Kekasih Terpaksa Sang Penguasa

Kekasih Terpaksa Sang Penguasa
Bab 99. Kakak Ipar Tuan Kent


__ADS_3

"Apa Celine baik-baik saja?" tanya Lisle pada Kennard yang berdiri di belakangnya mendorong kursi roda yang didudukinya.


Mereka tengah berada di halaman belakang Palm Garden yang luas. Kennard pulang cepat hari ini dan menemani istrinya berjalan-jalan.


"Dia baik-baik saja. Hanya ingatannya belum pulih." Kennard menjelaskan singkat. Tidak ingin membuat Lisle cemas dengan mengatakan bahwa sebenarnya Celine saat ini terlihat seperti orang tidak waras.


"Aku ingin mengunjunginya." Lisle merasa tidak sabar untuk bertemu sahabatnya itu. Telah beberapa kali dia mengatakan keinginannya itu pada Kennard tapi selalu ditolak. Cedera kakinya masih perlu perawatan beberapa lama lagi. 


"Tunggu kau benar-benar sembuh." Lagi-lagi Kennard melarangnya secara halus. Sebenarnya dia tidak ingin Lisle pergi menemui orang yang sudah membuatnya hampir terbunuh. Untung saja beberapa pohon yang tumbuh di sisi jurang menahan tubuh Lisle dari jatuh lebih dalam lagi. Hanya saja, kaki Lisle membentur sisi-sisi berbatu tajam dan keras.


"Berapa lama lagi?"


"Tidak akan lama." Kennard terus melangkah sambil mendorong kursi roda tersebut.


"Kau benar-benar tidak mencelakainya, kan?" Lisle masih tidak percaya jika suaminya bisa berbaik hati pada seorang yang bermaksud membunuh istrinya. 


Untuk apa mencelakai seorang yang kehilangan ingatan? Tapi Kennard tidak mengatakannya.


"Apa aku pernah berbohong?" ujar Kennard seperti tersinggung.


"Kau memang tidak pernah berbohong. Tapi kau sangat licik," sahut Lisle sambil menekuk bibirnya.


Kennard hanya tertawa kecil mendengar kata-kata istrinya. Dia tidak berusaha membantahnya.


"Kau bisa mengunjunginya dalam seminggu ke depan. Jangan khawatir, dia sehat-sehat saja."


"Aku harap begitu." 


Lalu Lisle teringat sesuatu.


"Bagaimana dengan saudara laki-lakiku? Apa kau sudah menemukannya?" tanya Lisle teringat permintaannya suatu ketika.


"Hampir. Sedikit lagi. Aku perlu memastikan satu hal." Kennard berhenti melangkah. Wajahnya mendadak tidak bisa ditebak. Adakah senang atau sedih atau juga kesal.


"Benarkah?" Lisle mendongak pada wajah di belakangnya. Seraut wajah menawan menunduk di atasnya.


"Hm." Hanya gumaman tak jelas sebagai jawaban.

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan Bert dan bibi?" Lisle menunduk. Suaranya terdengar pelan. Dia sebenarnya tidak berani menanyakannya. Jika dulu Kennard telah mengampuni keduanya dengan hanya menyingkirkan mereka ke tempat yang asing. Kini entah apa yang terjadi dengan nasib mereka berdua.


"Kau tidak benar-benar ingin tahu." Kennard memutar arah kursi roda, berbalik kembali ke arah rumah. Dia tidak ingin mengatakan apapun tentang kedua orang itu. Lebih baik begitu. Lebih baik istrinya tidak tahu apapun.


Lisle tidak mendesak Kennard lagi. Dia tahu ada hal-hal yang lebih baik tidak diketahuinya. Tidak didengar. Tidak dilihat.


*** 


"Aku ingin kau melakukan tes dengan sampel ini." Kennard memberikan sebuah amplop coklat kepada Steve, asistennya.


Sang asisten merasa keheranan dengan perintah itu. Tapi diraihnya juga amplop yang diulurkan padanya.


Sekali lagi Steve memandang pada tuannya meminta penegasan.


"Lakukan tes DNA antara sampel di dalam amplop itu denganmu sendiri." Kennard tidak mempedulikan keheranan asistennya. "Dapatkan hasilnya secepat mungkin," sambungnya.


Steve berlalu dari ruangan kantor tuan Kent dengan banyak tanda tanya di kepalanya. 


Apa yang diinginkan tuannya? Sampel siapa di dalam amplop ini? Apakah tuan Kent telah menemukan orangtua atau kerabatnya yang telah lama terpisah? 


*** 


Lisle menatap Kennard tidak percaya waktu lelaki itu memberitahu hasil tesnya. Steve adalah kakak laki-lakinya yang telah menghilang lebih dari dua puluh tahun yang lalu. 


Bagaimana bisa?  


Kennard hanya melihat sekilas pemandangan itu dengan wajah muram. Sejujurnya dia tidak menyukainya. Waktu dilihatnya tatapan tidak percaya istrinya, perasaannya semakin buruk.


"Kau pikir aku sedang bercanda?" ujar Kennard sambil bersandar pada kursi kerjanya. Di depannya Steve masih tidak bisa mengatakan apapun. 


Tiba-tiba saja sang asisten telah menjadi kakak iparnya. Kennard tidak suka kenyataan itu.


"Bagaimana bisa? Kau tidak membuat-buatnya, kan?" Lisle menatap Kennard dengan curiga. 


Kennard tiba-tiba tertawa sumbang. Dia merasa frustasi sekejap. "Aku lebih suka jika saudaramu adalah salah satu dari tiga teman brengsekku. Tapi entah kenapa aku sedang tidak ingin bermain-main. Kau harus cukup puas dengan menjadi adik perempuan Steve."


Steve makin merasa tidak nyaman. Tuannya tampak sangat tidak senang. Tapi bagaimanapun inilah hasilnya. Adik perempuannya adalah sang nyonya muda. Entah ini sebuah bencana atau keberuntungan. Tiab-tiba dia diberi tanggung jawab sebagai kakak laki-laki dari gadis yang selalu menciptakan masalah bagi tuannya. Kelak, ke depannya,  mereka berdua harus berbagi tanggung jawab itu. 

__ADS_1


"Nyonya…." Steve tidak tahu harus menyapa apa pada sang nyonya yang sedang menatapnya terharu.


Mata Lisle yang mulai basah membuat Steve makin serba salah. 


"Kakak." Lisle berjalan mendekat di bawah tatapan khawatir Steve. "Jangan panggil aku nyonya. Kau bisa memanggil namaku langsung."


"Tapi…." Steve menelan ludah. Ini terlalu mendadak. Dia tidak bisa menyesuaikan diri secepat itu.


Dan mendadak tubuh Steve dipeluk. Lisle tanpa ragu menenggelamkan diri ke dalam rengkuhan Steve. Lelaki itu terkejut. Dia sempat melihat sekilas pada tuannya yang memalingkan muka ke luar jendela. Gawat, pikirnya.


"Lisle." Steve berujar pelan. Ditepuknya perlahan bahu yang terguncang dalam ledakan tangis itu. Steve tidak sanggup ikut terharu. Ekspresi tuannya benar-benar mengacaukan perasaan yang seharusnya ada saat ini. Dia malah merasa gentar. 


"Mungkin kita bisa saling bercerita lain kali," sambung Steve berusaha mendorong Lisle menjauh darinya denga cara halus. "Ada sesuatu yang mendesak yang harus kukerjakan. Masih banyak waktu." 


Lisle mendongak pada wajah di atasnya. Dia masih tidak mau melepaskan Steve. Baginya menjadi saudari perempuan lelaki hebat itu adalah keajaiban. Rasanya hidup ini terasa sangat sempurna. Sekarang dia memiliki dua lelaki luar biasa. 


"Aku tidak pernah mengira. Tapi bagaimana ceritanya  kau bisa sampai sehebat ini." Lisle mulai menceracau, membuat Steve cemas. 


Ada yang sedang terbakar di ruangan itu.


Mata Steve bertemu pandang dengan tatapan tuannya. Seandainya mata bisa membunuh. Mungkin Steve telah mati berkali-kali dalam beberapa menit ini.


"Ceritanya panjang. Mungkin kita bisa membicarakannya lain kali saja." Steve berusaha bicara sepelan mungkin. Berharap tuan Kent tidak mendengar janji lain kali itu.


Tapi di ruangan sesepi itu, bahkan Steve bisa mendengar detak jantungnya sendiri.


"Kenapa tidak sekarang saja. Aku akan mendengarkan." Lisle mulai rewel. Dia bahkan mengguncang lengan Steve saat bicara. Persis seperti ketika dia membujuk Kennard saat menginginkan sesuatu. Dia melupakan seseorang yang tengah menyaksikan tingkahnya dengan tatapan terbakar cemburu.


"Sudah kubilang ada sesuatu yang harus kukerjakan saat ini." Sesungguhnya Steve sangat ingin memeluk Lisle dengan kedua tangannya, merasakan hangatnya rasa persaudaraan yang terlerai selama puluhan tahun. Tapi saat ini sungguh sangat tidak tepat. Dia harus segera menyingkir. Dia tahu perasaan tuannya yang tiba-tiba mendapati asistennya adalah kakak iparnya. Perasaan superiornya ternoda.


--------------- 


Kok author ngakak sendiri ya 🤣🤣🤣 


Hai, hallo semuaaa… Author minta maaf karena baru bisa up.


Terima kasih sudah mengikuti cerita ini dengan sangat sangat sabar. Author lelet banget, ya… Terima kasih juga atas semua dukungannya baik yang sudah like, komen, rate, hadiah ataupun share. Author terharu meski proses nulisnya tersendat-sendat, novel ini masih banyak yang mengikuti.

__ADS_1


Akhirnya, semoga semua di beri kesehatan, keselamatan, kebaikan dan kebahagiaan. Semoga diberikan rejeki yang banyak serta berkah. Aamiin 


Salam.


__ADS_2