
“Tuan?!” Lisle nyaris memekik. Bukankah tuan Kent sedang bepergian? Bagaimana dia....
“Temui aku di kantor. Steve akan mengantarmu,” perintah Kennard dari ujung saluran, kemudian sambungan terputus.
Wajah Lisle langsung pucat. Dia mematung di lorong itu. Kepalanya dipenuhi berbagai kemungkinan buruk. Sepertinya tuan Kent akan marah besar, batinnya cemas.
“Nona, lewat sebelah sini.” Steve tiba-tiba muncul di depan Lisle.
Kenapa orang-orang menjadi seperti hantu yang mendadak muncul di mana-mana? Lagi-lagi Lisle meletakkan tangannya di dada, terkejut dengan kehadiran Steve yang tiba-tiba.
“Steve, kapan tuan kembali?” tanya Lisle putus asa. Dia mengikuti langkah sang asisten memasuki sebuah lift khusus. Lisle pernah diberitahu jika hanya presdir dan beberapa orang tertentu yang memiliki akses menggunakannya.
“Tuan baru tiba dan langsung ke sini untuk mengurus sesuatu,” jawab Steve. Dia sempat melihat wajah Lisle yang panik saat tuannya menelpon. Sebenarnya dia juga tidak mengira kalau gadis ini bekerja di perusahaan tuannya. Nona ini benar-benar seorang yang tidak bisa ditebak. Bagaimana dia bisa berpikir tuannya tidak akan tahu?
“Oh. Lalu bagaimana dia bisa tahu aku bekerja di sini? Bukankah dia sedang pergi? Aku juga tidak bilang padanya....”
Steve hampir tertawa melihat raut bingung Lisle. Gadis ini memang terlihat lucu dan menggemaskan, juga sangat polos. Mungkin karena itu juga tuan menyukainya.
“Saya juga tidak tahu, Nona. Mungkin Nona bisa menanyakannya langsung pada tuan.” Steve menyahut dengan sopan. Dia tak ingin membuat perkiraan yang makin membingungkan nona ini. Bisa saja tuan Kent menyuruh seseorang mengawasinya sejak awal.
Setelahnya Lisle tenggelam dalam pikirannya sendiri, menebak-nebak sampai kepalanya terasa sakit.
Sementara lift telah berhenti dan pintunya terbuka.
“Pintunya di sebelah sana, Nona. Saya hanya mengantar sampai di sini.” Steve menunjuk sebuah pintu besar di bagian ujung.
Gadis itu mengangguk sedikit dan melangkah dengan enggan ke arah yang ditunjukkan Steve. Dia mendengar lift di belakangnya menutup kemudian sepi. Tak ada siapa-siapa lagi. Semua sudah pergi. Orang-orang telah kembali pada rumah mereka yang nyaman.
Sedangkan aku? Aku harus menerima takdirku di sini, keluh Lisle dalam hati.
Lisle mengetuk pelan.
__ADS_1
“Masuk!” Terdengar suara yang sangat dikenalnya.
Lisle mendorong pintu berbahan metal itu. Sebuah ruangan kantor yang luas segera menyambut penglihatannya. Kennard tengah duduk di kursi bersandaran tinggi, menghadapi sebuah meja besar. Pemandangan kota Black Mountain terlihat dari dinding yang terbuat dari kaca di belakangnya. Gadis itu terpesona sejenak. Dia seperti tengah melihat sebuah lukisan pemandangan dan menjadi lupa pada kekuatirannya.
Kennard mengangkat wajahnya dari dokumen yang tengah dipelajarinya. Seorang gadis dalam balutan seragam Diamond Group berdiri menatap melewatinya. Pandangan takjub terlihat jelas dari wajah halus itu.
Alis Kennard mengernyit. Dia sudah siap memarahi gadis itu ketika didengarnya Lisle berada di ruangan humas dan terlihat sedang bersama dengan sang manajer. Di atas semua itu, gadis itu juga diam-diam bekerja di perusahaannya tanpa memberitahu. Dia bahkan sempat berkata bahwa itu hanyalah sebuah perusahaan kecil.
Lisle bekerja sebagai pengantar dokumen? Membayangkan gadis itu hilir mudik antar departemen dan mendapat godaan dari beberapa karyawannya membuat Kennard benar-benar kesal. Dia baru terpikirkan akan hal itu. Membiarkan gadis bodoh ini berkeliaran di dalam gedung Diamond Group hanya akan menimbulkan banyak masalah.
Namun melihat gadis itu mengabaikannya dan malah tampak sangat tertarik dengan pemandangan kota Black Mountain di bawah sana, membuat Kennard tidak sampai hati menghancurkan kesenangan kecil gadis itu.
“Kemarilah.” Kennard menyuruh gadis itu mendekat. Dia menarik punggungnya ke sandaran.
Lisle tersadar dari rasa takjubnya. Dia mengedipkan matanya beberapa kali sebelum benar-benar mengingat kembali situasinya.
“Kemari.” Kennard mengulang perkataannya, tak sabar dengan raut linglung gadis itu.
“Aku....” Lisle maju beberapa langkah hingga mendekati meja. “Aku bisa jelaskan,” ujar Lisle gugup.
Gadis ini manis juga dalam seragam perusahaan, batin Kennard gemas. Tapi saat melihat bagian bawah seragam terusan yang terlalu pendek itu, wajah tampan Kennard menjadi muram. Gadis ini, apakah dia benar-benar tak mengerti sudah menggoda banyak lelaki hanya dengan seragam kerjanya?
Kennard memutari meja dan meraih lengan Lisle, membawanya pada dinding kaca dengan pemandangan kota.
Mata Lisle melebar saat merasakan seperti berada pada ketinggian dan melihat kota yang berada di bawah kakinya. Sungguh pemandangan langka yang tak bisa dilihat oleh sembarang orang.
“Kau suka?” Kennard melingkarkan lengan besarnya di pinggang kecil itu, menopangkan dagunya di puncak kepala Lisle.
Lisle mengangguk. Dia tidak berusaha memprotes perlakuan Kennard. “Indah sekali,” ujar Lisle. Dia lupa bahwa dia datang ke sini untuk dimarahi
“Aku bisa membuatmu melihat ini setiap hari. Jadilah asistenku, kau akan bekerja di ruangan ini. Aku bisa mengatur mejamu di dekat sini.” Kennard berbicara di dekat telinga gadis itu.
__ADS_1
Lisle berpikir sebentar sebelum menggeleng. “Aku sudah punya pekerjaan.”
“Hm, maksudmu menjadi pengantar dokumen dan berlalu lalang antar departemen menggoda para karyawanku?” sindir Kennard.
“Aku tidak menggoda mereka.”
“Ya, kau menggoda mereka.” Kennard bersikeras dengan pendapatnya.
“Aku tidak....”
“Dengan berjalan di depan para lelaki itu saja, kau sudah kuanggap menggoda mereka.” Kennard menunduk, menempelkan sisi wajahnya ke pipi gadis itu. “Kau harus berada di sisiku jika ingin bekerja di sini.”
Lisle terdiam. Wajahnya terasa panas. Dia tahu, Kennard menggodanya lagi. Jadi dia mencoba menahan mulutnya untuk tidak mengatakan apa pun.
“Jadi, apa orang dari perencanaan itu merayumu?” tanya Kennard tiba-tiba.
Lisle menggeleng cepat. “Tidak. Kami hanya bicara sebentar. Dean menanyakan apakah aku sudah punya pacar atau belum. Aku bilang ‘sudah’. Hanya saja dia mulai mencari ‘pacar’ yang kumaksud karena aku mengatakan kalau pacarku sedang dinas keluar.”
‘Hm, bagaimana dengan si manajer?” Kennard ingin tahu.
“Dia hanya mengajakku makan malam.” Lisle berkata jujur.
“Lalu?”
“Tentu saja aku menolaknya. Tapi dia bilang....” Lisle tiba-tiba ingin mengadu pada Kennard. Manajer John sangat keras kepala. Bila mereka bertemu kembali, lelaki itu pasti akan mengejarnya soal makan malam itu lagi.
“Katakan!” Kennard mencium rambut gadis dalam pelukannya.
“Aku bilang, pacarku tidak akan suka kalau aku makan malam berduaan dengan lelaki lain....” Lisle merasa malu mengatakan tentang ‘pacar’ itu pada tuan Kent. Terdengar sangat lancang.
“Jadi, apa katanya?”
__ADS_1
“Katanya, aku boleh mengajak pacarku. Dia tidak keberatan makan bertiga....” Lisle berdebar menunggu reaksi tuan Kent. “Hari ini aku bertemu lagi dengannya dan dia menanyakan apakah pacarku sudah setuju....”
“Katakan padanya, kita menerima ajakan makan malamnya,” ujar Kennard cepat. Dia paham, si manajer meragukan keberadaan ‘pacar’ Lisle.