Kekasih Terpaksa Sang Penguasa

Kekasih Terpaksa Sang Penguasa
Bab 41. Kembali ke Palm Garden


__ADS_3

“Apa tuan belum pulang?” tanya Lisle sambil duduk di sofa ruang tamu.


“Belum, Nona. Mungkin tuan masih banyak pekerjaan,” jawab Thomas. Dia berdiri agak bingung menghadapi sikap Lisle yang tampak fotmal.  “Mungkin Nona mau mandi dulu dan beristirahat sebentar di kamar. Saya akan menyiapkan makan malam untuk Nona.”


“Tidak perlu, Thomas. Aku tidak ingin makan. Aku akan menunggu di sini saja sampai tuan pulang.” Meski hanya sarapan tadi pagi, tapi rasanya Lisle tidak akan bisa menelan sesuatu. Saat ini dia begitu gugup membayangkan pertemuan dengan tuan Kent, berpikir apa yang bisa dikatakannya pada lelaki itu agar menghentikan serangannya pada keluarga Caldwell.


“Ah, Nona. Mungkin tuan akan lama. Setelah makan, Nona bisa menunggu tuan di kamar....”


“Biar di sini saja. Aku tidak apa-apa. Dan aku juga tidak ingin makan.” Lisle bertahan dengan pendiriannya.


Thomas hanya menghela napas mendengar perkataan Lisle. Akhirnya dia pamit ke belakang untuk mengerjakan sesuatu.


Beberapa kali Lisle hampir tertidur di sofa yang dingin itu. Dia melihat jam di ponselnya sudah lewat pukul sebelas malam. Perasaannya menjadi semakin gugup. Sebelumnya Thomas telah mengantarkan kopi dan camilan tapi tak sedikit pun di sentuh oleh Lisle.


Jam di ponselnya hampir mendekati angka dua belas, ketika terdengar suara mobil berhenti di luar. Lisle mendadak tegang. Dia menegakkan tubuh dan menunggu.


Thomas membukakan pintu dengan terburu-buru. Seseorang yang sangat dikenal Lisle melangkah masuk dan berhenti di ruang tamu. Kennard menatap Lisle dengan senyum mengejeknya. Gadis itu tidak pernah melihat senyum yang lebih menakutkan lagi dari yang dilihatnya sekarang.


“Tuan....” Lisle berdiri begitu Kennard tiba di sana. Dia tidak tahu harus memanggil apa. Dia merasa tidak pantas memanggil lelaki ini dengan namanya langsung. Hari ini situasinya sudah berbeda.


“”Hm, kau datang juga.” Kennard memberikan tatapan dinginnya. “Kenapa? Baru sehari sudah kembali. Apa di luar sana tidak membuatmu senang?” Dia tidak suka dengan panggilan ‘tuan’ yang keluar dari bibir gadis itu tapi dia tidak mengatakan apa pun tentang itu.


Padahal kau tahu kenapa aku kembali, batin Lisle, tapi tidak berani menyuarakannya di depan laki-laki ini. Lihatlah matanya! Thomas benar, Kennard seperti akan meledak setiap saat. Dia seperti bom waktu sampai saatnya tiba untuk menghancurkan segalanya.


“Aku... aku akan melakukan apa pun yang tuan inginkan.... Tapi tolong, jangan ganggu keluarga Caldwell....” Lisle memohon.


“Apa hubunganmu dengan mereka sampai kau  begitu pedulinya?” Kennard justru merasa makin kesal karena Lisle memintanya untuk tidak mengganggu Ralph Caldwell dan keluarganya. Siapa lelaki itu hingga pantas dibela oleh gadis ini? “Kau menyukai laki-laki itu?” tanya Kennard menyelidik.


“Tidak! Bukan begitu! Aku hanya tidak ingin ada orang-orang yang disakiti karena aku.... Aku... aku akan merasa sangat bersalah....” Lisle berusaha membantah tuduhan itu.  Dulu dia memang sempat menyukai Ralph, tapi sekarang dia tak memiliki perasaan apa pun.

__ADS_1


“Kau naif sekali. Kau berusaha menolong orang lain sedangkan menolong diri sendiri saja kau tidak mampu,” ujar Kennard dengan nada mengejek. “Apa yang bisa kau lakukan untukku?”


“Apa saja.” Lisle menunduk. Kepalanya terasa pening dengan definisi ‘apa saja’ yang baru dikatakannya. “ Aku akan ikuti kata Tuan. Aku akan tinggal di sini....”


Kennard tidak tahu kenapa bisa begitu marah pada gadis ini tapi malah tak bisa melampiaskan kemarahannya. Melihat wajah cantik yang terlihat ketakutan itu menunduk, laki-laki itu merasa sedikit kasihan. Dia tidak pernah bersikap terlalu keras pada gadis ini, tapi kali ini dia benar-benar tidak bisa menahan diri. Penolakan gadis ini untuk tetap bersamanya, membuat Kennard rasanya ingin menghancurkan segala sesuatu di sekelilingnya.


“Kalau begitu, kita negosiasikan ini di kamar. Aku ingin lihat apa yang bisa kau lakukan untukku.” Kennard bangkit dan berjalan menaiki tangga menuju lantai atas.


Menegosiasikan ini di kamar? Rasanya sekarang bukan saja pening, pandangan Lisle pun mulai berputar. Mungkin sebentar lagi aku akan pingsan, pikir Lisle.


“Nona.” Thomas memanggil, menyadarkan Lisle yang seperti tenggelam memikirkan sesuatu. “Sebaiknya Nona cepat naik sebelum tuan berubah pikiran.”


Lisle mendongak. Kennard telah mencapai pintu kamar di lantai dua. Sosoknya yang menjulang tampak selalu menawan dilihat dari sudut mana pun. Kepala Lisle terasa makin berat.


Gadis itu beranjak dari tempatnya berdiri hendak menyusul laki-laki itu. Namun pandangannya tiba-tiba gelap dan tubuhnya limbung. Lisle kehilangan kesadaran dan tidak bisa menahan saat tubuhnya terhempas ke lantai.


***


Kennard berdiri di dekat tempat tidur, memperhatikan Lisle yang tampak seperti bayi yang tertidur pulas. Hanya saja wajah putihnya tampak pucat. Dia kelihatan tidak sehat. Dokter telah memeriksanya dan mengatakan tidak ada yang serius. Luka memar di sisi kepalanya juga hanya cedera ringan yang tidak membahayakan.


"Tadi nona menolak tawaran makan malam dari saya. Mungkin perut yang kosong juga penyebab nona pingsan... " Thomas memberitahu.


Kennard tidak menanggapi penjelasan Thomas. Wajahnya tampak muram. Lisle kembali karena merasa bersalah, menganggap dirinya yang menyebabkan perusahaan keluarga Caldwell hancur. Gadis ini, dia pikir dengan kembalinya , akan membuat Kennard melepaskan Ralph. Padahal alasan kembalinya Lisle yang ingin menolong laki-laki itu malah membuat Kennard semakin kesal. Hanya saja kesungguhan gadis itu membuat Kennard akhirnya menghubungi Steve dengan ponselnya.


"Aku ingin kau mengurus para investor yang telah menarik dananya dari perusahaan Caldwell. Berikan juga beberapa proyek pengganti dari yang telah dibatalkan. Aku ingin semuanya kembali secepatnya...."


Steve di seberang sana belum sempat menjawab ketika sambungan dimatikan. Asisten itu masih tidak percaya dengan pendengarannya. Tuan Kent tidak pernah menarik putusan matinya pada siapa pun.


Kelopak mata Lisle bergerak-gerak kemudian terbuka. Kepalanya terasa nyeri di satu sisi. Dia mencoba bangkit tapi ditahan Thomas.

__ADS_1


"Nona, pelan-pelan. Sebaiknya Nona jangan bangun dulu." Thomas memandang pada Kennard yang hanya berdiri memperhatikan, berharap laki-laki itu menunjukkan kepeduliannya pada gadis ini seperti sebelumnya. Namun Kennard tidak bergerak dari tempatnya.


"Buatkan dia sesuatu untuk dimakan." Kennard memerintah Thomas setelah terdiam beberapa saat.


"Baik, Tuan." Thomas terburu-buru keluar kamar. Dia tidak berharap tuannya memarahi gadis itu lagi.


"Apa kau tidak makan apa pun seharian?" Kennard memandang pada Lisle yang kini telah duduk di tempat tidur. Dia tahu gadis itu hanya memiliki sedikit uang saat pergi. "Apa yang akan kau lakukan di luar sana. Tanpa uang. Tanpa pekerjaan. Kau ingin menjadi gelandangan? Apa aku menyakitimu di sini? Bagian yang mana yang membuatmu merasa diperlakukan tidak baik di rumah ini? Apa kau pikir tanpa kesepakatan itu kau akan mau tinggal di sini? Lisle, kau lihat berapa banyak masalah yang mendatangimu saat kau di luar sana. Aku hanya ingin melindungimu. Tapi kau malah membuatku marah, mengacaukan semua hal yang kuatur untukmu. Dan laki-laki itu terlalu ikut campur urusan kita. Bukankah dia pantas dihukum?"


Lisle menunduk mempermainkan jemarinya pada pinggiran selimut. Kata-kata tuan Kent memang ada benarnya, tapi tinggal di sini tanpa sebuah alasan, itu benar-benar konyol. Siapa dia bagi tuan Kent?


"Tapi Ralph tidak bermaksud buruk. Dia hanya menemukan kebenaran untukku...." Lisle mencoba memberikan pembelaannya pada Ralph dengan takut-takut.


"Tidak semua kebenaran perlu diungkapkan karena tidak semuanya berguna. Ralph cuma seorang pengacau. Saat ini dia mungkin sedang dikutuk oleh seluruh keluarga Caldwell."


"Tolong jangan ganggu keluarga itu...." Lisle tiba-tiba teringat tujuannya semula kembali ke rumah ini. "Aku akan melakukan apa saja untuk Tuan. Ini hanya hal kecil. Tidak perlu membuatnya menjadi sebesar ini...."


Mendengar itu Kennard tiba-tiba berjalan mendekat. Dan dia menjadi terlalu dekat karena wajahnya sudah berada di depan Lisle.


"Memangnya apa yang bisa kau lakukan untukku? Apa kau mau bercinta denganku? Berciuman saja kau masih belum pandai...." Tatapan Kennard jatuh pada bibir indah itu yang tampak bergetar menahan ketakutan.


Lisle memalingkan wajahnya ke samping menghindari bertatapan langsung dengan Kennard. "Aku... aku bisa memasak untukmu. Aku bisa mencuci...." Kata-kata itu meluncur dengan konyolnya dari bibir Lisle. Dia sendiri tidak percaya dengan apa yang dikatakannya.


Mata Kennard menyipit. Dia tidak tahu harus berkata apa begitu mendengar jawaban Lisle. Gadis ini... dia ingin sekali mencekiknya.


-------------------


Sabar, Bang Kent.... Sebenarnya author juga gemes ini mau bantuin babang nyekik. Bisa-bisanya ya Lisle ngomong gitu 🤭🤭🤭


Hallo semuaaa.... Makasih ya sudah setia ngikutin cerita ini dari awal sampai bab ini. Makasih juga atas semua dukungan kalian yang sudah ngasih like ,komen, vote dan hadiah. Author sayang kalian semua 🥰🥰🥰 Tetap sehat dan berbahagia. Dukung terus author yaaaa....

__ADS_1


__ADS_2