Kekasih Terpaksa Sang Penguasa

Kekasih Terpaksa Sang Penguasa
Bab 89. Menyelinap


__ADS_3

Sejenak Lisle terdiam. Dia menyadari perubahan sikap Shopia padanya tentulah seperti yang dikatakan Kennard. Mereka mengetahui hubungannya dengan tuan Kent. Meski sebatas praduga tak jelas tapi cukup membuat mereka berpikir dua kali untuk bertindak macam-macam padanya. 


"Lalu apa hubungannya denganku?" ujar Lisle menguji. 


"Itu… emm…. Lisle, bukankah kau berpacaran dengan tuan Kent?" Shopia tergagap menebak. 


"Menurutmu?" Lisle membalikkan pertanyaan Shopia.


Shopia salah tingkah. "Mm, menurutku kalian memiliki semacam hubungan tertentu."


Lalu itu mengubah sikapmu padaku? batin Lisle.


Lisle tersenyum masam. Kennard pernah memperingatkan ini. Orang-orang akan datang padanya dengan isi hati dan mulut yang berbeda begitu mengetahui identitasnya.


"Aku akan menyampaikan ceritamu soal Sally pada tuan Kent. Walau sebenarnya gadis seperti dia tidak bisa dipercaya." Lisle terdiam sejenak. "Baiklah. Aku pergi dulu."


Shopia memandangi kepergian Lisle dengan perasaan campur aduk. Dalam pikirannya, betapa bersahajanya gadis itu. Padahal seandainya Lisle mau, dia bisa memakai yang lebih baik dari yang dikenakannya sekarang. Tapi gadis itu tampak tidak peduli dengan penampilannya. Dan itu telah menipu Shopia. Ayahnya benar, orang tidak bisa dinilai dari penampilannya.


Ponsel Shopia berdering. Anna, sahabatnya, yang memanggil.


"Apa kau akan datang ke pesta malam ini?" Anna bertanya dari ujung sambungan.  


Seorang teman mengadakan pesta ulang tahunnya nanti malam. Sebuah keluarga kelas atas. Kabarnya akan ada banyak tuan muda dari keluarga kaya yang diundang. Anna, Shopia dan temannya yang lain Jill kegirangan saat menerima undangan. Mereka akan memiliki kesempatan berkenalan dengan para tuan muda itu.


"Aku sedang tidak enak badan. Kalian saja yang pergi." Shopia kehilangan semangatnya. Ide bodoh tentang mendapatkan lelaki kaya dari pesta semacam itu. Apa Lisle bertemu dengan tuan Kent dalam sebuah pesta? Tidak. Shopia yakin gadis itu bahkan tidak pernah menginjakkan kakinya dalam acara seperti itu. 

__ADS_1


Terdengar protes Anna di seberang sana. Tapi Shopia sudah mematikan sambungan. Sebentar lagi kelasnya akan dimulai. Shopia bergegas meninggalkan tempat itu. Mungkin ada baiknya jika mulai sekarang dia berhenti melakukan banyak hal konyol.


*** 


Lisle hendak mengadu pada Kennard tentang Celine yang menghilang. Dia menyelinap ke kantor suaminya di lantai teratas gedung dengan lift khusus tanpa memberitahu lelaki itu. Sebelumnya dia telah membeli beberapa kotak makan siang dari restoran yang dilewatinya. Dia bermaksud membuat kejutan.


Ruangan kantor yang luas itu kosong. Lisle meletakkan bungkusan yang dibawanya ke atas meja dan mengeluarkan isinya satu persatu lalu mengambil ponsel dari tas selempangnya.


Terdengar nada tunggu saat dia membuat sebuah panggilan. Beberapa kali. Lisle mulai tak sabar.


Di ruangan rapat yang tenang, ponsel Steve bergetar. Dia sudah menyetel pada mode getar. Tapi bahkan getarannya terdengar jelas hingga menarik perhatian sebagian besar peserta rapat yang terdiri dari direktur dan manajer serta beberapa asisten mereka.


Seorang direktur baru selesai memberikan laporan pekerjaan sebuah proyek. Dia sedang menunggu sang presdir memberikan komentarnya ketika ponsel itu bergetar beberapa kali. 


Kennard melirik Steve dengan dingin. Dia sudah hendak mengatakan sesuatu sehubungan dengan laporan itu dan merasa kesal tiba-tiba. "Kalau kau tidak mematikan ponsel sialan itu, besok kau bisa pergi berlibur."


Ponsel di tangannya masih bergetar. Steve hampir mematikan benda itu ketika melihat nama pemanggil yang tertera di layar. Seketika dia merasa lega. Bukan salahnya. Kalau mau marah, marahlah pada nyonya muda yang sudah membuat rapat terjeda.


Lagipula, kenapa nyonya menelpon ke nomornya? Steve mengeluh di dalam hati. Dia tidak tahu kenapa gadis itu tidak bisa tidak membuat masalah. 


"Dari nyonya, Tuan." Steve menyodorkan ponselnya.


Kennard mengangkat pandangannya dari kertas laporan di meja. Raut wajahnya tetap dingin dan tak tersentuh. Tapi dia menerima juga ponsel yang diulurkan Steve.


Meski pelan, kata 'nyonya' terdengar oleh beberapa orang. Mereka terlihat penasaran. Setahu mereka, panggilan 'nyonya' hanya akan di sematkan pada seorang ibu dari tuannya atau istri. Semua tahu, tuan Kent tidak memiliki keduanya. 

__ADS_1


"Hallo, Steve? Dimana tuan Kent? Apa dia bersamamu?" 


Kennard mendengar suara seorang wanita yang lembut dan manis. Tapi juga lucu. Lelaki itu nyaris tersenyum tapi segera menahan diri begitu melihat tatapan penasaran di sekelilingnya. Dia kembali memasang wajah dingin dan balas menatap pada orang-orang yang penasaran. Semua mendadak menurunkan pandangan. Merasakan ketidaksenangan dari sang presdir


"Tampaknya kau senang mengganggu Steve?" Kennard berujar dengan nada kesal meski tidak sungguh-sungguh. 


"Ken?" Lisle di seberang kaget tapi kemudian terdengar senang. "Aku tidak melihatmu di kantor. Jadi kupikir kau sedang sibuk."


"Kau di kantorku?" Kennard mengerutkan alisnya lalu tiba-tiba bangkit. "Tunggu sebentar," sambungnya. Dia memberi isyarat pada Steve untuk menunda rapat kemudian meninggalkan tempat itu setelah mengembalikan ponsel Steve. 


Nyonya muda datang ke kantor? Steve terdiam sesaat. Dia dapat memastikan tuannya tidak akan bisa fokus bekerja hari ini. Tuan Kent pasti akan sibuk mengurusi istrinya dan Stevelah yang harus bekerja lebih keras.


Begitu memasuki ruangannya, Kennard melihat Lisle yang mengutak-atik komputer di atas meja kerjanya. Lelaki itu menghela napas. Dia kadang merasa kewalahan dengan kelakuan istrinya. Apa yang sedang dilakukannya dengan komputer penuh data perusahaan itu? Apa Lisle ingin mengacak-acak isi di dalamnya?


Kennard berjalan memutari meja dan berdiri di sebelah kursi kerja yang sedang diduduki istrinya. Lisle tidak sekalipun menoleh pada Kennard sejak mulai kedatangannya.


"Apa yang kau lakukan? Kau ingin meledakkan komputerku?" Kennard menunduk di atas kepala istrinya, menjenguk ke arah layar yang menampakkan pergantian tampilan.


"Apa tidak ada game di sini? Aku bosan menunggumu." Kembali Lisle mengetuk-ngetuk tombol mouse, mencari-cari di antara menu.


Tangan Kennard cepat bergerak. Jarinya menekan mouse di genggaman Lisle dan mengarahkan kursor di layar. Layar kembali ke menu awal. Lalu tampak wallpaper dengan logo perusahaan.


"Tidak ada game di sini. Main di rumah saja." Kennard mematikan komputer dan menarik Lisle dari kursi kemudian mendudukkannya di atas meja kerjanya. "Apa yang kau lakukan di sini? Baru berpisah setengah hari, apa sudah rindu?"


"Siapa yang rindu? Aku hanya ingin makan siang denganmu. Tadi aku singgah di sebuah restoran dan membeli makan siang." Lisle membantah dengan wajah memerah. Kenapa Kennard tampak tidak pernah bosan menggodanya?

__ADS_1


"Hm, kurasa aku lebih tertarik untuk memakanmu." Kennard menunduk pada wajah istrinya, menatap dengan pandangan penuh goda.


__ADS_2