
Orang yang datang itu adalah bibi Annie yang kembali. Dia tampak tidak membawa sesuatupun di tangan seperti janjinya, tapi malah mengatakan hal yang menurut Lisle tidak masuk akal.
"Aku mencari Bert dan tidak bertemu dengannya. Entah dimana dia meletakkan kedua benda itu. Apakah tadi dia ke sini?" Begitu tiba Annie langsung melirik ke cangkir Lisle yang isinya hampir habis.
"Kau sudah minum? Apa kau mau tambah lagi?" Annie pura-pura menawarkan.
Lisle menggeleng sebagai jawaban dan mengangkat lengan memijit sisi keningnya dan mengeluh pusing. Matanya tampak seperti orang yang mengantuk.
"Pusing? Apa karena terlalu lelah? Sebaiknya kau beristirahat sebentar di kamar." Annie mendekat dan duduk di sebelah Lisle. Dia merangkul bahu gadis cantik itu seakan bersimpati dengan keluhannya.
"Tapi, Bi, kurasa aku tidak kuat berjalan. Rasanya sangat pusing dan…." Lisle sempat berdiri sebentar dengan bantuan bibinya sebelum kembali jatuh terduduk lalu terkulai di sofa dengan posisi miring.
Annie melihat keponakannya yang jatuh tanpa perasaan kasihan sedikitpun. Dia hanya memperhatikan sejenak sebelum berteriak memanggil, "Josh, cepat panggil Bert dan urus gadis ini. Aku terlalu lelah setelah perjalanan beberapa jam itu dan ingin beristirahat."
Seorang pelayan yang dipanggil Josh tiba-tiba muncul di ruangan itu seperti hantu. Dia mengangguk hormat sedikit, mengiyakan tanpa suara dan berlalu segera.
Tidak berapa lama Josh kembali bersama Bert dan lelaki berjaket. Mereka mendekati Lisle yang terbaring lemas di sofa.
"Bawa gadis ini ke kamar. Kita harus pastikan gadis ini aman untuk pertukaran besar." Bert memberi insruksi.
__ADS_1
Sementara Annie meninggalkan tempat itu setelah beberapa saat meragukan sesuatu. Cepat sekali reaksi obatnya. Apa memang seperti itu?
Mereka meletakkan Lisle di sebuah kamar di bagian ujung. Saat itulah Bert memeriksa isi tas yang dibawa Lisle dan menemukan sepucuk senjata api di dalamnya.
Bert terkekeh begitu melihat benda itu. "Sepupu kecilku ternyata memiliki kemajuan. Sekarang dia sudah berkenalan dengan benda berbahaya. Rupanya dia mencurigaiku, tapi tidak cukup pintar menyembunyikannya." Benda itu diambil dan diselipkan di pinggangnya.
Lalu mereka meninggalkan Lisle yang terlelap dan mengunci pintu serta menempatkan seorang penjaga di luarnya.
Menunggu beberapa jenak, saat langkah kaki para penawannya menjauh, Lisle membuka mata. Dia menghirup napas sepenuh paru-paru lantas mengeluarkannya seperti sedang memuaskan diri. Tadi dia berusaha keras membuat napasnya setenang orang tidur. Padahal jantungnya berdentam-dentam ribut. Seandainya seseorang mau mendengarkan lebih seksama niscaya terdengarlah hentakan jantungnya yang tegang.
Ternyata tebakan Lisle benar. Mereka menaruh sesuatu dalam minumannya. Bert dan bibinya tidak berubah. Mereka tetap saja dua orang penjahat yang mencoba memanfaatkannya. Entah kenapa dia masih saja mempercayai dua anak beranak itu.
Untunglah tangan kakinya tidak diikat, hingga Lisle bisa bergerak kesana-kemari memeriksa sekitar ruangan itu dan mendapati bahwa kemungkinan terkecil untuk kabur hanyalah lewat jendela yang tidak terkunci. Sewaktu Lisle membuka jendela itu dia mendapati bahwa di luar atau tepatnya di bawah jendela adalah jurang dengan rimbunan pohon yang tumbuh di tepinya.
Lisle bersandar ke tembok, berpikir. Bisakah dia turun ke luar jendela dan bergelantungan di luar sana? Itu terlalu berbahaya dan menakutkan. Dia memang pernah diajari di pelatihan cara memanjat, tetapi tidak turun dari jendela ke jurang tanpa dasar seperti itu. Rasanya sama dengan mengantar nyawa.
Dan di luar sana, tentulah ada orang yang tengah berjaga. Berapa banyak pastinya? Satu orang? Dua orang? Alangkah baiknya jika hanya satu. Mungkin Lisle akan punya kesempatan untuk mengelabuinya.
Ruangan itu nyaris kosong. Tak ada perabotan kecil yang bisa digunakan sebagai alat pukul. Hanya ada satu tempat tidur.
__ADS_1
Lisle berjalan dengan berjingkat dan mendengarkan suara,-suara di luar dari balik pintu. Dia gagal mengintip karena tak bisa melihat apapun dari lubang kecil kunci di pintu.
Di luar sepi. Tapi telinga Lisle menangkap suara langkah sesekali dan seseorang yang terbatuk kecil.. Sungguh dia sangat berharap tebakannya benar. Hanya ada satu penjaga di balik pintu yang terkunci. Seandainya ada dua orang atau lebih, sesekali akan terdengar suara percakapan di antara mereka. Tapi Lisle tidak mendengar seseorang bicara di luar sana. Jadi rasamya tidak salah bila dia mengira jika hanya ada satu orang yang berjaga.
Lisle mencoba membuat kegaduhan. Dia membuka daun jendela yang besar dan membantingnya berulang-ulang hingga dia sempat berpikir kaca-kacamya akan pecah. Dia berusaha menarik perhatian penjaga. Setiap suara keras dari jendela yang membentur sisi tembok sebelah luar terdengar, Lisle bergegas mendekati pintu dan menunggu gerakan di luar sana.
Kali kesekian dia melakukannya dan mulai merasa putus asa karena tidak mendapat respon yang diharapkan, Lispe akhirnya mendengar suara anak kunci yang dimasukkan ke lubang dan diputar. Daun pintu di dorong dari luar dengan perlahan. Lisle bersembunyi di belakang pintu dan melihat si lelaki berjaket melangkah masuk sambil menatap lurus ke arah jendela yang terbuka lebar.
Suatu waktu di pelatihan Lisle pernah diberitahu beberapa titik mematikan di tubuh manusia. Salah satunya di bagian tengkuk. Jika mendapatkan titik yang tepat, lawan akan tewas seketika. Lisle tidak begitu mengerti. Tapi dia pikir tak ada salahnya mencoba.
Dengan seluruh kekuatan seorang yang nyawanya sedang terancam, Lisle memukul dengan kepalan tangan kecilnya, bagian tengkuk si lelaki berjaket. Lisle tak berharap si lelaki tewas. Bila orang itu pingsan beberapa saat atau cuma kesakitan dan rasa sakitnya mampu menghentikan otaknya berpikir sejenak bahwa tawanannya telah kabur, itu sudah cukup.
Namun si lelaki berjaket benar-benar ambruk ke lantai. Lisle sampai linglung beberapa saat waktu melihat orang itu terjatuh dan tidak bergerak-gerak lagi. Dia bahkan sempat ingin memeriksa adakah lelaki itu masih bernapas sebelum sadar bahwa itulah kesempatan baginya untuk kabur. Tak peduli si lelaki itu cuma pingsan atau malah sudah tewas dia harus segera pergi.
Lorongnya ternyata cukup pendek di tempuh hingga pintu belakang. Lisle berlari tanpa sepatu karena tak ingin menimbulkan suara di ruangan yang sepi itu. Begitu mencapai pintu belakang dia hampir bersorak karena pintunya tidak terkunci.
Matahari mulai beranjak ke langit barat. Tapi malam masih beberapa jam lagi. Lisle berada di taman belakang dan mengendap-endap di antara beberapa tumbuhan yang lebih tinggi.
Waktu dia mengira hampir mencapai kebebasannya, dia nyaris menabrak seseorang saat menyelinap keluar dari sebuah rimbunan bunga.
__ADS_1