan. Lelaki itu menyeringai.
"Apa?" Lisle melihat senyum jahat itu. Dia berhenti mengguncang lengan Kennard. Menatap lelaki itu dengan curiga. Suaminya seringkali susah ditebak.
Kennard menggeleng. "Bukan apa-apa."
"Kau tersenyum." Lisle menatap suaminya dengan pandangan menuduh.
"Lalu kenapa kalau tersenyum?"
__ADS_1
"Kau mencurigakan." Lisle berujar terang-terangan.
Kennard tergelak. Dia jarang tersenyum. Apalagi bisa tertawa selepas ini. Istrinya terkadang sangat jujur. Bahkan dari wajahnya saja Kennard bisa menebak isi kepala gadis ini. Lisle penasaran dengan apa yang Kennard pikirkan.
"Bagaimana kalau kita membuat pertukaran?" usul Kennard.
"Pertukaran? Maksudnya?" Lisle semakin curiga.
"Bila aku berhasil menemukan Celine, kau yang harus berinisiatif lebih dulu." Kennard menarik punggungnya ke sandaran, menatap pada istrinya yang berdiri di samping. Sebelah lengan menumpu wajah menawannya.
"A… apa maksudmu?" Muka Lisle memerah. Dia mencoba tidak berpikir kotor.
"Kau tahu maksudku. Bukankah selama ini selalu aku yang berinisiatif memulai," ujar Kennard sambil tersenyum penuh siasat.
Sesaat Lisle bungkam. Kini wajahnya memerah seluruhnya. Kennard benar-benar monster.
"Kau… kau mesum." Lisle melepas pegangannya pada lengan Kennard. Dia hendak menjauh tapi Kennard menahannya.
"Kurasa pertukarannya cukup adil. Itu bukan sesuatu yang sulit untuk dilakukan." Kennard menarik lengan istrinya membuatnya kembali dekat. "Bagaimana? Katakan setuju dan kau akan bisa mendapatkan kabar tentang sahabatmu dengan segera."
"A… aku akan memikirkannya lebih dulu." Lisle tersipu. Berinisiatif lebih dulu? Mereka baru saja menikah, dan Lisle masih merasa malu.
"Kau keterlaluan!" Lisle kesal. Kennard berusaha membuatnya cemas.
"Aku hanya berusaha mengingatkan. Apalagi kau bilang sudah beberapa hari. Bisa saja saat ini memang sudah terjadi sesuatu pada…."
"Aku setuju!" Lisle memotong kata-kata suaminya. Kennard berhasil mendesaknya. "A… aku setuju," ulang Lisle sambil berpaling dari senyum kemenangan itu.
"Deal." ujar Kennard.
"Kuharap bisa mendengar kabar tentang Celine secepatnya." Lisle berjalan ke sofa dan meraih tasnya.
Kennard memperhatikan Lisle yang sudah berjalan ke arah pintu keluar. "Sudah mau pergi?"
Tapi Lisle tidak mempedulikan teguran suaminya.
***
Beberapa hari sebelumnya….
Celine memperhatikan riak sungai dibawah sana. Permukaannya memantulkan lampu-lampu penerang di sepanjang jembatan tapi tidak cukup untuk melihat warna airnya. Tetap saja hitam di bawah langit malam.
__ADS_1
Lelaki itu berkata akan menemuinya di jembatan ini tepat pukul sembilan malam.
Kenapa harus di tempat sepi seperti ini? Malam-malam pula.
Celine tidak ingin memikirkannya.
Bertemu seseorang yang asing, di tempat yang jarang dilalui orang, pukul sembilan malam, Celine tahu itu beresiko. Penuh bahaya.
Tapi hatinya saat ini begitu kosong. Dan mati.
Dia tidak tahu berharap itu seperti berdiri di tepi jurang tanpa pegangan. Tiba-tiba saja dia terjatuh ke dalamnya. Tak ada yang mendorong. Dia sendirilah yang melangkah maju.
Steve, lelaki yang begitu baik awalnya, Celine pikir. Dia bahkan bisa melihat senyum irit itu. Ternyata semua yang dilakukannya terhubung dengan sahabatnya, Lisle yang kini berstatus nyonya muda. Seandainya dia tidak berteman dengan gadis itu, akankah Steve mengulurkan tangan memberi bantuan? Mungkin melirikpun tidak.
Seperti pohon bunga yang harus mati sebelum bertunas. Celine bahkan belum sempat bermimpi. Lelaki itu tiba-tiba membuat jarak.
Steve datang di hari pemakaman ibu Celine. Katanya dia sangat sibuk. Celine berusaha memaklumi. Tapi dia juga sakit hati.
Harusnya tidak begini. Mestinya dia tidak menelpon Steve untuk meminta bantuan. Dan kini sepertinya lelaki itu menyadari sesuatu.
Sebuah mobil berwarna gelap berhenti di belakang Celine. Gadis itu tersadar dari lamunannya dan berpaling. Dua orang lelaki keluar bersamaan dari kedua sisi mobil. Alarm tanda bahaya di kepala Celine berbunyi. Dia melangkah ke sisi yang berlawanan dari kedua orang yang datang mendekat.
***
Lisle tiba di Palm Garden dengan perasaan letih. Dia masih mencoba menghubungi nomor Celine tapi ponselnya masih belum diaktifkan. Belum sempat gadis itu memejamkan mata, ponselnya kembali memperdengarkan nada panggil. Lisle melihat sebuah nomor asing terpampang di layar ponsel. Sedikit ragu diterimanya panggilan tidak dikenal itu.
"Hallo?"
"Hallo. Lisle?" Sebuah suara yang tidak begitu asing memasuki pendengarannya.
Lisle sedikit lupa dengan suara itu tapi juga merasa mengenalnya. "Siapa?" tanyanya sedikit takut. Sebuah nama melintas di benaknya beberapa saat kemudian.
"Hei, kau sudah melupakan sepupumu ini? Apa karena kau sudah menikah dengan orang kaya lalu kau lupa pada kerabat satu-satunya?" Itu memang suara Bert. Pemuda pemalas, sepupu terakhir yang diketahui Lisle masih dimilikinya.
---------------------
Hallo semua.... Author mau promo karya baru, nih! Ada yang suka baca chat story, ngga? Atau belum pernah baca tapi pengen coba baca. Search chat story dengan judul TABUNGAN NIKAH BUAT SANG CEO. Bercerita tentang gadis bernama Cheryl Alma yang berpacaran dengan Michael Berton yang merahasiakan identitasnya sebagai seorang CEO. Adakah Mike serius atau cuma bermain-main dengan Cheryl? Silahkan disimak ceritanya, ya....
O ya, mohon dukungannya juga dengan klik like, komen, vote, share, rate ataupun hadiah.
Salaaam...
__ADS_1