Kekasih Terpaksa Sang Penguasa

Kekasih Terpaksa Sang Penguasa
Bab 38. Meninggalkan Palm Garden


__ADS_3

l“Berhentilah....” Suara Lisle lemah memelas.


Kennard sudah membuatnya terbaring di sofa, mencumbuinya seperti gelombang air laut yang sukar dilawan. Setiap gerakan tangan laki-laki itu hanya membuat Lisle merasakan sensasi baru yang menenggelamkan. Otak Lisle hampir terkuras kesadarannya, ketika Kennard mengangkat wajahnya, membuat kedua pasang mata mereka bertemu.


Siapa laki-laki di depannya ini? Dia tampak setampan malaikat, pikir Lisle linglung. Matanya seperti jurang terdalam, membuat jatuh hingga ke dasar kegelapan.


“Hei!” Kennard mengerak-gerakkan tangannya di depan wajah Lisle dengan geli. Tatapan gadis itu sulit dijelaskan, antara terpesona dan dipenuhi kebingungan. Tadi Kennard berhenti karena tak merasakan lagi penolakan gadis itu, membuatnya tergoda ingin melihat wajah Lisle saat dipenuhi hasrat yang sama.


Lisle masih terdiam selama beberapa detik sebelum matanya berkedip-kedip seolah tersadar dari sesuatu.


“Apa yang kau pikirkan, Sayang?” Kennard mengelus pipi halus Lisle yang memerah. Sesaat tadi dia begitu menginginkan gadis ini dengan disertai sedikit amarah yang tersisa dari pertemuannya dengan Ralph. Meski kemudian dia masih menginginkannya tapi pikirannya menjadi lebih terang kini. Gadis ini masih menolaknya.


Lisle tersipu dengan panggilan sayang itu. Ada sudut hatinya yang mengelembung seperti balon udara.


“Ken, aku mau bangun. Capek sekali.” Lisle berkata pelan.


“Kalau begitu tetaplah berbaring,” ujar Kennard. Dia mempermainkan rambut Lisle sambil masih dengan posisi setengah melingkupi gadis itu.


“Aku mau ke kamar....” Lisle masih berusaha menjauhkan lelaki di atasnya. Posisi seperti ini membuatnya berdebar-debar.


Kennard menyeringai mendengar Lisle mengatakan itu, terdengar seperti rengekan manja seorang kekasih. Perlahan dia bangkit dan membangunkan gadis itu bersamanya.


“Kau ke kamarlah duluan. Aku masih ada sesuatu yang kukerjakan.” Kennard beranjak ke meja kerjanya. Sudut matanya masih sempat menangkap bayangan gadis itu yang tergesa meninggalkan ruangan.


***


“Lisle, ikutlah denganku. Ada sesuatu yang perlu kubicarakan.” Ralph tiba-tiba saja sudah ada di depan Lisle. Laki-laki itu berbicara dengan suara rendah agar tak mengusik ketenangan ruang perpustakaan.

__ADS_1


Saat itu jam kuliah terakhir. Dosen yang harusnya mengisi jam kuliah sedang berhalangan hadir. Lisle akhirnya pergi ke perpustakaan untuk mencari beberapa buku. Dia tidak sedang terburu-buru untuk pulang.


Lisle menatap Ralph sejenak sebelum menjawab. “Aku sedang sibuk,” lalu mengalihkan pandangannya pada buku di depannya. Menurutnya  tak ada sesuatu yang penting yang perlu mereka bicarakan.


“Sebentar saja. Kau pasti tertarik. Ini tentang bibimu.” Ralph menjelaskan.


Mau tak mau Lisle mendongak dari buku yang dibacanya. “Bagaimana kau tahu tentang bibiku?”


“Ikut aku!” desak Ralph lagi.


Akhirnya mereka beriringan berjalan ke sebuah bangku taman.


“Ada apa dengan bibiku?” Meskipun Lisle bertekad tidak ingin mengetahui lagi tentang kabar wanita itu, Lisle bertanya juga.


“Kau tahu dimana dia sekarang?” Ralph malah balik bertanya.


“Salah. Bibi dan sepupumu ada di luar negeri di sebuah kota kecil yang bahkan tak ada dalam peta mana pun. Dia diasingkan. Dibuang. Aku tak yakin kau akan bisa melihatnya lagi selama hidupmu.”


Ralph akhirnya berhasil mendapatkan sebuah informasi yang penting itu. Ada beberapa hal yang tidak sinkron. Lisle mengatakan bibinya sakit. Ray, orang suruhan Ralph, mendapatkan wanita itu pergi bersama puteranya keluar negeri. Seseorang mengatur perjalanan untuk mereka. Anehnya tempat yang mereka tuju bukanlah sebuah tempat yang lumrah untuk didatangi.


Tentang orang bernama Aaron, Ray kesulitan menemukan jejaknya. Ralph hanya mendapat informasi kalau bibi Lisle terlibat hutang dengan laki-laki pemilik perkebunan itu dan tidak sanggup membayar setelah jatuh tempo. Ada juga tentang kepergian Lisle ke Black Mountain di suatu malam dan keributan di rumah sang bibi ketika gadis itu menghilang. Tampaknya bibi Lisle telah menjadikan keponakannya sebagai jaminan hutang-hutang. Selebihnya Ralph hanya mengira-ngira keterlibatan tuan Kent dalam beberapa kejadian.


“Apa yang dikatakan tuan Kent padamu?” Ralph bertanya dengan tatapan menyelidik waktu dilihatnya Lisle tak mengatakan apa pun sehubungan dengan penjelasannya.


“Tidak. Itu tidak mungkin.” Lisle menggeleng lemah. “Bibi ada di rumah sakit di Glassville. Tuan Kent berjanji akan mengurusnya....”


“Bibimu tidak sakit. Mereka mengelabuimu agar kau datang ke Glassville.” Ralph sedikit demi sedikit bisa menghubungkan beberapa hal. “Tuan Kent pasti sudah mengetahuinya sejak awal. Mungkin dia memang mengurus bibimu, tapi tidak seperti yang kamu bayangkan. Dia menyingkirkannya. Sedangkan tuan Aaron sendiri telah seminggu menghilang. Aku yakin, tuan Kent telah melakukan sesuatu padanya. Lisle, kau tidak berhutang apapun padanya. Kau bisa pergi darinya.” Akhirnya Ralph bisa merasa lega setelah mengatakan semuanya.

__ADS_1


“Kenapa bisa seperti ini?” Lisle merasa tidak percaya dengan semua yang didengarnya. Benarkah tuan Kent sudah memerangkapnya dengan sebuah kebohongan?


“Lisle, aku sungguh-sungguh kuatir denganmu. Kalau kau tak percaya, kau bisa menelpon pihak rumah sakit.” Ralph mencoba menyentuh tangan Lisle tapi ditolakkan gadis itu.


“Aku... aku harus pergi sekarang....” Lisle berbalik dan berlalu dari hadapan Ralph tanpa mengatakan apa pun lagi. Kepalanya dipenuhi kerumitan sepanjang dia melangkah.


Meski yakin Ralph tidak berbohong, Lisle menelpon juga seorang tetangga di Glassville setelah mencoba menghubungi Bert, sepupunya tapi tak tersambung. Elly, nama tetangga itu mengatakan kalau dia tidak pernah mendengar bibinya, Annie sakit parah hingga perlu mendapatkan perawatan di rumah sakit. Dia juga mengatakan melihat keduanya pergi suatu hari dan tidak pernah kembali hingga hari ini.


Lisle mematikan sambungan dan terhenyak di kursi penumpang taksi yang mengantarnya ke Palm Garden. Dia sempat berpikir untuk menanyakannya langsung pada Kennard, tapi kemudian mengurungkannya. Tak perlu lagi ada penjelasan. Semuanya adalah tipuan. Kennard memenjaranya dengan sesuatu yang tak ada.


Begitu sampai di rumah dan berpesan pada sopir untuk menunggunya sebentar,  Lisle bergegas ke kamar. Sapaan Thomas yang menawarkan makan siang tak dihiraukannya. Dia mengemasi barang-barangnya yang tak seberapa ke dalam koper. Sebelum keluar kamar, dia teringat sesuatu. Lisle mengeluarkan ponsel baru pemberian Kennard dan sekeping kartu emas dari dalam tasnya kemudian meletakkannya di meja di samping tempat tidur.  Setelahnya dia sempat menatap seisi kamar dan matanya mengembun. Dia merasa aneh karena tak merasa bahagia meninggalkan tempat ini.


Thomas hampir meloncat bola matanya saat melihat Lisle yang turun dari tangga menyeret koper kecilnya dengan wajah murung.


“Nona. Ada apa? Nona mau kemana?”  Thomas sudah hampir meraih ponselnya saat menanyakan itu.


“Katakan pada tuan Kent, aku pulang ke apartemen lama. Katakan juga padanya kalau kesepakatan kami tidak berlaku lagi.” Lisle mempercepat langkahnya keluar rumah, memasuki taksi yang menunggunya dan menghilang bersamaan dengan kepergian mobil itu.


Thomas tertegun sejenak dengan ponsel yang ditempel di telinganya. Di seberang panggilan, Steve terus mengucap ‘hallo’  tanpa jawaban.


“Hallo, Thomas. Ada apa?” tanya Steve setelah terus mengulang.


“Steve, katakan pada tuan Kent, nona Lisle baru saja pergi dengan membawa barang-barangnya. Dia mengatakan akan kembali ke apartemen lama.” Suara Thomas terdengar cemas.


“Kenapa bisa begitu?” Steve mencari kejelasan.


“Nona Lisle bilang, kalau kesepakatan itu tidak berlaku lagi.” Thomas merasa sangat berkeringat di dalam ruang berpendingin. Tuan Kent pasti akan sangat marah kalau sampai mendengar berita ini.

__ADS_1


__ADS_2