Kekasih Terpaksa Sang Penguasa

Kekasih Terpaksa Sang Penguasa
Bab 74. Diikuti


__ADS_3

"Belum satu jam kau meninggalkan rumah tapi sudah membuat masalah. Aku sudah bilang untuk tinggal sampai bulan madu kita." Kennard berbicara dengan nada mengintimidasi di ponsel milik Steve.


Lisle di ujung sambungan mengkerut di bangkunya. Dia menggigit bibir. Seperti pencuri yang tertangkap basah, dia tidak bisa mengelak.


"Bukan salahku. Aku hanya membela diri. Mereka menyebarkan gosip buruk tentangku. Aku tidak terima. Gadis itu bahkan mengatakannya langsung di depan orang-orang. Jadi aku menamparnya dua kali…." Lisle mencoba menjelaskan.


"Dan kau bermaksud menutupinya dari suamimu ini. Kenapa?"


Lisle bisa membayangkan ekspresi suaminya yang tersinggung karena dia lebih memilih memberitahu Steve dibanding Kennard. "Aku… hanya tidak ingin mengganggumu. Bukankah kau sangat sibuk?" Lisle teringat bahwa Kennard sangat sibuk dengan beberapa urusan hingga harus menunda bulan madu mereka.


"Jadi kau lebih suka mengganggu asistenku daripada suami sendiri?"


"Tidak… tidak… bukan begitu." Lisle menggeleng kuat-kuat. 


Celine yang berada di dekatnya jadi tahu dengan siapa gadis itu berbicara kini. Wajah Lisle kadang menjadi merah, kadang juga menjadi pucat bergantian. Dia tidak mengerti bagaimana Lisle bisa takut dengan suaminya yang jelas sangat mencintainya itu.


"Sebenarnya aku tidak keberatan diganggu oleh istri sendiri." Kennard melanjutkan. Lalu ketika tidak didengarnya sahutan dari seberangnya, dia meneruskan. " Jangan khawatir. Semua akan baik-baik saja. Tidak ada yang akan menuntutmu. Belajarlah dengan tenang. Jangan ketiduran di kelas." 


Itu adalah kalimat penghiburan paling santai yang didengar Lisle. Dia mempercayainya. Tapi bagian akhirnya membuat gadis itu melongo sejenak. Kapan dia pernah ketiduran di kelas? Apa karena mereka baru tidur menjelang pagi jadi Kennard pikir dia masih mengantuk?


"Aku pergi dulu." Lisle memutus sambungan tanpa menunggu jawaban Kennard. Dia tidak ingin mendengar godaan suaminya lagi.


Sepanjang waktu kuliah hari itu, Lisle tidak bisa fokus. Walau Kennard menjamin bahwa semua akan baik-baik saja, tapi dia tidak bisa mengabaikan tatapan menghakimi di sekitarnya. Orang-orang berbisik-bisik di belakangnya membuatnya tidak tenang.


Semula dia bermaksud mengajak Celine pergi ke mall sekedar berjalan-jalan atau mungkin membeli sesuatu. Namun kejadian pagi itu membuatnya kehilangan semangat. Dia langsung menyuruh William mengarahkan mobilnya langsung ke Palm Garden.

__ADS_1


 Dalam perjalanan itulah dia melihat William beberapa kali melihat pada kaca spion, memperhatikan sesuatu.


 "Ada apa?" Lisle melihat ke bagian belakang jalan tetapi tak ada yang membuatnya merasa aneh.


Lalu lintas siang hari terlihat tenang. Tidak padat. Tapi juga tidak lengang. Beberapa pengendara menjalankan mobil tanpa terburu-buru di bawah matahari yang menyengat. Seakan tidak terpengaruh oleh panasnya. Mungkin karena di dalam mobil mereka telah terpasang alat pendingin ruangan.


"Bukan apa-apa, Nyonya. Aku hanya berpikir, mobil berwarna hitam terlihat berada di belakang kita sejak dari kampus.


"Maksudmu kita diikuti?" Lisle terlihat cemas. Apa maksud orang-orang yang mengikuti mobil lainnya jika bukan berniat jahat.


"Nyonya tidak perlu khawatir. Saya akan mengambil jalan memutar dulu untuk memastikan kalau mereka memang mengikuti kita." William memutar stir saat mobil tiba di persimpangan. Dia mengambil jalan yang berbeda dari biasanya. 


Nyatanya mobil itu memang mengikuti mereka. Terlihat tenang ikut membelokkan arah.


William tersenyum sekilas lalu membuat sambungan dengan sebuah nomor. "Tuan Steve, mobil kami diikuti. Apa tidak masalah jika saya teruskan saja sampai rumah?'


"Teruskan saja. Mereka bukan masalah. Hans sudah mengidentifikasi kalau mereka hanya detektif amatir yang disewa seseorang." Steve memberitahu intruksi dari tuannya.


"Baik, Tuan." William menutup sambungan dan meneruskan menyetir.


Sebenarnya William tidak khawatir sama sekali soal keselamatan mereka. Dia tahu tuan Kent menempatkan beberapa orang terlatih untuk melindungi istrinya. Saat ini pun mereka pasti sedang mengawasi mobil yang dikendarai William. Hanya saja identitas nyonya Kent saat ini belum dipublikasikan. Dia tidak ingin disalahkan jika seseorang mencoba mencari tahu kebenaran yang masih dirahasiakan ini.


"Siapa mereka?" tanya Lisle penasaran. Dia tahu William menghubungi suaminya.


"Hanya para detektif amatir. Bukan apa-apa. Mungkin seseorang penasaran dengan identitas Nyonya." William tersenyum antara geli dan meremehkan. Jika tuan membiarkan saja orang-orang itu mengikuti mereka, itu berarti tuannya ingin memberi peringatan. Biarkan mereka menduga-duga kemudian ketakutan sendiri.

__ADS_1


"Kenapa mereka ingin tahu tentang aku?" Lisle terlihat kebingungan. Sejenak dia memikirkannya dan teringat pertengkaran dengan Shopia di kampus. "Apa mungkin nona manja itu?"


"Belum bisa dipastikan, Nyonya. Tapi tuan bilang mereka tidak berbahaya." William memberitahu.


Lisle menghela napas lega. Dia merasa orang-orang di sekitar suaminya begitu kompeten. Mereka bergerak dengan sangat cepat hingga bisa dengan segera dapat memastikan identitas para penguntit. Dia kini merasa cukup tenang. 


*** 


"Kau bilang kau menjualnya malam itu. Tapi kau tidak bilang kalau seseorang menyelamatkannya. Dan payahnya lagi kau menutupi kalau orang yang menyelamatkannya adalah tuan Kent." Shopia berbicara dengan nada rendah namun tajam pada gadis yang terhalang kaca pembatas di depannya. Mereka berbicara lewat sebuah telepon di masing-masing sisi.


Tempat itu adalah penjara kelas satu kota. Gadis yang sedang diajak Shopia bicara adalah Sally, mahasiswi yang terlibat perdagangan para gadis beberapa bulan yang lalu. Shopia mendatanginya karena tertarik mencari informasi tentang Lisle. Siapa mengira Sally menutupi bagian terpentingnya. 


"Kukira tuan Kent hanya akan menyukai gadis itu beberapa saat. Kau tahu, kan. Gadis-gadis yang terlibat dengan tuan Kent tidak pernah bertahan lama. Apa mereka masih berhubungan?" Sally terlihat tidak percaya dengan kenyataan itu.


"Kalau kau menceritakan bagian itu, aku pasti akan lebih berhati-hati. Kupikir dia benar-benar menjual dirinya. Untung ayahku cukup hati-hati. Kau tahu, sekarang ini gadis itu bahkan tinggal di Palm Garden." Shopia bicara dengan geram. Kenyataan itu masih membuatnya sakit hati.


Dia mendatangi Sally hari ini karena curiga bahwa gadis itu mengada-ada tentang Lisle. Shopia tak menemukan kebohongan. Justru kebenaran barulah yang mengejutkannya. Hubungan Lisle dan pemilik Diamond Group ternyata sudah cukup lama. Sebelum dia mulai mencemburui gadis itu yang dia kira memiliki semacam perasaan dengan Ralph.


"Sialan sekali!" maki Shopia entah pada siapa. Dia terlihat konyol saat itu. Siapa yang peduli pada Ralph jika sudah menggenggam sang penguasa. Ralph tampak seperti lelucon bila dibandingkan dengan tuan Kent. Lelaki itu memang berasal dari lima keluarga teratas di Black Mountain. Tetapi tuan muda kedua itu bahkan tidak memiliki apa-apa di tangannya selain nama keluarga.


Entah kenapa, kecemburuan Shopia kini berpindah pada keberhasilan gadis itu memikat hati tuan Kent. Dia kesal. Dia marah. Dan iri. Lisle bukan siapa-siapa. Tetapi Lisle mendapatkan lebih baik dari seorang nona muda seperti dirinya.


Shopia merasa dikalahkan.  


Tiba-tiba Sally tertawa seakan penjelasan Shopia barusan adalah sesuatu yang lucu dan sepele. Kemudian tawa itu mendadak berhenti setelah beberapa saat berganti wajah seriusnya.

__ADS_1


Shopia mengerutkan alisnya. Dia merasa aneh dengan reaksi gadis itu. "Ada apa?" ujarnya. "Apa ada yang lucu?"


__ADS_2