
"Celine?!" Lisle setengah histeris menyebut nama itu karena benar-benar tak mengira akan bertemu Celine di tempat itu. "Bagaimana kau bisa ada di sini?"
Celine terlihat pucat tapi tidak seterkejut sahabatnya. Dia hanya menatap Lisle dengan pandangan datar. Hampir tanpa ekspresi. "Aku… seseorang membawaku," ujar gadis itu.
Lisle sedang terburu-buru. Dia pikir Celine juga telah diculik. Jadi dia mencekal tangan sahabatnya itu dan menariknya ke tempat yang terlindung rimbunan tanaman hias.
"Apa kau juga berusaha kabur? Oh, syukurlah. Kita harus segera pergi dari sini sebelum orang-orang itu menyadari kalau kita telah berhasil kabur."
Semula Celine tampak tidak peduli dengan ucapan Lisle. Tapi kemudian dia bertanya juga. "Kau berhasil keluar dari ruangan itu? Bagaimana caranya? Bukankah pintunya dikunci dan seseorang berjaga di luar?
Sejenak Lisle merasa aneh. Bagaimana Celine bisa tahu persis keadaannya? Tapi saat teringat bahwa gadis itu juga mungkin telah mengalami hal yang sama, dia tidak terlalu memikirkannya. Lagipula mereka harus bergegas. "Hanya sedikit keberuntungan. Sudahlah. Berceritanya nanti saja. Kita harus segera pergi dari sini." Lalu ditariknya tangan Celine ke arah pintu pagar belakang.
Celine akhirnya mengikuti yang dilakukan Lisle, berlari sebisanya menjauh dari kastil. Mereka melewati rimbunan gelap pepohonan lebat, mengendap-endap tanpa henti menghindari tempat terbuka. Tapi memang tak ada banyak tempat terbuka. Daerah di bagian belakang kastil adalah hutan lebat yang berujung pada sebuah bibir jurang. Dan di sanalah mereka berhenti.
Lisle bersandar pada sebatang pohon besar sambil masih tersengal-sengal. Di depannnya keadaan Celine tidak jauh berbeda. Gadis itu menopang tubuhnya dengan menumpukan tangan pada sebuah pohon. Dia membelakangi Lisle dan terus begitu selama beberapa saat.
"Mungkin kita harus mengambil jalan lain," ujar Lisle begitu berhasil mengatur napasnya. Dia lebih cepat pulih dari lelahnya dibanding Celine.
Celine tidak mengatakan apa-apa. Dia terus berdiam diri, membuat Lisle merasa aneh. Harusnya gadis itu lebih banyak bicara seperti biasa. Setelah banyak hal terjadi, Celine pasti akan sangat penasaran. Lisle sendiri masih menyimpan banyak pertanyaan untuk gadis itu. Misalnya kemana saja dia menghilang selama beberapa hari ini? Adakah dia diculik oleh orang yang sama. Tapi bagaimana Celine bisa terlibat masalah dengan Bert? Mereka tidak saling kenal.
Tiba-tiba Celine berbalik menghadap Lisle. "Tidak ada jalan lain," ujarnya. Sebuah senyum ganjil muncul di wajahnya yang pucat.
Lisle terperangah. Baginya Celine tidak saja aneh tapi juga tampak seperti orang lain. "Maksudmu, kita tidak akan bisa meninggalkan tempat ini?"
"Tentu saja bisa. Aku bisa pergi dari tempat ini. Tapi kau tidak." Sebuah pistol mendadak muncul di tangan Celine dan diarahkan pada Lisle. Entah darimana gadis itu mendapatkannya.
__ADS_1
Lisle mengenali benda mematikan itu sebagai milik suaminya yang dia pinjam. Untuk beberapa detik Lisle tidak percaya. Apalagi saat dilihatnya wajah serius Celine.
"Celine? Kau… kau pasti bercanda, bukan?" Lisle melangkah mundur perlahan. Keringat dingin tiba-tiba membasahi wajahnya.
"Apa aku kelihatan sedang bercanda?" Celine berkata lambat-lambat. Ada kilatan asing di matanya. Semacam api kebencian yang tiba-tiba menyala dalam kegelapan yang dingin
Lisle menggeleng. Dia ingin tidak percaya. Seisi dunia boleh memusuhinya. Membencinya. Tapi Celine tidak akan pernah termasuk di dalamnya. Mereka bersahabat. Meski pertemanan mereka tidak lama, tetapi dia percaya Celine bukan orang seperti di hadapannya. Adakah setan sudah merasuki gadis ini? Atau dia adalah seseorang yang lain dengan wajah mirip Celine?
"Tapi kenapa?"
Celine maju selangkah. Lisle mundur selangkah, lebih dekat ke tepi jurang.
"Kenapa? Aku hanya sedikit bosan dengan semua omong kosong tentang persahabatan." Wajah Celine menjadi muram. Dia teringat ibunya, adiknya. Dia ingat paman dan bibinya. Dia ingat Steve. Lalu jantungnya berdetak lebih keras. Lalu hatinya seperti ada yang mengiris.
"A… apa maksudmu? Apa aku membuat kesalahan?" Lisle tidak bisa mengingat sesuatu yang pernah dia lakukan yang akan bisa membuat Celine berubah seperti ini, menodongkan sebuah senjata api kepadanya. Apakah Celine benar-benar akan membunuhnya? Lisle ingat, mencubitnya pun Celine tidak pernah.
"Aku akan berdiri di sisimu," sahut Lisle meski tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan gadis itu. Tapi dia akan membela sahabatnya itu jika memang terjadi masalah. " Aku akan membelamu sekalipun semua orang menyalahkanmu."
Terdengar tawa Celine. Gadis itu tertawa sangat keras hingga mengeluarkan airmata. Tapi ekspresinya sungguh tidak bisa dibedakan antara tertawa atau menangis.
Tangan yang memegang senjata itu bahkan bergoyang-goyang terbawa gerakan badannya.
Setelah suara tawanya mereda, Celine kembali meluruskan tangannya, menggenggam erat pistolnya. Wajahnya menjadi dingin. Pucat. Muram.
__ADS_1
"Berdiri di sisiku, katamu?" Celine berujar sinis. "Lalu kemana kau saat aku memerlukanmu? Saat ibuku sakit. Saat mayat ibuku dimasukkan ke dalam lubang. Kau malah mengirim seseorang yamg asing padaku. Dan seseorang itu sesungguhnya merasa jijik berada di dekatku. Tapi karenamu, dia terpaksa bersamaku selama beberapa saat."
Lisle menutup mulutnya dengan kedua tangan mencoba menahan jerit yang hampir keluar. Yang dikatakan Celine sungguh di luar perkiraannya. Dia tidak tahu sama sekali. Dan tak mengerti. Siapa seseorang yang dimaksudkan Celine?
"Tapi… aku tidak tahu. Kau tidak menghubungiku…."
"Aku menghubungi Steve, tapi dia tidak mau menyampaikan pesanku. Dia mengambil keputusan untuk membantuku lalu meninggalkanku saat ibuku meninggal." Celine berkata getir. "Tapi dia memang bukan siapa-siapa bagiku…."
Sesaat Lisle mencoba mencerna semuanya. Steve belum memberitahunya tentang yang terjadi pada Celine. Dia mengerti jika Steve mencoba menangani semuanya sendiri. Sang asisten itu tidak ingin mengganggu bulan madu mereka. Tapi Celine terdengar sangat sakit hati. Seharusnyalah dia yang saat itu berada di sisi sahabatnya, bukan Steve.
Steve. Adakah Celine menyukai lelaki yang tidak banyak bicara itu? Steve memiliki daya tarik yang cukup besar bagi gadis-gadis.
Lisle menatap Celine yang tampak terluka. Hatinya terasa sakit melihat bahwa dalam beberapa hari saja sahabatnya itu telah banyak berubah.
"Aku minta maaf soal ibumu…."
"Dia sudah mati." Celine menukas cepat. "Kau bahkan belum pernah bertemu dengannya."
Dilihat dari sudut manapun, Lisle tahu Celine tidak bisa menyalahkan siapapun atas kematian ibunya. Tapi satu hal yang Lisle mengerti, gadis itu sedang bersedih. Sangat bersedih.
"Aku turut berduka."
Dan Celine terisak hingga bahunya terguncang. Lisle mencoba memanfaatkan kesempatan itu untuk mendekat atau kalau mungkin merebut senjata di tangannya. Namun Celine tiba-tiba menjadi waspada. Airmatanya masih membasahi pipi, tapi matanya yang semula dipenuhi kedukaan kini menyala dengan kebencian.
"Jangan mendekat!" Celine memperingatkan.
__ADS_1
Lisle menghentikan gerakannya melangkah. "Celine, kau tidak tahu apa yang kau lakukan. Benda itu sangat berbahaya."
"Aku tahu yang kulakukan. Dan jangan khawatir, aku juga tahu cara menggunakan senjata ini. Karena itu, bila kau tak ingin peluru dari senjata ini melukaimu, lebih baik kau mencoba peruntunganmu yang lain. Melompatlah. Mungkin kau cukup beruntung tidak langsung mati."