Kekasih Terpaksa Sang Penguasa

Kekasih Terpaksa Sang Penguasa
Bab 50. Trik Kecil Tuan Kent


__ADS_3

“Tuan, saya tidak tahu kalau....” John beberapa kali berusaha menjelaskan pada Kennard tentang undangan makan malam ini. Dia sungguh tidak mengira rencananya menjadi bumerang yang menghantamnya balik.


“Sayang, apa makanannya tidak enak?” Kennard mengacuhkan John yang mencoba berbicara dengannya. Dia melihat Lisle mengunyah makan malamnya tanpa berselera. Gerakannya terlalu lamban seperti seseorang yang makan dengan terpaksa.


“Apa Nona Lisle ingin sesuatu yang lain? Saya akan memesankannya untuk Nona” John mengambil kesempatan itu dengan cepat. Dia sudah memanggil pelayan.


Namun Lisle menolaknya. “Tidak usah. Makanannya enak, kok. Perutku yang sedang bermasalah.” Dia meletakkan sendok garpunya dan minum sedikit air putih.


John melihat itu dengan tidak berdaya. Dia sudah memesan di tempat makan terbaik dengan menu terbaik, tapi tampaknya belum bisa memuaskan tuan presdir dan gadisnya. Tuan Kent sendiri sudah menyelesaikan makannya lebih awal dan tampak tak peduli pada John yang berkali-kali menyeka keringatnya. Kali ini nasibnya benar-benar sial karena telah mencoba mengusik gadis pemilik Diamond Group.


Namun bagaimana John bisa tahu kalau Lisle adalah seorang yang istimewa bagi tuan Kent? Dia tampak seperti gadis biasa yang sangat memerlukan sebuah pekerjaan untuk menyambung hidupnya, bukan seperti gadis yang sedang bosan dan ingin mencari kesibukan dengan bekerja di perusahaan kekasihnya.


“Apa kau ingin pindah ke tempat lain?” Kennard menawarkan pada Lisle.


Sekali lagi lisle menggeleng. Dia hanya ingin cepat-cepat mengakhiri makan malam ini dan pulang. John di depan mereka terlihat seperti seorang terpidana mati karena beberapa kali tangannya tampak gemetar dan makannya juga sangat sedikit. Dia terus-menerus mencoba berbicara dengan tuan Kent tapi selalu diabaikan membuat lelaki itu makin serba salah.


Lisle merasa kasihan. Dia berharap tuan Kent tidak bertindak lebih jauh lagi. Baginya ini sudah lebih dari cukup sebagai pelajaran agar John tidak mengganggunya lagi kelak.


“Tuan, bagaimana kalau kita pulang saja....” Lisle menyentuh lengan Kennard untuk ke sekian kalinya tanpa menyadari  perasaan hangat yang ditimbulkannya pada lelaki itu.


“Hm, baiklah.” Kennard memandang pada John yang segera menegakkan tubuhnya. “Kurasa kau tahu apa yang harus dilakukan. Gadisku tak ingin hubungan kami diketahui orang banyak.”


Lisle berpaling menatap Kennard, merasa lega saat mendengarnya. Lelaki itu mengingatkan John untuk tutup mulut.


“Baik, Tuan. Saya mengerti,” ujar John meyakinkan.

__ADS_1


“Ayo, Sayang.” Kennard bangkit sambil meraih lengan gadis itu.


“Terima kasih makan malamnya, Tuan John.” Lisle mengangguk hormat pada lelaki yang kini juga telah ikut berdiri.


Rasanya sangat lama sampai pasangan itu benar-benar pergi, John akhirnya terduduk kembali di kursinya. Seluruh persendiannya terasa lemas. Dipandanginya isi meja yang penuh dengan aneka hidangan namun nyaris tak tersentuh. Ini adalah makan malam tercepat, termahal dan tercanggung yang pernah dilaluinya.


***


Besok harinya dilalui Lisle tanpa masalah yang berarti di tempat kerja. Dia tidak bertemu Dean meski dia pergi juga ke departemen perencanaan. Di departemen humas, Lisle bertemu dengan John Blackton. Lelaki itu terlihat canggung dan memanggilnya ‘nona’. Lisle memintanya untuk memanggilnya seperti biasa dan buru-buru pergi dari sana.


Hari berikutnya Lisle mendengar kabar itu, John, sang manajer, dipindahkan ke cabang perusahaan di suatu tempat antah berantah. Gadis itu akhirnya menyadari satu hal, tuan Kent memang tidak bisa diprovokasi. Lagipula menurut Steve, yang menjemputnya di hari itu, nasib John masih belum terlalu buruk. Tuan Kent tampaknya telah bermurah hati dengan tidak mendepaknya dari Diamond grup.


Namun ada satu kejadian yang membuat Lisle sangat marah hari itu, tuan Kent memanggilnya sebelum makan siang lewat manajer HRD dengan alasan dokumen yang diantarnya bermasalah.


Tuan presdir memanggil Lisle si karyawan baru secara pribadi ke ruangannya? Semua mata di ruangan itu tertuju padanya. Tak ada karyawan kecil yang bisa menginjakkan kaki di ruang presdir.


Lisle pikir memang ada yang bermasalah, tapi begitu tiba di lantai yang mengkilap itu, Kennard memberi isyarat padanya untuk mendekat.


“Kemarilah,” ujar Kennard memberi isyarat dengan tangannya.


“Manajer bilang ada masalah dengan dokumennya....” Lisle berdiri di sebelah kursi yang diduduki Kennard, tapi belum selesai bicara gadis itu sudah ditarik duduk di pangkuannya.


“Tu... Tuan, apa yang kau lakukan?” Lisle menjadi panik. Seseorang bisa saja memergoki mereka dalam posisi memalukan itu. Gadis itu mencoba melepaskan diri tapi lengan Kennard menguncinya dalam rengkuhan yang kuat.


“Aku ingin kau berhenti mengantarkan dokumen sialan itu.” Kennard menekankan dahinya pada gadis itu. Napas mereka saling meniup wajah masing-masing.

__ADS_1


“Aku tidak mau.” Lisle berusaha menjauhkan wajahnya tapi Kennard menahan bagian belakang kepalanya.


“Sudah kubilang, jangan membantah bila masih ingin bekerja di sini.”


“Aku tidak mau dikurung di ruangan. Aku akan bosan.” Lisle memang menyukai pemandangan kota Black Mountain dari kantor tuan Kent, tapi apa kata karyawan yang lain bila tahu karyawan baru mereka tiba-tiba dipindah ke ruangan presdir.


“Itu lebih baik daripada kau berkeliaran dan membuat masalah di gedung ini,” ujar Kennard lagi.


“Aku tidak berkeliaran dan aku tidak membuat masalah....” Lisle membela diri. “Bukankah memang tugasku berkeliling antar beberapa departemen?”


“Tetap saja kau mengundang masalah.” Kennard meraih sisi wajah Lisle dan menciumnya dengan lembut namun dalam.


Tubuh Lisle menjadi kaku. Ciuman itu seperti lahar panas yang melelehkan pertahanannya. Gerakannya yang berusaha melepaskan diri terhenti. Sejenak bibir tuan Kent seperti candu yang memabukkan baginya.


Saat itu pintu tiba-tiba dibuka tanpa adanya ketukan yang mendahului. Seseorang melangkah memasuki ruangan dan terperangah dengan pemandangan di depannya.


“Tu... Tuan....” Lelaki muda yang baru masuk menelan ludah. Dia terlanjur berdiri di sana dan merasa serba salah.


Tadi atasannya memberitahu bahwa tuan presdir memanggil ke ruangannya. Itu adalah hal yang agak jarang terjadi, tapi dia pergi juga memenuhi panggilan sang pemilik Diamond Grup.


Sekretaris yang mejanya terletak di luar ruangan memberitahu bahwa dia disuruh masuk begitu saja saat tiba. Jadi lelaki itu membuka pintu dengan hati-hati. Tak disangka di dalam sini dia disuguhi pemandangan yang membuat seluruh semangatnya menghilang.


Suara tercekat lelaki itu seperti menyadarkan keduanya. Kennard menghentikan ciumannya dan mengangkat wajahnya dengan tenang, menatap pada seseorang yang berdiri di depan pintu. Sedangkan Lisle menjadi panik seketika. Kekuatirannya kalau-kalau seseorang memergoki mereka di sana terjadi juga. Dia seketika melepaskan diri dan turun dari pangkuan tuan Kent dengan muka memerah.


Si lelaki muda yang baru melihat dengan jelas gadis yang tadi berada dalam pelukan tuan presdir menatap tak percaya, gadis itu adalah si pengantar dokumen cantik

__ADS_1


“Lisle?”


“Dean?” Lisle tak kalah terkejutnya.


__ADS_2