Kekasih Terpaksa Sang Penguasa

Kekasih Terpaksa Sang Penguasa
Bab 85. Latihan Menembak yang Kacau


__ADS_3

Tembakan pertama meleset. Tidak cuma meleset dari lingkaran sasaran tapi juga objek sasarannya sendiri.


Lisle masih menembak lagi untuk beberapa kali dan hanya satu kali mengenai tepi sasaran. Dia berpaling pada Kennard ingin melihat reaksi lelaki itu.


Ternyata menembak tak semudah kelihatannya. Lisle merasa seluruh tubuhnya kaku karena terlalu tegang.


Kennard berjalan mendekat dan berdiri di belakang Lisle. Tubuh mereka menempel rapat hingga Lisle merasa napasnya menjadi sesak tiba-tiba. Wajah lelaki itu berada dekat di sebelahnya dan bertumpu ke bahu Lisle. Kennard mengarahkan senjata di tangan Lisle ke sasaran.


"Jangan tegang. Atur napasmu. Fokus ke sasaran," ujar Kennard di telinga gadis itu.


Lisle berusaha mati-matian mengikuti instruksi itu karena sangat tidak mudah berkonsentrasi dengan tubuh kokoh hangat itu melingkupi tubuhnya. Sedangkan tangannya dalam genggaman lelaki itu.


"Kemudian tembak." Kennard menarik pemicu.


Peluru melesat dengan kecepatan setidaknya 300 meter per detik menuju sasaran di ujung sana.


Mata Lisle membelalak ke arah sasaran. Ternyata tembakan mereka tepat mengenai titik tengahnya.


"Waaah, hebat!" seru Lisle. Pujiannya terlontar tanpa sadar. Dia berpaling pada Kennard yang masih berada di sebelahnya. Sebuah ciuman menyambutnya.


Sorakan Lisle terbungkam.


Lisle masih melanjutkan beberapa sesi latihan lagi. Waktu Kennard menyuruh Andra menemani istrinya latihan, Lisle sempat protes. Dia bukannya tidak suka gadis itu. Dia cuma iri dengan kemampuan yang dimilikinya. Tapi Kennard tidak mempedulikan protes itu dan meninggalkan Lisle dan Andra di lapangan tembak.


Lisle ingin bersikap ketus dengan Andra. Tapi dia bukan gadis seperti itu. Dia tipe orang yang peduli dengan perasaan orang lain. Dia tetap ramah pada Andra meski jadi lebih sedikit bicara.


Tiap kali Andra memberi contoh atau menegurnya atas sebuah kesalahan, Lisle diam-diam menahan kekesalannya. Lalu tembakannya menjadi makin tak terarah. Waktu latihan belum berakhir ketika dia melepas headphone dari kepalanya dan meletakkan senjatanya.


"Aku ingin istirahat," ujar Lisle lantas meninggalkan Andra yang tampak kebingungan.

__ADS_1


Andra ingin mengatakan bahwa waktu latihan belum berakhir dan Lisle harus bersungguh-sungguh karena waktu mereka sangat terbatas. Tapi mana berani dia protes ketika istri bosnya itu pergi dengan tampang kesal. Dia tidak mengerti kekeliruan apa yang telah diperbuatnya hingga nyonya muda akhir-akhir ini terlihat berusaha menjauhinya.


Kennard yang kemudian mendapat laporan dari Andra tidak berkomentar apa-apa. Dia sedang membahas beberapa hal dengan Lucas, pimpinan pelatihan di ruang kerja yang besar. Begitu Andra pergi, Kennard mengakhiri pertemuan itu dan kembali ke rumah istirahat.


Di kamar dia mendapati istrinya telah wangi dalam gaun krem sederhana. Gadis itu sudah mandi meski hari masih belum sore. Kennard mendekati Lisle yang menyisir rambut sambil duduk di depan meja rias. Wajahnya tidak menunjukkan tanda-tanda telah terjadi sesuatu yang membuatnya kesal.


 


"Sudah berhenti latihannya? Apa sudah ada kemajuan?" Kennard membungkuk pada tubuh istrinya, mencium rambut yang dipenuhi aroma shampo.


"Tanganku pegal sekali. Rasanya sangat sakit. Mungkin besok saja dilanjutkan." Lisle menyahut dengan keluhan. Sebenarnya dia juga ingin mengeluhkan hal lain.


"Hm, baik. Besok kembalilah berlatih dengan Andra. Aku ada sedikit urusan dengan yang lain." Kennard tidak memaksa istrinya untuk meneruskan latihan seperti biasanya jika gadis itu mulai mengeluh. 


"Aku tidak mau ditemani Andra," protes Lisle.


Kennard mengerutkan alisnya. Heran. "Kenapa? Kau tidak menyukainya? Kulihat kalian sudah berteman baik." 


"Lalu?"


"Aku…." Lisle tidak tahu harus mengatakan apa. "Pokoknya aku tidak mau dia yang menemaniku. Aku lebih suka kau yang mengajariku."


Lisle merasa telah salah bicara. Secara normal, dia akan memilih Andra sebagai pelatih. Kennard bisa menjadi sangat kejam jika sudah berada dalam pelatihan. Dia seperti tidak peduli bahwa orang yang sedang dilatihnya adalah istrinya sendiri. 


"Benarkah?" Kennard mengawasi wajah istrinya di cermin. Dia tahu Lisle berbohong. "Jangan bohong padaku. Aku tahu kau cemburu pada gadis itu."


"Mana mungkin aku cemburu. Dia…." Lisle buru-buru membantah.


"Dia cukup cantik. Seksi. Dia juga gadis yang hebat…." Kennard mengatakan beberapa pujian yang membangkitkan kekesalan istrinya.

__ADS_1


"Lalu kenapa kau tidak menikah saja dengannya?" Lisle melepaskan lengan Kennard dari bahunya dan bangkit dari duduk. Dia naik ke tempat tidur dan menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya hingga ke kepala. Perasaannya yang tadi sudah membaik menjadi kacau lagi.


Kennard menjadi geli sendiri. Beberapa hari ini dia memang sengaja memancing kecemburuan istrinya daan ternyata usahanya berhasil. Dia hanya ingin membuat Lisle lebih bersemangat dengan memberinya seorang saingan. Hanya saja dia tak menemukan orang yang tepat. Kemampuan Andra berada jauh di atas istrinya yang baru memulai latihan. Karenanya dia cukup terkejut saat Lisle berhasil membuat Andra terjatuh dalam pertarungan latihan kemarin.


Ternyata rasa cemburu seorang wanita bisa menjadi kekuatan yang sangat menakutkan. Kennard berjanji akan mengingat itu.


"Ada banyak gadis cantik dan hebat seperti Andra. Aku tidak mungkin menikahi semuanya, kan? Lagipula aku tidak menyukainya." Kennard ikut naik ke ranjang, menarik selimut yang menutupi kepala Lisle." Aku hanya menyukaimu."


Rasanya hati Lisle meleleh dibuatnya. Tentu saja Kennard hanya menyukainya. Kalau tidak, mana mungkin dia menikahinya. Tapi Lisle terlanjur merajuk. Dia menarik lagi selimut yang tadi diturunkan Kennard ke bahunya.


Kennard kembali menarik selimut itu. "Masih terlalu sore untuk tidur. Bagaimana kalau kita berjalan-jalan?"


Lisle menggeleng. "Aku lelah. Aku tidak ingin ke manapun."


"Hm, jadi benar kau cemburu?" Kennard memeluk istrinya dari belakang.


Lisle tidak menyahut. Dia malu mengakuinya.


"Seorang paman mengambil gadis itu saat dia berusia lima tahun dari sebuah panti asuhan. Kedua orangtuanya tidak diketahui. Karena pamanku seorang yang memiliki kedudukan di kemiliteran, dia melatih gadis itu bela diri sejak kecil. Lalu sesuatu terjadi yang menyebabkan paman dan istrinya tewas. Andra datang ke pelatihan dan mengatakan ingin bergabung." Kennard bercerita tentang masa lalu Andra.


"Saat itu usianya baru delapan belas dan dipenuhi dendam. Dia memintaku membantunya menemukan pelaku pembunuhan kedua orangtua angkatnya. Sebagai balasan, dia bersumpah setia akan mengabdi padaku seumur hidupnya."


Lisle jadi bergidik mendengar cerita itu sekaligus merasa kasihan pada Andra. Seorang gadis semuda itu sudah menyimpan dendam mematikan. "Apa kemudian kau menemukan pembunuh pamanmu?" tanya Lisle penasaran. 


"Tentu saja. Apa yang tidak bisa suamimu ini temukan jika ingin mencari?" ujar Kennard sambil mengeratkan pelukannya. Tubuh istrinya begitu hangat dan lembut.


"Lalu?"


"Dia sendiri yang menghabisi pembunuh itu. Dengan tangan-tangannya." Kennard tak ingin bercerita rinciannya. Lisle bisa mual mendengarnya.

__ADS_1


Lisle terdiam sejenak. Tiba-tiba dia merasakan sedikit kemiripan nasib dengan Andra. Mereka sama-sama tidak memiliki orangtua. Tapi Andra kehilangan dua kali dan itu sangat menyakitkan. Kemudian dia ingat sesuatu.


"Ken, kau bilang bisa menemukan apapun. Apa kau bisa mencarikan seseorang untukku?"


__ADS_2