Kekasih Terpaksa Sang Penguasa

Kekasih Terpaksa Sang Penguasa
Bab 82. Pelatih Yang Kejam


__ADS_3

Lisle menatap langit-langit kamar dengan mata nanar. Kepalanya sangat pusing. Yang barusan tadi tidak sepenuhnya salah dia. Kennard yang mulai. Laki-laki itu sangat tahu cara menggodanya. Dia sudah dijebak.


"Mau mandi? Apa kau bisa bangun sendiri?" Sebuah suara terdengar di atasnya.


Lisle memejamkan matanya lagi. Dia membalikkan badannya miring tapi segera meringis kesakitan. Pinggangnya. Ah, bukan cuma itu. Seluruh sendi di tubuhnya rasanya akan berjatuhan jika dia memaksa menggerakkan tubuh.


Dia mengabaikan teguran Kennard


Lalu sepasang tangan yang kuat membuat tubuhnya terangkat dari tempat tidur. Lisle memekik kaget.


Kennard sudah menggendong istrinya dan berjalan ke kamar mandi lalu meletakkan tubuh Lisle ke dalam bath up.


Airnya terasa hangat. Lisle langsung terdiam karena perasaan nyaman yang menyelimutinya. Sesaat tadi dia merasa malu karena Kennard menggendongnya dalam keadaan polos tanpa sehelai benangpun menutupinya.


"Aku… aku bisa mandi sendiri." Lisle terburu-buru mencegah tangan-tangan besar Kennard yang sudah meraih spon hendak membantunya membersihkan diri.


"Tidak apa-apa. Aku tidak keberatan." Kennard meneruskan gerakannya menggosok punggung sang istri.


Lisle menjadi gelisah membayangkan tangan-tangan yang menyentuh kulit punggungnya.


"Aku bisa melakukannya sendiri…." Lisle mencoba menahan gerakan Kennard yang kini beralih ke bahunya. Dia memejamkan mata dengan wajah panas. Suaminya ternyata juga masih belum berpakaian. Apa-apaan ini?


Sebuah senyum kemenangan menghiasi wajah tampan itu. Kennard menunduk dan mencium istrinya. Pekikan Lisle teredam menjadi sebuah keluhan tertahan saat lelaki itu naik ke dalam bath up yang sama.


Air di dalam bath up menghangat. Mengombak.


***


"Aku masih mengantuk." Lisle merengek dalam lelapnya yang terusik. Dia menarik lagi selimut yang tadi disingkapkan suaminya. Tak sekalipun dia membuka mata untuk menandai matahari yang sudah bergerak naik. Menurutnya dia berhak atas tidur yang lebih lama karena perlakuan Kennard semalam.


Dasar binatang! Lisle sudah lupa apa saja yang dia katakan dalam sumpah serapahnya semalam sebelum pingsan.

__ADS_1


"Aku sudah membiarkanmu tidur cukup lama. Sekarang hampir makan siang. Kau melewatkan sarapanmu." Terdengar suara tegas Kennard membangunkan. 


"Aku belum lapar. Aku hanya ingin tidur," sahut Lisle dengan suara mengantuk. Dia tidak merasa terkejut tentang hari yang hampir memasuki waktu makan siang. Dia bahkan tidak peduli jika malam sekalipun sudah kembali. 


"Hm, sepertinya kau menyukai yang semalam." Kennard berujar di telinga istrinya dan mulai menggigit.


Lisle terlonjak dari rasa mengantuk yang tadi menguasainya. Dia bangkit tergesa dan bergerak menjauhi lelaki itu sambil menggosok-gosok telinganya yang sudah memerah. Sekujur tubuhnya terasa merinding.


"A… apa yang kau lakukan? Bisakah kau tidak menggangguku barang sebentar saja?" Wajah putih Lisle memerah.


"Sudah bangun? Cepatlah mandi dan makan. Aku tunggu di dekat lintasan," ujar Kennard sambil berlalu dari sana.


Ya, Tuhan! Apa yang baru berkata itu adalah suaminya? Apa Kennard bermaksud membunuhnya? Lisle meringis menahan sakit di beberapa bagian tubuhnya sambil bangkit menuju kamar mandi.


Setelah berpakaian dan sarapan yang kesiangan, Lisle mendapati Kennard di ujung lintasan. Dari jauh lelaki itu sudah melihat pada arlojinya seakan memberi isyarat pada Lisle bahwa dia sangat lambat. 


Terserahlah! batin Lisle sambil bersungut-sungut. Untung saja aku tidak tewas semalam.


Lisle tidak juga mencoba mempercepat langkahnya. Malah berhenti di dekat kolam besar dengan aneka jenis ikan, menaburkan segenggam biskuit yang sudah diremukkan dan mengamatinya sejenak dengan perasaan senang.


Sekarang dia menggunakan kesempatan saat melewati kolam itu. Sambil tertawa-tawa waktu sekelompok ikan naik ke permukaan kolam berebut biskuit yang dia berikan, Lisle sempat melirik pada Kennard yang berdiri di kejauhan.


Lelaki itu tampak memasang wajah masam. 


Lisle tergelak sendiri. Dia kini malah bermain dengan air kolam, menciprat-cipratkannya pada ikan-ikan hingga mereka berlarian ke balik batu dan tumbuhan air.


Rasanya sangat luar biasa bisa membuat Tuan Penindas itu jengkel.


Setelah cukup puas bermain, Lisle bangkit dari duduknya di pinggir kolam. Ditepiskannya debu yang menempel di celana lantas berjalan malas ke tempat Kennard menunggunya.


"Lama sekali. Mulailah berlari. Perbaiki catatan waktunya!" ujar Kennard sambil bersidekap di pinggir lintasan. Dia tahu, Lisle sengaja hendak membuatnya kesal.

__ADS_1


Mulai lagi, ejek Lisle dalam hati. Si Pelatih Kejam ini. Kini gadis itu punya banyak julukan untuk suaminya sendiri.


Dia memalingkan wajahnya setelah menatap sengit pada sang suami. Kemudian mulai berlari. 


Matahari benar-benar tidak bisa diajak bersahabat. Baru satu putaran, keringat sudah membanjiri pakaian yang Lisle kenakan. Tapi mulutnya terkatup rapat menyimpan semua keluhan. Dia mulai terbiasa berlari meski dalam cuaca seekstrim ini.


Begitu menyelesaikan sepuluh putaran, waktu sudah menunjukkan istirahat makan siang. Orang-orang pergi ke ruang makan besar di sebelah kiri gedung pelatihan dan menikmati makan siangnya di sana.


Lisle duduk diam di meja makan besar yang hanya ditempati dia dan suaminya. Gadis itu hanya minum segelas jus karena masih merasa kenyang. Sementara Kennard di depannya makan dengan tenang.


Setelah waktu istirahat, Lisle sedikit antusias karena Kennard memberitahunya jika mereka akan mulai berlatih beberapa teknik bela diri. Namun setelah beberapa menit pertama, Lisle hampir menangis dibuatnya.


Kennard mengajarinya teknik memukul paling sederhana dan dia harus melatihnya dengan Andra. Tapi beberapa kali dia mencoba teknik itu pada Andra, gadis itu bisa mengelak atau menahannya dengan mudah kemudian membantingnya ke lantai yang telah dilapisi matras. Tetap saja itu menyakitkan. Kenapa Kennard tidak mengajarinya juga cara bertahan dan menghindar?


Rasanya sudah berkali-kali Lisle mencium matras. Dia bahkan melihat senyum geli dari para penonton pria. Bagi Lisle itu tampak sebagai ejekan. Belum lagi pujian Kennard pada Andra. Apa maksudnya? Kenapa dia terlihat bangga pada gadis yang bukan siapa-siapanya?


Beberapa kali Kennard memberi instruksi.


"Ulang. Perbaiki kuda-kudamu!" 


"Andra, tunjukkan cara memukul yang benar!" 


"Bagus, Andra! Lisle, perhatikan baik-baik gerakannya!"


"Lisle, pukulanmu terlalu lemah!"


"Apa yang kau lakukan? Kau sedang menari?!"


Hati Lisle seperti dibakar. Tapi dia mencoba fokus.


Kali ini Lisle bersiap-siap menyerang. Dia memburu ke depan. Serangannya kacau. Andra menghadangnya dengan tenang. Gadis itu bahkan tidak terlihat bersiap-siap. Dia cuma berdiri santai menunggu serangan. Saat Lisle begitu yakin pukulannya berhasil, Andra hanya terlihat memiringkan tubuhnya sedikit dan pukulan itu meleset.

__ADS_1


Benar-benar membuat Lisle jengkel. Dia menyerang lagi. Berkali-kali. Di kali terakhir Andra meraih bahunya dan membuat gerakan berayun, membalikkan tubuh mungil istri bosnya. Ruangan terasa berputar. Setelahnya Lisle terkapar menatap langit-langit gedung pelatihan.


Dalam setarikan napas, Lisle bangun. Dia seperti tidak merasakan lagi sakit di tubuhnya. Kali ini dia menyerang dengan segala cara. Persetan dengan teknik omong kosong itu.


__ADS_2