Kekasih Terpaksa Sang Penguasa

Kekasih Terpaksa Sang Penguasa
Bab 95. Kota Efron


__ADS_3

Kota Efron terletak di sebelah timur  Black Mountain. Perjalanan lewat udara itu menghabiskan waktu tidak sampai satu jam.


Lisle mengamati sekitar yang tampak sepi. Sebuah bangunan besar menyerupai kastil berdiri menjulang di depannya. Sekelilingnya adalah hutan dengan rimbunan padat pohon dan jurang. Dia mengerutkan kening, berpaling pada Bert di sebelahnya.


"Di sini tidak tampak seperti kota," ujar Lisle.


"Ini di pinggiran. Tapi masih masuk wilayah Efron." Bert berjalan cepat menuju bangunan.


Seorang lelaki dengan jaket hitam menyambut Bert. Itu mengingatkan Lisle pada peristiwa penculikan sebulan yang lalu. Para lelaki dengan jaket gelap. Mereka menyembunyikan senjata di pinggang dan menyamarkannya. Ada semacam perasaan dingin merayapi tengkuk Lisle. Dia mengangkat tangan mengusap belakang lehernya, berusaha mengusir rasa tidak nyaman itu.


Keduanya tampak berbicara sebentar. Lalu Bert berpaling pada Lisle yang berada cukup jauh di belakangnya.


"Ayo!"


Lisle mengikuti Bert menuju pintu masuk bangunan. Si lelaki berjaket mengambil jarak beberapa langkah di belakang.


Begitu melewati pintu masuk besar, mereka tiba di ruang tamu yang luas dengan sedikit perabot. Hanya satu set sofa dengan pot besar berisi tanaman hias di dekatnya. Dinding-dindingnya kosong tanpa hiasan satupun. 


Seorang wanita setengah tua berjalan masuk dari lorong panjang bangunan. Lisle mengenalinya. Bibi Annie. Dia sempat berpikir, Bert hendak menjebaknya. Hampir memastikan takkan bertemu bibinya. Tapi mengapa keduanya bisa berada di sini? 


"Bibi."


"Lisle, anakku." Wanita itu langsung memeluk Lisle dengan hangat, seperti seorang ibu yang merindukan putrinya yang lama hilang.


Mau tak mau Lisle membalas pelukan itu, meski dengan perasaan canggung. Dia tak merindukan wanita ini. Karena menginginkan dua benda itu dia setuju bertemu bibi Annie.

__ADS_1


"Kau terlihat cantik sekali," ujar bibi Annie. Dia menarik lengan keponakannya dan mengajak duduk di sofa.


Bert sejenak memperhatikan adegan itu sambil menyeringai. Kemudian pemuda itu terlihat melakukan sebuah panggilan dengan ponselnya. 


"Tuan Alger, aku sudah tiba di Efron." Bert berbicara dengan seseorang seraya melirik pada Lisle sekilas.


"Baiklah. Kau bisa mengunjungi kami secepat kau mau. Mungkin lelaki itu sekarang sudah mulai sibuk mencari." Bert bicara dengan suara rendah agak jauh dari Lisle.  


Lisle bisa mendengar Bert berbicara tapi cuma samar-samar. Dia menoleh sedikit curiga tapi kemudian kembali berusaha mengembalikan perhatian pada bibinya.  


Seorang lagi lelaki dengan pakaian pelayan masuk ke ruang tamu menyajikan secangkir teh. Tanpa mengatakan apapun menata cangkir di atas meja rendah berukir di hadapan Lisle.


"Minumlah," ujar sang bibi. "Tinggallah di sini sampai makan malam. Atau menginap saja sekalian. Kita lama tidak bertemu. Bibi minta maaf soal tuan Aaron tempo hari."


Lisle Menggeleng. "Tidak, Bi. Aku tidak bisa tinggal lama. Suamiku akan marah besar. Aku berjanji padanya untuk kembali sore ini juga." 


Rasanya, Lisle tidak menyukai senyum itu. Tapi jika diingat-ingat dia memang tidak pernah bisa menyukai wanita ini. Sejak bibi Annie datang ke rumah sakit dan mengambil alih semua tanggung jawab yang tidak bisa dipikul gadis muda yang baru kehilangan kedua orangtua. Sejak itu, meski merasa terbantu, Lisle merasa jika bibinya bukan orang yang baik.


Keduanya terdiam untuk beberapa waktu sampai Lisle teringat tujuan kedatangannya. 


"Bert bilang kau memiliki foto lama kedua orangtuaku dan kotak musik pemberian mereka. Aku pikir benda itu sudah hilang. Bagaimana Bibi bisa mendapatkannya?"


"Seseorang memberikannya padaku saat di rumah sakit, tapi aku sudah lupa siapa. Sedangkan foto itu diambil saat kedua orangtuamu masih berpacaran." Annie menjelaskan sesingkat mungkin. Dia menatap ke arah Bert yang telah selesai berbicara di sudut sana dan mendapati isyarat dari putranya.


"Kedua benda itu ada di dalam kamar. Minumlah dulu tehnya sebelum dingin. Bibi akan ke dalam sebentar untuk mengambilnya," ujar Annie lagi. Dia menjadi tidak sabar. 

__ADS_1


Wanita itu bangkit dari duduknya dan masih mengingatkan Lisle untuk menghabiskan tehnya sebelum beranjak melewati lorong panjang di sana.


Lisle mengangkat cangkir dari meja dan bermaksud minum sedikit. Teringat gelagat bibinya yang terkesan mendesaknya untuk minum. Meski merasa haus, dia hanya menempelkan bibir ke tepi cangkir. Saat itu bibinya menoleh dan sebuah senyum aneh terlukis di wajahnya. Pura-pura tak melihat, Lisle berlama-lama dengan cangkir di tangannya. Begitu bibinya berpaling, secepat dia bisa dituangnya isi cangkir ke pot di dekatnya. Menyisakan sedikit teh di dalamnya. 


Jika tebakan Lisle benar, ada sesuatu di dalam tehnya.


Beberapa saat Lisle menunggu. Bert entah menghilang kemana bersama si lelaki berjaket. Lisle sudah tidak melihatnya saat bibi Annie pergi. 


Waktu Lisle mendengar langkah-langkah yang mendekat, dia bersiap-siap dengan jantung berdebar kencang.


***


Waktu Kennard tiba di kota Efron, sebuah panggilan dari Lucas membuatnya nyaris kehilangan kendali.


"Tuan, jejak nyonya menghilang. Terakhir sinyal masih terdeteksi di daerah pinggiran sebelah timur. Tapi setengah jam yang lalu kami kehilangan jejaknya." Lucas melaporkan dengan perasaan gentar. Ini tidak pernah terjadi sebelumnya.


"Tampaknya nyonya berada di tempat terlindungi. Kami belum menemukan cara untuk menembus sistem pertahanannya. Mereka sepertinya sudah menyiapkan ini," sambung Lucas.


Tak ada sahutan dari Kennard untuk beberapa lama. Meski masih tampak tenang, dia mulai khawatir dengan keselamatan istrinya. Ternyata penempatan chip di dalam cincin yang di pakai Lisle tidak banyak membantu. Musuhnya telah memperhitungkan segala kemungkinan.


"Aku akan menghubungi Ronald dan menyuruhnya mengerahkan orang-orangnya menyisir daerah pinggiran sebelah timur. Bila tak menemukannya juga, aku akan mengacak-acak seluruh kota. Dan bila sampai terjadi sesuatu pada istriku, seluruh kota Efron akan kutenggelamkan ke laut dalam. Kembalilah mencoba sampai berhasil dan hubungi aku untuk melaporkan perkembangannya." Kennard mematikan sambungan dan menggenggam kuat-kuat ponsel di tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.


Adakah ini berhubungan dengan orang itu. Zion atau Peter Alger? Tidak mungkin Bert kembali dan melakukan ini dengan begitu terencana tanpa bantuan seseorang yang memiliki kekuasaan dan uang. 


Mereka mendarat di depan sebuah villa besar milik seorang pengusaha kelas atas kota Efron, Ronald Cain. Kennard dan Ronald bukanlah teman baik, tetapi beberapa investasi Kennard di Efron membuat tuan Cain menundukkan kepala di hadapan penguasa Black Mountain itu. 

__ADS_1


Ronald bertubuh gemuk dengan wajah yang seperti selalu tersenyum. Dia buru-buru menyambut kedatangan Kennard begitu lelaki itu tadi melangkah ke luar helikopter yang membawanya. Dan saat Kennard berada di ruang tamu bersama Ronald itulah, Lucas menghubungi tuannya. Ronald mendengar percakapan yang hanya didengarnya sepihak itu dan segera memahami situasi serius yang sedang dihadapi tuan Kent ini. Dia hanya bisa menelan ludah dengan perasaan tercekat waktu mendengar Kennard bicara tentang 'menenggelamkan seluruh kota Efron' jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi pada istrinya.


Tapi sejak kapan sang penguasa Black Mountain ini menikah? Ronald tidak berani menanyakannya. Dia bergegas memanggil seseorang dan mengulang beberapa kata Kennard di telpon sebelum sang penguasa itu memerintahkan. Orang-orangnya akan mulai melakukan pencarian.


__ADS_2