
Celine terkejut begitu melihat siapa yang sudah mengetuk pintu apartemennya. Lisle tersenyum manis sambil berdiri di ambang pintu lantas menerobos ke dalam saat Celine sahabatnya tidak juga menyuruhnya masuk. Gadis itu menyeret koper kecilnya langsung ke kamar.
Setelah mengunci pintu, Celine membuntuti Lisle. Dia masih tak percaya melihat Lisle kembali ke apartemennya. Bukankah gadis itu tinggal di Palm Garden bersama kekasihnya, tuan Kent setelah drama penculikan yang mengerikan itu? Kenapa tiba-tiba Lisle datang dengan koper dan terlihat santai saja. Tidak mungkin 'kan mereka bertengkar lagi.
"Kalian bertengkar lagi?" tanya Celine penasaran. Dia tidak percaya Lisle akan mengulangi kesalahan yang sama lagi seperti dulu. Apa yang kurang dari tuan Kent? Tampan, kaya dan berkuasa. Seluruh penduduk Black Mountain mengenal dan menghormatinya. Meski ada beberapa rumor negatif tentang kekejaman dan kegiatan bisnis gelapnya, tapi semua itu tidak pernah terbukti. Satu hal yang pasti, tuan Kent adalah Presdir grup Diamond yang memegang perekonomian negeri.
"Tidak juga." Lisle telentang di tempat tidur. Matanya terpejam menikmati perasaan lega dan nyaman begitu tiba di sini. "Aku akan tinggal di sini sementara."
Alis Celine mengernyit. Dia gagal menebak apa yang terjadi. "Palm Garden pasti lebih nyaman dari apartemen ini. Jangan katakan kau tak betah tinggal di sana."
Lisle bangkit dari posisi berbaringnya dan menarik lengan Celine. Matanya yang indah tampak dipenuhi binar bahagia. "Celine, aku punya kabar baik."
"Hm, apa?" Celine menekuk bibirnya tapi tak urung dalam hatinya berdebar karena penasaran. Ini pasti bukan kabar biasa.
"Kami akan menikah." Lisle memegang kedua lengan Celine dan menatap langsung ke mata itu, menunggu reaksi sahabatnya.
Benar saja, Celine membelalakkan kedua matanya seperti tak percaya. "Secepat itu?" tanya Celine nyaris histeris. Sahabatnya, Lisle akan menikah dengan laki-laki terhebat di kota, bukankah itu luar biasa. "Kapan?"
"Minggu depan," sahut Lisle sambil tersipu. Dia juga tak mengira jika tuan Kent memutuskan pernikahan mereka Minggu depan. Tentu saja itu tak terlepas dari kesepakatan mereka kemarin yang membuat pernikahan mereka bisa dilakukan lebih cepat.
Celine mencibir. "Pernikahannya Minggu depan dan kau kembali ke apartemen ini. Apa kau hanya datang untuk mengabarkan ini? Tapi melihat kopermu, kupikir kau akan bermalam di sini."
__ADS_1
"Sudah kukatakan, aku akan tinggal sementara di sini sebelum kami menikah. Tuan Kent selalu menggangguku. Aku bisa gila dibuatnya." Lisle mengungkapkan keluhannya.
"Apa yang kau maksud dengan mengganggu?" Celine memandang dengan menyelidik.
Muka Lisle memerah. "Dia…. Kau tahu, emm…. Dia terus menggodaku."
Celine melepaskan tangannya dari pegangan Lisle, menatap jijik pada wajah merona itu. Dia mengerti beberapa hal tentang hubungan dengan lawan jenis meski dia sendiri juga belum pernah menjalin hubungan serius dengan seseorang. Namun melihat Lisle yang terus-menerus tersipu saat bicara membuatnya kesal sekaligus iri secara bersamaan. Sementara banyak gadis yang melakukan berbagai cara untuk bisa naik ke ranjang lelaki itu, Lisle yang sekarang berstatus kekasih sekaligus calon istri tuan Kent malah 'kabur' seminggu sebelum hari pernikahan.
"Apa salahnya tidur bersama. Kalian 'kan sebentar lagi juga akan menikah."
Lisle meringis. "Apa salahnya juga menunggu seminggu lagi. Itu tidak lama…."
"Kau terlalu konservatif," tukas Celine. "Jadi, kenapa bisa secepat itu? Perlu waktu untuk sebuah acara besar. Setidaknya kalian harus menunggu dua atau tiga bulan. Jangan katakan kalian tidak akan mengadakan pesta. Tuan Kent sangat kaya. Dia tentunya tidak akan menjadi pelit untuk membuat sebuah pesta yang mewah."
Celine akhirnya hanya mengedikkan bahunya merasa tak berdaya dengan keputusan yang Lisle ambil. Dia tak mengerti apakah gadis itu bodoh atau pintar dalam hal ini. Status nyonya Kent adalah impian para gadis di kota ini tapi Lisle malah ingin menyembunyikannya dari dunia.
***
Selama seminggu menjelang pernikahan Lisle, Celine dibuat jengkel dengan kelakuan gadis itu. Meski pun tuan Kent tidak sedang berada di dekat mereka, tapi rasanya Celine bisa merasakan kehadiran lelaki itu yang seperti hantu. Telinganya terus-menerus mendengar nama itu disebut Lisle. Jika tidak sedang berbicara dengan Celine, Lisle akan menyebut nama itu di telepon saat berbicara dengan tuan Kent.
"Kenapa kau tidak pulang saja sana ke Palm Garden. Apa kau tidak ingin bertemu dengannya?"
__ADS_1
Malam itu Celine menjadi tidak tahan melihat Lisle yang berguling-guling di tempat tidur dengan ponsel yang menempel di telinga. Gadis itu berbicara dengan nada manja di telepon hingga membuat Celine nyaris muntah. Dia tidak mengerti bagaimana tuan Kent yang dingin sanggup melayani ocehan Lisle yang tidak jelas selama berjam-jam. Apa lelaki itu tidak punya pekerjaaan lain?
"Kau bicara apa?" Lisle menutup bagian speaker ponselnya, menatap pada Celine yang cemberut dengan wajah berseri, sisa-sisa pembicaraannya dengan sang kekasih.
"Kau terus merengek pada tuan Kent, mengaku merindukannya, kenapa tidak kembali saja ke Palm Garden?" Celine berdiri sambil bersidekap. Rasanya dia ingin mengusir gadis di depannya ini malam ini juga. Lisle tidak pernah membuatnya sekesal ini. Mungkin kalau mau jujur ini lebih sebagai perasaan iri. Dia juga ingin memiliki pasangan. Tak perlu sehebat tuan Kent. Setidaknya dia lelaki baik dan bisa diandalkan.
"Celine, aku tahu kau pasti tidak sabar ingin mengusirku. Tapi tunggulah beberapa hari lagi. Aku kuatir, kau akan merindukanku nantinya." Lisle mengatakan itu sambil mengedip jahil.
Celine nyaris muntah darah mendengar kata-kata Lisle. Hal yang paling dia inginkan saat ini adalah menendang gadis ini keluar dari apartemennya. Dia tidak pernah mengira orang yang sedang jatuh cinta bisa menjadi sangat menjengkelkan. Dan genit.
Ya, Lisle di mata Celine mendadak jadi genit. Si polos beberapa bulan lalu yang masih tersipu hanya karena ditatap lawan jenis sedikit lebih lama, beberapa hari ini terlihat menjijikkan bila berbicara hal yang menyangkut tuan Kent. Lelaki itu benar-benar sudah membuat makhluk lugu ini mabuk kepayang.
"Ya ya ya, aku tahu. Kalian mungkin akan pergi berbulan madu dalam waktu yang lama. Tapi asal kau tahu saja, aku akan menjadi terlalu sibuk liburan ini dengan pekerjaan tambahanku, jadi tidak akan sempat untuk memikirkanmu apalagi merindukanmu." Celine bicara dengan kesal.
Lisle terkikik melihat Celine yang menjadi uring-uringan. Bukannya dia tidak tahu kalau Celine kesal padanya. Tapi mau apa lagi. Dia benar-benar rindu pada tuan Kent. Satu-satunya yang bisa dia lakukan adalah berbicara di telepon. Tuan Kent sendiri saat ini sedang berada di luar negeri dan akan kembali dua hari sebelum penandatangan buku nikah dan perayaan kecil. Tinggal di Palm Garden akan membuatnya merasa kesepian.
"Apa aku terlihat lucu?" Celine menatap sengit pada Lisle yang tidak menutupi perasaan gelinya.
"Tidak… tidak…." Lisle menggerak-gerakkan tangannya di depan wajah sebagai isyarat bahwa dia tidak menganggap sahabatnya itu lucu, membuat ekspresi wajahnya menjadi lebih datar. Sekilas dia melihat pada layar ponsel yang mati karena kehabisan daya. Lisle mengeluh tanpa sadar. Mungkin karena terlalu lama digunakan, ponselnya mati dengan sendirinya dan sambungan pun terputus.
Menatap layar ponsel yang gelap, Lisle tiba-tiba teringat sesuatu yang sama sekali tidak berhubungan dengan benda di depannya. Sepertinya dia tahu harus melakukan apa untuk menghentikan sikap uring-uringan Celine. Seorang pacar. Ya, gadis itu harus dibuat sibuk oleh seorang lelaki agar tidak perlu kesal dengan urusan antara Lisle dan tuan Kent. Dan Lisle tahu siapa lelaki yang pantas untuk sahabatnya itu.
__ADS_1