
Dua orang lelaki itu berpandangan begitu mendengar Lisle mengatakan itu. Jika yang dikatakan gadis ini benar, bukankah dia telah membuat dirinya sendiri dalam bahaya besar. Untuk korban-korban tak berharga, menghabisinya saat pergi adalah sebuah bentuk menghilangkan jejak bagi para penculiknya. Gadis ini malah dengan bodohnya mengatakan kalau dia tak memiliki hubungan apa pun dengan tuan Kent, satu-satunya kesempatan baginya untuk selamat.
“Nona, jangan bercanda. Kau membuat dirimu sendiri tak berharga. Kalau kau tidak bisa membuat kami mendapatkan uang dari tuan Kent, kau layak menjadi sasaran peluru ini. Si lelaki bertubuh besar yang menjadi emosi, mendekat dan menodongkan sebuah senjata ke kening Lisle.
Moncong senjata itu terasa dingin begitu menyentuh kulit kening Lisle. Gadis itu mengangkat pandangannya pada si penodong. Dia tak pernah membayangkan akan berada dalam posisi ini sebelumnya. Senjata-senjata pembunuh seperti ini hanya pernah dia lihat dalam film-film. Hari ini benda itu bahkan diarahkan padanya dan dia bisa merasakan malaikat maut berada di sekitar mereka, menunggu menjemput kematian seseorang.
Lisle berkedip beberapa kali sebelum tersenyum putus asa. Aneh jika dia tidak merasa takut. Apakah kehilangan harapan membuat seseorang mati rasa? Dia bahkan sempat berharap laki-laki ini segera menembaknya. Tak ada yang akan kehilangan. Mungkin Celine akan bersedih untuknya beberapa saat lalu melupakan Lisle selamanya. Setelahnya dia adalah debu yang menghilang dari hiruk-pikuk dunia.
“Hentikan, Tony! Jangan bersikap bodoh. Apa kau tidak lihat bahwa dia dia mungkin sedang bersiasat?” Adolf menarik tangan yang sedang mengarahkan senjata ke kening Lisle. Temannya ini seorang kriminal yang tengah melarikan diri dari sebuah kasus pembunuhan di luar negeri. Tony mungkin sedang cemas karena harapan untuk segera mendapatkan uang dalam jumlah besar dipatahkan begitu saja oleh gadis ini. Laki-laki itu sedang berencana meneruskan pelariannya setelah selesai dengan urusan di kota ini. Dia memerlukan sumber dana yang besar untuk ‘liburan panjangnya’.
“Bukankah kau memberi waktu pada tuan Kent untuk mengumpulkan dan mengantar uangnya? Tunggu sampai saat itu. Jika orang itu benar-benar tidak datang, aku sendiri yang akan menghabisi gadis ini. Kita akan buat sebuah kematian paling menyakitkan untuknya.” Adolf berjanji. “Ayo keluar. Aku sudah menyuruh orang untuk mengantarkan makanan ke sini.”
Tony menyimpan senjatanya di pinggang. Dia tak membantah Adolf. Sekilas masih diliriknya Lisle yang terlihat masih meringkuk di ranjang, merasa sedikit heran gadis itu tidak pingsan di bawah ancaman senjatanya.
Kedua orang itu akhirnya pergi keluar dan menutup pintu. Terdengar bunyi kunci yang diputar dan langkah kaki yang menjauh.
Lisle seperti baru bisa bernapas saat kedua orang itu pergi. Dia menarik napas sepenuh paru-paru dan menghembuskannya dengan sedikit lega kemudian menyandarkan diri pada tembok di belakangnya. Wajahnya tengadah pada langit-langit kamar. Perasaannya hampa.
Sementara ditinggalkan selama beberapa jam, Lisle merasa tenggorokannya kering dan perutnya mulai lapar. Sepertinya sudah lewat makan siang. Dia kembali terbiasa melewatkan sarapan dan baru merasa lapar saat siang seperti ini.
__ADS_1
Dia lagi-lagi mendengar suara langkah kaki dan orang-orang yang sedang berbicara. Mereka kembali. Lisle menegakkan tubuhnya saat handle diputar dan pintu dibuka. Tuan Adolf melangkah masuk sambil membawa nampan berisi makanan dan sebotol air. Lelaki itu meletakkannya di meja dekat ranjang dan menghampiri Lisle.
“Aku akan membuka ikatan tanganmu sementara kau makan. Jangan berbuat yang aneh-aneh dan makanlah dengan cepat.” Adolf mengurai simpul yang menjerat tangan Lisle tapi tampak tidak berhasil. Simpul-simpul itu telah menjadi simpul mati yang menjerat erat. Terdengar makian Adolf sesaat sebelum dia mengeluarkan sebuah pisau lipat dari saku jaketnya dan mengiris tali pengikat itu.
“Aku ingin ke toilet,” ujar Lisle. Ari-arinya terasa pecah karena terlalu penuh. “Aku tidak ingin buang air di tempat tidur.” Pipinya menjadi merah.
Adolf tercengang sesaat. Gadis ini sangat cantik meski dalam penampilannya yang kacau. Dan dia masih bisa tersipu saat nyawanya sedang terancam.
“Baiklah. Akan kulepaskan ikatan kakimu sekalian dan selesaikan urusanmu dengan cepat.” Adolf melepaskan lagi jeratan di kaki Lisle. “Toiletnya di balik pintu itu. Setelah itu habiskan makananmu. Aku akan kembali satu jam lagi.” Lelaki itu melangkah keluar kamar dengan linglung.
Lisle menggerak-gerakkan kedua tangan dan kakinya yang terasa kaku lalu turun dari ranjang. Di salah satu sisi kamar ada sebuah pintu kecil, Lisle membukanya dan menemukan sebuah toilet yang lumayan bersih.
“Kami memberi waktu pada pacarmu untuk menebusmu hingga pukul enam sore. Jika dia tidak datang, kau mungkin tidak akan sempat untuk makan malam dan melihat matahari esok pagi.” Adolf berkata sambil matanya terus menelusuri setiap inchi tubuh gadis di depannya.
“Tapi aku punya penawaran yang lumayan bagus untukmu. Jika kami memang sial dan yang tadi kau katakan benar, kurasa aku bisa membuat Tony tidak membunuhmu. Aku tidak terlalu bangkrut. Aku masih punya sedikit uang untuk menutup mulut lelaki itu dan membawamu pergi dari kota ini. Bagaimana? Apa kau setuju?” jari-jari Adolf terulur bermaksud menyentuh pipi gadis yang tampak halus itu.
Lisle memalingkan muka, menghindari tangan yang sudah nyaris mengelus pipinya. “Bukankah kau sendiri yang ingin membunuhku dengan cara paling menyakitkan?” Gadis itu mengingatkan Adolf dengan perkataannya sendiri beberapa waktu yang lalu pada Tony.
“Aku hanya ingin meyakinkannya. Dia laki-laki yang tidak sabaran.” Adolf beralasan. Menurutnya sangat sayang jika harus membunuh gadis secantik ini. Mungkin dia bisa menikmatinya selama beberapa saat sebelum menyingkirkannya.
__ADS_1
Lagi-lagi Adolf mengulurkan tangannya. Kali ini dia sedikit tidak sabaran. Dalam satu sentakan dia meraih belakang kepala Lisle dan menunduk bermaksud menciumnya. Lisle yang tubuhnya terhimpit dan gerakannya terkunci menatap lelaki itu dengan ketakutan. Dengan sisa keberaniannya, sebelum lelaki itu benar-benar menciumnya, Lisle menggigit apa saja yang bisa dicapai olehnya.
Adolf menjerit ngeri saat gigi Lisle menancap kuat di rahangnya. Gadis itu menggigit dengan kekuatan seorang yang panik mempertahankan hidup. Dia belum melepaskannya meski rasa asin menyentuh indra pengecapnya. Lelaki itu mendorong tubuh Lisle sambil berusaha mencekik leher gadis itu. Begitu gigitan terlepas, satu tamparan keras menghantam pipi kiri Lisle. Gadis itu terbanting ke tembok kamar yang bersisian dengan ranjang. Ada seribu kunang-kunang berpendaran di sekelilingnya. Lalu gelap.
Tony yang mendengar keributan di dalam kamar memburu masuk. “Apa yang kau lakukan, tuan Adolf? Kau membuat gadis itu pingsan.”
“Dia cuma pingsan bukan mati.” Adolf menggerutu sambil memegangi rahangnya yang berdarah.
“Bagaimana kau bisa terluka? Apa dia menggigitmu?” Suara Tony terdengar geli.
Adolf memberi Tony tatapan jengkel lalu keluar kamar. Lelaki bertubuh tinggi itu mengikuti Adolf dari belakang.
“Kau sangat tidak sabaran ingin menyentuhnya. Tunggu uangnya dan kau bebas melakukan apa pun pada gadis itu. Kita juga bisa membawanya pergi kalau kau mau kemudian melempar mayatnya ke pinggir jalan jika kau sudah bosan. Tidak akan sulit mengelabui lelaki bernama belakang Kent itu. Kita akan mendapatkan ikan tanpa kehilangan umpannya.” Tony terdengar sangat yakin dengan pemikirannya.
***
Lelaki itu menatap bayangannya di cermin sementara tangannya menarik resleting jaket kulit hitamnya hingga leher, kemudian memasang sebuah topi yang juga berwarna hitam di kepalanya. Dia menarik sebuah laci dan mengeluarkan senjata berperedam suara dari dalamnya, memeriksa isi senjata sebentar lalu menyelipkan benda itu di pinggang. Langkahnya tampak ringan saat melintasi ruang tamu yang besar hingga garasi di luar bangunan. Lelaki itu meraih gagang pintu sebuah mobil hitam yang tampak tidak menyolok lalu masuk ke dalamnya dan mulai menyalakan mesin. Mobil perlahan beranjak keluar dari halaman dan melesat ke jalanan yang ramai.
__ADS_1