
"Itu lebih baik. Kau bisa fokus dengan kuliahmu," ujar Kennard.
Mereka telah tiba di kamar tidur. Kennard melepas jasnya dan hendak ke kamar mandi tapi kemudian berhenti. Dia melihat raut murung gadis itu.
"Kenapa?" tanyanya. "Ada masalah?"
Lisle menggeleng. "Tidak! Aku hanya ingin berhenti saja dan mencari pekerjaan lain."
"Aku bisa memberimu pekerjaan di kantorku. Bagaimana kalau jadi asisten pribadiku?"
"Eh? Tidak! Tidak!" Lisle menggeleng kuat. "Aku tidak perlu bantuanmu. Aku bisa mencarinya sendiri." Dia ingin bekerja sebagai upaya mencari kesibukan dan mengurangi intensitas pertemuan dengan Kennard. Bekerja sebagai asisten malah membuatnya tak bisa menghindar dari laki-laki ini seharian.
Lagipula, bukankah sudah ada Steve? Untuk apa Kennard mempekerjakan seorang asisten lagi? Lisle membatin.
***
“Daisy, hari ini aku tidak bisa datang ke kafe. Ada sesuatu yang harus kukerjakan.” Lisle menelpon saat dalam perjalanan ke apartemen Celine.
“Oh, tak apa. Kau selesaikan saja urusanmu.” Suara Daisy terdengar mengantuk.
Lisle tidak mengatakan niatnya untuk berhenti dari pekerjaannya di kafe Cloud. Dia hanya akan ijin lagi beberapa hari kemudian setelahnya jika merasa sudah siap akan mengatakannya pada Daisy.
Tadi di rumah, dia bangun lebih awal. Kennard tampak masih terlelap ketika dia dengan berjingkat turun dari tempat tidur. Namun dia keliru mengira lelaki dengan paras menakjubkan itu belum terjaga. Kennard bahkan sempat menariknya lagi ke tempat tidur begitu mendengar langkah terburu-buru Lisle yang keluar kamar mandi. Lelaki itu masih di bawah selimutnya. Waktu Lisle lewat, tangannya ditarik hingga tubuhnya terjatuh di atas lelaki itu dengan masih memakai handuk. Gadis itu panik sendiri dibuatnya.
"Mau kemana sepagi ini. Langit di luar bahkan masih gelap." Kennard menghirup aroma sabun dari tubuh gadis di pelukannya. Matanya terlihat masih mengantuk.
"Aku mau ke kampus. Sudah janjian dengan Celine untuk datang pagi-pagi...." Lisle memegang erat handuknya agar tidak melorot. Mukanya sudah menjadi merah. "Tolong, lepaskan. Aku sedang buru-buru."
"Bangun terlalu pagi dan masih bilang mau buru-buru?" Kennard mengencangkan belitan lengannya. "Hm, kau wangi sekali." Lelaki itu mengendus leher Lisle dan turun pada pundak telanjangnya.
"Ken, aku sungguh sedang buru-buru...." Suara Lisle bergetar menahan perasaan aneh yang tiba-tiba menyerangnya. Diperlakukan seperti itu oleh lelaki paling menawan di kota Black Mountain membuatnya mau tak mau goyah juga. Apalagi waktu ciuman itu kini menjelajah hingga bagian atas dadanya, sebuah erangan lolos juga dari bibirnya.
__ADS_1
Kennard mendengarnya. Lelaki itu tengadah pada wajah memerah itu. Dia tersenyum puas. Lisle yang merasa gerakan itu berhenti, membuka matanya yang sempat terpejam. Wajahnya makin merah mendapati senyum nakal lelaki itu.
"Aku... aku... harus bersiap-siap." Lisle mendorong pelan tubuh lelaki itu.
Kennard membiarkan Lisle pergi. Dia menghempaskan dirinya di tempat tidur dengan perasaan senang. Masih sempat dilihatnya gadis itu menghilang ke balik pintu di sudut kamar.
"...."
Lisle mendengar suara di ujung sambungan tapi tidak bisa fokus dengan yang dikatakan Daisy. Ingatan kejadian tadi pagi benar-benar mengganggunya. Benar-benar lelaki penggoda!
"Hari ini aku kembali kuliah. Pasti banyak tugas yang sudah kulewatkan." Lisle tidak hendak mencari tahu apa yang dikatakan Daisy barusan.
"Oke, segeralah kembali ke sini kalau kau sudah tidak sibuk. Kami membutuhkanmu," ujar Daisy.
"Baiklah. Aku pergi dulu." Lisle menutup sambungan. Sebenarnya kau tak membutuhkanku lagi, Daisy.
Gadis itu menatap jalanan pagi hari yang masih belum terlalu ramai. Di dekat sebuah halte bus dia menyuruh sopir berhenti. "Stop di sini. Aku naik bis saja."
"Kalau kau dapat masalah dengan tuan Kent, aku yang akan menanggungnya." Lisle tidak ingin mereka berhenti di depan apartemen jeleknya dengan mobil sebagus ini dan menarik perhatian penghuninya. Apalagi dia dikenal sebagai gadis miskin yang pergi pulang dengan berjalan kaki atau naik bis.
William menghentikan mobil di dekat halte. Lisle turun setelah mengucapkan terima kasih, membuat William merasa tersentuh. Selama dia bekerja tak pernah ada yang mengucapkan terima kasih karena telah melakukan pekerjaannya dengan baik. Gadis-gadis yang pernah tuan Kent perintahkan untuk diantar, mereka akan melenggang pergi tanpa berpaling sedikit pun padanya.
Bagi William, nona yang satu ini berbeda dan tuan Kent pun sangat jelas memperlakukannya dengan berbeda. Dibandingkan gadis lain yang datang dan pergi, Lisle sungguh rendah hati. Padahal gadis-gadis itu hanyalah cinta semalam tuannya. Memang kadang ada juga yang tetap bersama selama beberapa saat, tapi tak pernah lebih dari seminggu. Namun kesombongan mereka menyamai seorang nyonya muda. Seakan dengan tidur beberapa kali dengan tuannya telah menaikkan derajat mereka beberapa tingkat.
Gadis ini telah bersama dengan tuannya lebih dari seminggu, bahkan tinggal di Palm Garden. Padahal tak sembarang orang diijinkan memasuki kediaman tuannya itu. Pernah seorang artis yang terlalu memandang tinggi diri sendiri hanya karena pernah menjadi pasangan pesta tuannya, datang ke Palm Garden. Tuan Kent menjadi sangat marah. Semua kontrak artis itu dengan perusahaan film tuannya dibatalkan.
***
Mereka berpelukan, Lisle dan Celine, seperti dua orang yang lama tidak bertemu. Padahal baru lewat seminggu, tapi bagi mereka seakan telah bertahun-tahun tidak bertemu.
Mereka bertemu di kantin. Belum banyak mahasiswa yang datang pagi itu, jadi masih banyak meja yang kosong. Celine dan Lisle duduk dekat jendela yang menghadap ke halaman.
__ADS_1
"Apa kau sudah sarapan?" Tanya Celine saat akan memesan sesuatu. Dia belum sempat sarapan karena buru-buru pergi.
"Aku sudah sarapan. Kau saja yang pesan." Sebenarnya Lisle tadi malas untuk sarapan tapi Kennard mendesaknya diembel-embeli dengan ancaman. Karena tidak ingin berdebat, akhirnya Lisle menghabiskan juga sepotong roti panggang enak yang dibuatkan Thomas.
Celine menatap Lisle penuh selidik. Yang ditatap menunduk setengah malu. Lisle tahu, jawabannya terdengar penuh percaya diri. Sejak kapan dia sarapan pagi? Bisa makan dua kali sehari saja sudah sebuah kemewahan bagi Lisle.
"Kau mau kopi?" tanya Celine akhirnya.
"He eh." Lisle mengangguk.
Celine datang dengan nampan di tangan. Dia meletakkan secangkir kopi di depan Lisle. Untuknya sendiri segelas jus dan roti isi.
"Bagaimana keadaan bibimu? Apa dia sudah keluar dari rumah sakit?" tanya Celine di sela-sela sarapannya.
Lisle merasa sulit bernapas. Pertanyaan yang mudah namun sulit dijawab. Meski dia telah mengorbankan diri demi perawatan bibinya, tapi dia tidak ingin lagi mendengar semua hal tentang wanita itu. Cukup bila tuan Kent telah memberi jaminan bagi perawatan bibinya, dia sudah merasa telah membayar semua kebaikan wanita itu di masa lampau.
“Sudah lumayan. Dia mendapatkan perawatan terbaik....” Lisle menunduk pada cangkir kopinya, mengaduk-aduk cairan di dalamnya.
Celine tengah fokus pada sarapannya dan tak melihat kerisauan Lisle.
“Apa kau akan kembali ke sana untuk menjenguk bibimu lain kali?” tanya Celine lagi. Kini dia meminum jusnya setelah menghabiskan setengah roti isi.
“Mungkin. Aku tidak tahu. Sekarang aku belum memikirkannya....” Lisle menjawab setengah melamun. Saat itu pandangannya jatuh keluar jendela pada halaman kampus yang teduh oleh pepohonan besar.
Tiba- tiba sebuah suara menyela pembicaraan mereka. “Lisle, kemana saja kau? Kurasa aku tidak melihatmu selama seminggu ini.”
Dua gadis itu sama-sama berpaling ke arah asal suara.
Ralph! Lelaki tampan, pangeran pujaan gadis-gadis kampus, seseorang yang pernah membuat hati Lisle tergerak, berjalan mendekat.
Lisle tiba-tiba merasa sedih tanpa alasan yang jelas.
__ADS_1