
“Helinya sudah siap.” Kennard bangkit dari duduk dan memberi isyarat pada Lisle untuk mengikutinya. Hari ini penampilan Kennard terlihat lebih santai dengan kemeja putih lengan pendeknya.
Lisle yang langkahnya lebih pendek harus mempercepat langkah agar bisa mengimbangi gerakan Kennard. Dia terlihat gugup.
“Apakah tempatnya sangat jauh sampai harus pakai heli segala?” Nada suaranya tak bisa menyembunyikan perasaan cemasnya.
“Tidak juga. Tapi karena kau bangun kesiangan, jalan ke arah sana akan sangat macet. Aku tak ingin terjebak di jalan selama beberapa jam untuk perjalanan setengah jam.”
Lisle menutup mulutnya tak berani lagi protes. Tapi bukankah kau juga bangun kesiangan? Kalimat itu ditelannya kembali. Dia merasa lebih baik fokus pada perjalanan di udara nanti. Apa dia akan muntah lagi?
Helikopter itu ternyata mendarat di halaman samping rumah. Lisle baru sadar ada helipad di sana. Dia memikirkan banyak hal ketika tiba di rumah ini dan tidak tertarik berjalan-jalan sekedar memuaskan rasa ingin tahunya.
Suara gemuruh baling-baling membuat orang-orang di sekitar benda itu harus mengeraskan suara jika ingin berkomunikasi. Lisle merasa seluruh tubuhnya dihempas angin yang keras. Rambut dan baju yang dipakainya berkibar-kibar. Dia mesti menahan ujung-ujung roknya agar tidak terbuka.
Kennard naik lebih dulu. Dia mengulurkan tangan pada Lisle dan menariknya ke kursi penumpang di sampingnya, memasangkan sabuk pengaman dan headphone. “Tidak usah takut. Kau akan terbiasa,” ujarnya menenangkan begitu melihat wajah halus Lisle sudah menjadi pucat.
Terbiasa? Jangan katakan kita akan naik benda ini setiap kali ada kemacetan! Lisle merutuk dalam hati. Tangannya terasa dingin.
Ketika kendaraan itu mulai terangkat naik, Lisle merasakan guncangan keras yang membuatnya panik. Tangannya tiba-tiba diraih dan digenggam erat. Lisle menoleh pada Kennard di sampingnya. Lelaki itu menatap lurus ke depan. Tapi tangannyalah yang sudah memegang erat seperti mencoba menenangkan.
Ternyata perjalanan udara kali ini tidak seperti yang dicemaskan Lisle. Dia memang agak merasa mual tapi tak sampai menumpahkan isi perutnya. Ketika menatap ke bawah sana, segala macam bangunan makin lama makin mengecil. Lisle merasa takjub sesaat. Uang memang bisa melakukan segalanya.
Setelah perjalanan yang memakan waktu setengah jam lebih, mereka diturunkan di atas sebuah kapal pesiar mewah. Seorang lelaki dan dua wanita dengan seragam pelayan menyambut mereka.
“Selamat datang, Tuan Kent. Semoga liburan anda kali ini menyenangkan.” Si lelaki memberi hormat diikuti dua wanita.
Kennard hanya mengangguk sekilas. Lisle di sebelahnya menarik langkah sedikit mundur, merasa canggung. Kemudian mereka dibawa menuju sebuah kamar besar dan mewah. Dari jendelanya terlihat hanya hamparan laut biru.
__ADS_1
“Kapal ini akan berlayar beberapa hari. Aku menyuruh para pelayan pergi. Jadi yang tinggal hanya juru mudi dan asistennya di ruang mesin.” Kennard memberitahu.
Lisle yang mendengarnya jadi gugup. Juru mudi dan asisten tak akan dihitung sebagai penumpang. Intinya cuma tinggal mereka berdua di kapal besar ini.
“Apa kau mau melihat-lihat?” Kennard mendekati Lisle yang kini tengah memandang ke luar jendela. Dipeluknya gadis itu dari belakang. Sontak Lisle merasa kaku seluruh tubuhnya. Lengan besar itu dengan nyamannya melingkari pinggang Lisle. Wajah lelaki itu ditumpukan di bahu Lisle, hingga dia tidak berani menoleh.
“Aku di sini saja dulu. Aku masih agak pusing.” Lisle mencoba melepaskan pelukan itu tapi tak berhasil.
“Masih pusing, ya.... Kalau begitu kutemani.” Kennard malah menciumi tengkuk halus Lisle dan menggigit telinganya sedikit, membuat seluruh tubuh gadis itu merinding. Dia menggeliat resah.
“Tidak usah. Kau pergi saja kalau ada yang ingin dikerjakan.” Lisle mengusir Kennard dengan halus. Lelaki itu malah membalik badan Lisle menghadap ke arahnya.
“Aku ingin mengajakmu berenang,” ujar Kennard. Dia menunduk pada wajah yang mulai memerah di depannya, membuatnya gemas setengah mati.
Kennard tidak pernah ditolak wanita sebelumnya. Malah mereka yang datang menawarkan diri. Meski itu hanya untuk cinta semalam, tak ada yang keberatan. Karenanya penolakan Lisle membuatnya terobsesi menaklukkan gadis ini. Dia bukan pemerkosa yang tak punya harga diri. Jadi meski hampir gila dengan penolakan demi penolakan, dia masih bisa menahan diri.
“Aku tak bisa berenang.”
“Tidak mau. Aku takut.” Lisle menggeleng keras. Apa dia akan disuruh memakai baju renang minim hingga lelaki ini bisa memandangi tubuhnya sepuasnya?
“Apa yang tidak membuatmu takut? Disentuh sedikit saja kau sudah gemetaran. Bagaimana kalau berenang di tempat tidur. Apa kau tidak takut?” Kennard tiba-tiba mengangkat tubuh Lisle membuat gadis itu terpekik.
Mata jernih Lisle terbelalak ketika tubuhnya di lempar ke ranjang besar yang ada di kamar itu. Permukaannya yang empuk dan lembut tidak menjadikannya kesakitan. Hanya membuatnya terkejut karena perlakuan Kennard yang tiba-tiba itu. Apakah ini saatnya? Apa laki-laki itu sudah tidak sabar lagi untuk memilikinya?
Kennard melingkupi Lisle dengan tubuh besarnya. Ditatapnya wajah cantik yang dipenuhi kepanikan itu. “Kau takut?” bisiknya lembut. Tangannya mengelus pipi Lisle.
Bibir Lisle bergetar. Dia ingin berkata sesuatu tapi tenggorokannya terasa kering. Karenanya dia hanya mengangguk.
__ADS_1
Tapi Kennard tak melihat anggukan itu. Wajahnya tenggelam di leher gadis itu, menciuminya perlahan hingga Lisle semakin gemetar.
“Tuan, tolong. Hentikan.... Ah...!”
Kennard menghentikan gerakannya dan mengangkat wajah. “Salah lagi. Kau lupa harus memanggilku apa?”
“Kennard....” Mata Lisle berkaca-kaca. “Tolong hentikan....”
“Jadi, kau memilih berenang di mana?” Kennard kembali menunduk menyentuh kelopak mata indah itu dengan ujung hidungnya.
Lisle refleks memejamkan mata hingga genangan di sudutnya jatuh di kedua belah pipi. “Di air. Aku memilih berenang di air....”
“Hm.” Kennard bergumam. Di sekanya airmata itu. “Ada baju renang di lemari. Kau bisa pilih. Aku tunggu di luar.” Kennard bangkit dari posisinya dan turun dari tempat tidur.
Lisle sejenak menghirup napas lega, membiarkan udara mengalir sepenuhnya hingga paru-paru. Tadi dia pikir akan mati kehabisan napas karena terlalu tegangnya.
Perlahan dia bangun dan beranjak dari tempat tidur. Dibukanya sebuah lemari besar dan melongok isinya. Deretan pakaian wanita tergantung rapi. Lisle mencari. Beberapa bikini yang hanya terdiri dari secarik kain berjajar di gantungan paling ujung. Aneka warna dan model dengan merk ternama. Manis tapi menjijikkan bagi Lisle.
Akhirnya dia mengambil sebuah model one piece dengan rok pendek menutupi bagian bawahnya. Meski setelah dipakai dia tak mampu menghindarkan belahan dadanya yang terekspos nyata. Dengan gugup dia mengambil jubah mandi dan memakainya di bagian luar baju renang lalu keluar kamar.
Kolam renangnya terletak di bagian belakang kapal. Meski takjub membayangkan berenang di kolam renang di atas permukaan laut, Lisle menggigil juga dibuatnya. Kennard tampak menggapai sisi kolam dan keluar dari air. Dia berjalan menuju sisi yang lain tempat Lisle berdiri termangu pada air yang biru jernih. Ketika gadis itu mengangkat wajah, dia buru-buru mengalihkan pandang.
Kennard berjalan hanya dengan celana renang. Bentuk tubuh sempurnanya memperlihatkan otot-otot yang terlatih. Titik-titik air berjatuhan dari rambutnya yang basah. Kulitnya yang agak gelap berkilauan tertimpa sinar matahari yang hangat. Meski sekilas, Lisle tidak bisa menghilangkannya dari ingatan.
“Kemari. Aku ajarkan kau gerakan dasarnya dulu.” Kennard mendekat.
Lisle malah merapatkan jubah mandinya, enggan melepaskan. Rasanya udara menjadi sangat dingin dan melepasnya akan membuatnya menggigil.
__ADS_1
“Dingin sekali!” Lisle mengeluh. Dia memeluk dirinya sendiri, berusaha mengalihkan pandangan
Kennard menyeringai mendengarnya. “Jangan membuat alasan! Airnya hangat dan matahari bersinar cukup cerah. Atau kau ingin kembali ke kamar dan kuhangatkan?”