Kekasih Terpaksa Sang Penguasa

Kekasih Terpaksa Sang Penguasa
Bab 101. Kepedulian Shopia


__ADS_3

Shopia gemetar waktu mendengar penjelasan seorang penjaga penjara yang disuapnya untuk mendapatkan informasi. Sally telah tewas sudah lebih dari sebulan yang lalu. Seseorang memasukkan racun ke dalam makanannya. Pihak penjara telah menutupinya dari para wartawan. Pantas berita itu tidak pernah terdengar ke luar.


Siapa yang sudah menghabisi gadis itu? Adakah hubungannya dengan seseorang yang konon akan membebaskannya dan merencanakan kehancuran bagi tuan Kent yang menyebabkan kematiannya? Atau tuan Kent sendiri yang telah turun tangan. Mungkin karena gadis itu terlalu banyak bicara hingga dia dianggap berbahaya. Entahlah.


Seisi kepala Shopia di penuhi pertanyaan tanpa jawaban.


Ayahnya benar. Shopia memang seharusnya tidak terlibat dengan urusan seperti ini. Orang yang dibicarakan Shopia pastilah sangat berbahaya. Untungnya dia telah menutup mulutnya dan tak menceritakannya pada siapapun.


Kecuali pada Lisle.


Tapi dimana Lisle sekarang? Shopia telah lama tidak melihatnya. Terakhir mereka bertemu saat Lisle menanyakan tentang Celine. Celine menghilang. Dan Lisle juga telah lama tidak kelihatan. Dia yakin tidak melewatkan berita apapun. Shopia sudah bersiap untuk mendekati Lisle. Gadis itu cukup murah hati untuk tidak mendendam. Shopia pikir, mereka mungkin bisa berteman.


Ayah Shopia bilang, berteman dengan gadis itu akan membuka pintu kemudahan kelak bagi bisnis mereka.


"Lisle!" Shopia merasa tidak percaya hari ini melihat Lisle di dekat kelasnya. Padahal dia baru saja memikirkannya. Terburu-buru Shopia berjalan mendekat.


Ini hari pertama Lisle kembali kuliah. Dia terlihat tidak bersemangat. Ingatan tentang Celine membuatnya makin kehilangan minat mengikuti kelas.


Ketika mendengar ada yang memanggilnya, Lisle menoleh ke arah suara itu. Dia melihat Shopia yang berjalan tergesa ke arahnya. 


"Kemana saja kau sebulanan ini?" Shopia bertanya langsung tanpa basa-basi. Entah kenapa dia merasa senang melihat Pisle Lisle hari ini.


Lisle menatap Shopia dengan keheranan. Mereka tidak cukup akrab untuk saling mencari jika tak menemukan yang lainnya. Rasanya aneh jika Shopia peduli bila dia kuliah atau tidak.


"Aku bepergian ke suatu tempat…." Lisle tak mungkin menceritakan yang sebenarnya. Shopia tidak cukup berharga untuk menjadi tempatnya berkeluh-kesah.


"Oh." Sesaat Shopia menyadari kesalahannya. Dia terlalu bersemangat tadi hingga melupakan kapasitasnya yang belum layak disebut teman. "Maaf. Aku tidak bermaksud ikut campur. Tapi rasanya sedikit aneh jika setelah Celine menghilang, kaupun kemudian ikut menghilang…."

__ADS_1


"Celine tidak menghilang. Dia sedang sakit jadi tidak bisa masuk kuliah." Lisle memotong kalimat Shopia. Dia kembali merasa sedih begitu teringat Celine.


"Benarkah? Apa sakitnya parah? Dia dirawat dimana sekarang?" Lagi-lagi Shopia tampak bersemangat menanyakan itu.


Lisle menghela napas. Kepedulian Shopia tidak menyentuh perasaannya sedikitpun. Jadi dia tidak bermaksud memberitahukan apapun lagi.


Kebisuan Lisle menyadarkan Shopia. Dia jadi salah tingkah sendiri. "Mmh, aku… kupikir kita bisa berteman." Dia menunduk menatap jari-jarinya. 


Setelah semua yang kau lakukan padaku, kau ingin berteman? Lisle hampir mengatakan itu. Tapi mendengar seseorang menawarkan pertemanan menghangatkan perasaannya. Walau tak percaya dengan ketulusan Shopia, hati Lisle sedikit mencair.


"Aku belum siap berteman denganmu. Mungkin nanti," ujar Lisle setelah terdiam beberapa saat. "Maaf." Dan Lisle berbalik pergi, meninggalkan Shopia yang terpaku di tempatnya berdiri.


Tak semua orang bisa berteman dengan siapapun. Lisle dulu seperti itu. Sekarang pun masih. Perlu waktu kedekatan yang cukup lama untuk menyebut diri sebagai teman. Tidak bisa begitu saja bertemu lantas meminta pengakuan.


Bagaimanapun nanti adalah nanti. Tidak ada yang bisa memastikan apa yang akan terjadi. Hari ini seseorang adalah sahabat terbaik, mungkin besok dia akan menjadi musuh paling mematikan. Saat ini seseorang bisa saja menjadi musuh yang yang paling dibenci tapi lusa atau nanti, bisa.saja dia menjadi teman paling disayang.


Sudah lama mereka tidak berkumpul seperti ini. Sudah berbulan-bulan sejak malam itu.


David, Nathan dan Benyamin duduk terpisah di masing-masing sofa. Seperti kebiasaan mereka, ada satu atau dua gadis menemani di sana. Kennard duduk di sofa paling besar, sesekali dia melirik arloji di pergelangannya.


Mereka berempat sedang berada di ruang VVIP klub malam terbesar di Black Mountain. Ketiga tuan muda bermain kartu ditemani para gadis. Kennard bersandar pada sofa sambil menumpang kaki. Di tangannya segelas cairan merah pekat diguncang perlahan. Tatapannya dingin. Dan jauh. Pada sebuah malam pertemuan.  


Lalu sudut bibirnya sedikit terangkat.


Lagi, Kennard melirik jam di lengannya. Lisle dijemput Steve di Palm Garden. Kennard datang lebih dulu ke tempat itu usai sebuah perjamuan bisnis. Saat dia menanyakan lewat ponsel apakah istrinya mau ikut berkumpul di klub, dia sedikit tidak percaya saat Lisle mengiyakan.


Kennard sudah meraih ponselnya bermaksud menghubungi Steve saat pintu ruangan terbuka. Lisle masuk lebih dulu diikuti Steve di belakangnya. Gadis itu memakai terusan selutut berwarna krem dengan lengan panjang yang tepinya dihias motif bunga. Manis. Masih sepolos pertama Kennard melihatnya. Meski dia tahu persis istrinya tak lagi sepolos kelihatannya.

__ADS_1


"Kau sudah datang. Lama sekali." Kennard meraih tangan istrinya menariknya mendekat.


"Aku bahkan tidak berganti pakaian ke sini. Apanya yang lama?" Lisle menggerutu mendengar komentar suaminya yang menurutnya asal. Dia duduk di sebelah Kennard. Lelaki itu hampir menariknya ke pangkuan, tapi Lisle berkelit. Dia merasakan tatapan penasaran para gadis di dalam ruangan itu.


Steve duduk di tempat yang agak jauh dari lingkaran. Membuat jarak. 


Lisle yang melihat itu mengerutkan alisnya yang indah. Dia bangkit dari tempat duduknya berjalan mendekati Steve.


"Kakak, duduklah bersama kami." Lisle berkata sambil berdiri menghadap Steve. Dia ingin ketiga tuan muda tahu bahwa sekarang Steve tidak saja asisten tuan Kent yang terkenal tapi juga kakak iparnya.


Sontak seisi ruangan menghentikan kegiatan bermain kartu mereka. Tadi saat Lisle masuk, para gadis sudah bertanya-tanya posisi Lisle di hati tuan Kent. Bagaimana gadis sederhana ini bisa disambut dengan sangat lembut oleh penguasa Black Mountain itu? Dalam masa yang sesingkat itu mereka sudah merasa iri.


Sekarang mereka melihat Lisle berjalan ke arah Steve sang asisten hebat tuan Kent dan memanggilnya kakak. Tidak saja para gadis itu yang menjadi penasaran, ketiga tuan muda kini bahkan mengangkat wajahnya mengarahkan pandangan mereka pada adegan menarik itu.


Steve salah tingkah.


"Kurasa lebih baik di sini saja." Steve menghilangkan panggilan nyonya muda seperti biasanya. Tapi sikapnya masih tampak formal.


Lisle tidak terima penolakan Steve. Dia meraih lengan besar itu dan menariknya. Memaksa Steve bangkit dari duduknya.


Steve terus diseret hingga sofa tempat Kennard duduk.


"Duduk di sini lebih baik," ujar Lisle lantas mendorong Steve dengan lembut memaksanya duduk.


Kini Steve dan Kennard duduk di masing-masing ujung sofa. Lisle yang merasa puas pun duduk di antara kedua lelaki itu. Bibirnya tersenyum manis pada semua mata yang menatap ke arah mereka.


"Perkenalkan, ini Steve, asisten tuan Kent sekaligus saudara laki-lakiku."

__ADS_1


Seisi ruangan yang semula sudah terpana dengan adegan barusan, kini seakan membatu. Semua bisu.


__ADS_2