
"Kapan Tuan pulang?" Suara lembut yang menggemaskan itu menyerbu pendengaran Kennard di ujung sambungan. Lelaki itu hampir bisa merasakan lengan gadis itu melingkar di lehernya.
Terakhir Lisle tinggal di Palm Garden, gadis itu selalu menghindari sentuhannya dengan berbagai macam cara. Meski kesal, Kennard juga tidak bisa menahan tawa setiap kali mengingat bagaimana gadis itu berpikir keras saat di meja makan malam itu. Lisle pasti mengira Kennard tidak tahu tipuan bodoh yang dimainkannya dengan berpura-pura sakit. Waktu Kennard hendak menelepon dokter pribadinya, gadis itu menahannya dan mengaku bahwa dia tidak benar-benar sakit.
Lalu kesepakatan pun dibuat. Pernikahan akan diadakan seminggu lagi. Tanpa pesta yang mewah. Tanpa publikasi. Ini akan menjadi rahasia untuk sementara sebelum perayaan resminya. Kennard setuju meski dapat mencium bau permasalahan yang mungkin timbul suatu hari nanti. Dia hanya perlu mengawasi istrinya agar tidak menimbulkan masalah yang serius.
Hanya saja ketika Lisle mengatakan akan kembali ke apartemen meski untuk sementara waktu, Kennard hampir meledak dibuatnya. Gadis itu baru sampai di Palm Garden beberapa jam tapi sudah berencana pergi. Benar-benar membuat kesabaran Kennard habis.
Namun entah darimana Lisle mendapatkan kepandaian itu, membuat ekspresi teraniaya, menggigit bibir bawahnya dan selebihnya bungkam. Kennard hanya bisa menghela napas tak berdaya lalu dengan enggan menyetujui keinginan Lisle. Dia tahu benar, Lisle mencoba menghindarinya. Gadis itu tampak ketakutan setiap melihat gairah yang terbit di mata Kennard. Lelaki itu jadi semakin tidak sabar menunggu pernikahan mereka. Apa Lisle masih akan mengelak lagi nantinya, Kennard benar-benar ingin tahu.
"Hm, kenapa? Jangan katakan kau merindukanku," goda Kennard.
Kennard sedang duduk dalam rapat penting sebuah proyek yang harus ditanganinya langsung. Telepon dari Lisle menjadi jeda bagi ketegangan sesaat tadi. Sekilas Kennard bisa mendengar tarikan napas lega dari peserta rapat. Ada beberapa yang bahkan menyeka keringat di wajahnya meski ruangan sudah menggunakan pendingin udara.
Lelaki itu bangkit keluar ruangan sambil memberi isyarat pada Steve bahwa rapat ditunda untuk sementara. Kennard berdiri menghadap pemandangan kota New York sambil menunggu suara yang akhir-akhir ini membuatnya kecanduan.
*Aku memang merindukan Tuan." Lisle terdengar merajuk saat mengatakannya. "Apakah tidak boleh?"
Kennard memejamkan mata sembari menggertakkan gigi. Gadis itu sangat pandai menggoda saat berjauhan, tapi menjadi ciut seperti tikus terhadap kucing bila berhadapan.
"Jadi, kapan Tuan pulang?" Lisle mengulangi pertanyaannya saat tidak didengarnya suara dari seberang.
"Tiga hari lagi," ujar Kennard setelah berpikir cepat. Ada senyum licik membayang di sudut bibirnya.
"Tiga hari lagi? Itu 'kan hari pernikahannya?!" Suara Lisle di ujung sana terdengar nyaris histeris.
__ADS_1
"Tidak masalah. Kau hanya perlu menunggu baik-baik di Palm Garden. Petugas yang mengurus dokumen pernikahan akan datang dan Thomas akan mengurus pesta kecilnya. Aku juga sudah memberitahu Nathan, David dan Benyamin untuk datang. Kau bisa mengundang temanmu Celine juga. Aku akan datang tepat waktu." Kennard berujar santai seakan sedang membicarakan sebuah acara makan malam biasa.
Untuk beberapa saat tak terdengar sahutan dari seberang sambungan. Kennard bisa membayangkan bibir manis itu ditekuk, membuatnya menelan ludah saat teringat rasanya.
"Tuan sedang bercanda 'kan?" tanya Lisle terdengar hati-hati.
"Tidak. Aku sungguh-sungguh. Beberapa urusanku menjadi tertunda karena calon istriku yang manja terus-menerus menelponku. Saat ini aku bahkan harus menunda rapatku ketika ponselku berdering di tengah rapat."
"Be… begitu, ya?" Lisle mendadak merasa bersalah. Dia pikir Kennard akan menolak teleponnya jika memang sibuk dan tak mengira kalau lelaki itu selalu menerima panggilannya meski sedang bekerja.
Setelah tiba di apartemen Celine, Lisle langsung saja menjadi rindu pada lelaki itu. Padahal baru saja mereka berpisah beberapa saat sebelumnya. Dia menahan diri untuk menelpon tuan Kent hingga esok harinya.
Ternyata berbicara di telepon dengan tuan Kent membuat Lisle kecanduan. Mulai saat itu hingga hari ini dia menelepon Kennard tiap beberapa jam sekali.
Jadi dia sudah mengganggu pekerjaan tuan Kent, ya?
Lalu sambungan terputus.
"Lisle?" panggil Kennard sebelum menyadari bahwa gadis itu sudah mengakhiri panggilan jarak jauhnya. Dia masih mendengarkan kesunyian dari sambungan yang terhenti lalu mematikan layar ponselnya.
Semua yang dikatakan Kennard benar tentang pekerjaannya yang tertunda. Namun tentu saja dia tak akan datang terlalu tepat waktu. Setidaknya dia akan tiba di Black Mountain sehari sebelumnya. Dia hanya sedang bercanda dengan Lisle, tak mengira gadis itu akan menganggapnya serius.
Kennard menghela napas. Sesaat merasa bingung harus berbuat apa. Gadis itu mungkin tengah merajuk atau lebih parah lagi merasa bersalah. Ada kemungkinan Lisle akan berhenti menelponnya, hal yang dikuatirkannya akan terjadi sehingga Kennard tak pernah menolak bicara dengan gadis itu meski kadang ocehan Lisle makin lama makin tak jelas. Apalagi saat gadis itu mengantuk, bicaranya sama sekali tidak bisa dimengerti. Lalu beberapa saat kemudian, Kennard akan mendengar dengkuran halus dari lawan bicaranya yang sudah terlelap.
Namun kemudian Kennard teringat dengan jadwalnya yang padat di kota ini. Dan dia berencana kembali secepatnya untuk menenangkan Lisle. Itu lebih baik daripada harus membujuk gadis itu lewat telepon. Jadi dia mungkin akan mengabaikan gadis itu untuk beberapa saat nantinya.
__ADS_1
***
Lisle tiba-tiba ingin menangis setelah memutuskan panggilan teleponnya. Matanya mulai mengembun waktu sahabatnya Celine terlihat memasuki kamar sambil menenteng tasnya. Buru-buru gadis itu berbaring miring menghadap ke arah yang berlawanan dengan Celine sambil menyeka sudut matanya yang mulai mengalirkan bening.
"Kau tidak menelpon kekasihmu?" Baru saja mencapai lantai kamar, Celine sudah menegur Lisle yang tampak diam seperti orang yang tengah tidur. Dia sempat menyadari gerakan berbaring Lisle yang tiba-tiba sesaat sebelum memasuki kamar.
Terlihat gelengan Lisle. Gadis itu tidak merubah posisinya yang masih membelakangi Celine. Sahabatnya itu mengerutkan kening. Ini tidak biasanya, batin Celine.
"Ada masalah?" tanya Celine sambil melempar pakaiannya ke dalam keranjang cucian.
"Tidak. Aku hanya mengantuk. Aku ingin tidur." Lisle menyahut dengan suara sengau karena sempat menangis.
Sebuah tangan menarik sisi tubuh Lisle, membalikkannya hingga telentang.
"Kau menangis? Ada apa? Apa kalian tidak jadi menikah?" Celine yang panik. Jika benar itu kemungkinannya, Celine akan menyertai Lisle menangis. Gagal menjadi nyonya Kent adalah sebuah musibah yang patut disesali habis-habisan.
Lisle kembali menggeleng sembari menggigit bibir bawahnya mencoba menahan tangis. Dia merasa bersalah sekaligus cemas. Bagaimana jika nanti tuan Kent terlambat datang karena sesuatu?
"Tuan Kent bilang baru akan kembali tepat di hari pernikahan kami…." Lisle bangkit dari posisinya yang berbaring.
"Huh, kupikir masalah serius apa. Tuan Kent memang orang sibuk. Jadi wajar jika jadwalnya padat seperti itu." Celine menarik napas lega mendengar keluhan Lisle yang berlebihan.
"Dia bilang sebenarnya bisa lebih cepat kembali kalau aku tidak terus-menerus menelponnya. Celine, selain merasa bersalah, aku juga kuatir kalau-kalau pas kembali dia terhalang oleh sesuatu. Bagaimana dengan acaranya kalau dia tidak datang?" Lisle terlihat mengusap sudut matanya. Dia terlihat seperti seseorang yang sangat menderita, membuat Celine yang melihatnya menyesal sudah mencemaskannya.
Tanpa mengatakan apa pun Celine melangkah ke kamar mandi. Hanya beberapa hari bersama Celine, Lisle membuatnya hampir sinting. Dia bisa saja mengatakan pada Lisle bahwa mereka bisa menunda pernikahannya besok hari jika memang tuan Kent berhalangan hadir. Lagipula itu bukan sebuah pernikahan besar. Tapi Lisle pasti akan mulai berbantah dengannya. Memikirkannya saja sudah membuat Celine tiba-tiba merasa lelah.
__ADS_1
Dalam hati gadis itu berharap, semoga pernikahan itu berjalan lancar hingga dia bisa segera terbebas dari kegilaan Lisle.