Kekasih Terpaksa Sang Penguasa

Kekasih Terpaksa Sang Penguasa
Bab 42. Lisle, Apa Kau Tidur Dengan Tuan Kent?


__ADS_3

Thomas membawakan semangkuk bubur hangat dengan daging dan sayuran. Mata Lisle melebar melihatnya. Dia melirik pada Kennard yang tengah duduk di sofa dengan notebook terbuka di depannya. Apa yang dilakukan laki-laki itu larut malam begini? Apa tuan Kent ini sudah tidak marah lagi padanya?


"Makanlah segera lalu tidur. Ini sudah sangat larut." Kennard bicara tanpa mengangkat wajahnya dari layar di depannya. Dia tengah mengamati beberapa grafik dengan angka-angka. Beberapa kali dia melakukan panggilan telepon dan berbicara di sana.


Lisle mengucapkan terima kasih dan mulai makan di meja kecil yang diletakkan di dekat tempat tidur. Thomas pamit keluar untuk beristirahat di kamarnya. Gadis itu menelan makanannya sambil kepalanya dipenuhi pikiran tentang banyak hal. Apa setelah ini keluarga Caldwell akan baik-baik saja? Apa tuan Kent akan mengampuni Ralph? Apa sekarang dirinya akan terperangkap di sini selamanya dengan status tak jelas seperti seorang gelandangan yang menumpang makan dan tidur?


Sekali waktu Kennard mengangkat wajahnya dari layar dan menemukan kening halus itu berkerut-kerut seperti tengah berpikir keras. Bibir mungil itu ditekuk.


"Berhenti berpikir dengan otak kecilmu itu. Segera habiskan makananmu. Aku tidak bisa berkonsentrasi melihat muka cemberutmu itu." Kennard merasa tak sabar dengan kelambanan Lisle.


"Tuan, bagaimana dengan keluarga Caldwell?" Lisle bertanya ragu-ragu.


Kennard menghela napas kesal. "Mereka akan baik-baik saja. Pikirkan dirimu sendiri.


"Benarkah? Apakah semua akan kembali seperti semula?" Lisle memandang Kennard dengan mata berbinar penuh harap.


"Hm, kita lihat saja besok. Kau pikir mudah mengembalikan semuanya seperti semula. Lagipula biar saja mereka merasakannya beberapa saat."


"Tuan, jangan begitu....”


"Aku tidak mau berdebat lagi," ujar Kennard.


Akhirnya Lisle tidak mengatakan apa-apa  lagi. Dia pun buru-buru menyendok makanannya dengan suapan yang lebih besar.


Malam itu berlalu lebih cepat. Rasanya hanya beberapa menit Lisle tertidur, hari sudah menjadi pagi. Dia terbangun dengan perasaan linglung, sejenak berupaya mengumpulkan seluruh kesadarannya. Saat teringat bahwa dia sudah kembali tinggal di Palm Garden, Lisle mendapati semacam perasaan yang tak terjelaskan. Dia melirik ke sebelahnya,  Kennard tidak ada di tempat tidur.


Dengan setengah hati, Lisle bangkit dari tempat tidur. Dia bergegas ke kamar mandi karena teringat harus segera ke kampus. Begitu membuka kamar mandi dia terpekik.


"Kyaaa.... Kau... kau... kenapa kamar mandinya tidak dikunci?" Lisle langsung memalingkan wajahnya. Di dalam bathub, Kennard tampak berendam dengan setengah badan di permukaan air.


"Kenapa aku harus mengunci pintu kamar mandi di kamarku sendiri?" Kennard bangkit dan melangkah keluar dari bathub. Lisle bisa mendengar suara gerakan air dan langkah kaki tanpa alas. Dia memejamkan mata. Setelahnya terdengar suara air dari pancuran.

__ADS_1


"Kau mau berdiri di situ saja atau bergabung denganku?" Kennard menawarkan.


"Tidak. Terima kasih. Aku... aku tunggu di luar saja." Lisle merasa bodoh tidak segera keluar tadi. Dengan muka merah dia keluar dan menutup pintu. "Jangan lama-lama." Dia mengingatkan.


Alis Kennard berkerut. Gadis itu makin lama makin berani saja, pikirnya.


Setelah mandi dan berpakaian, Lisle turun ke ruang makan. Kennard sudah berada di sana menunggunya sambil tangannya bermain dia atas layar ponsel. Begitu Lisle duduk, dia menggeser dua buah benda ke hadapan lisle; ponsel dan sebuah dompet wanita.


"Jangan pernah mengembalikan barang yang sudah kuberikan. Kau boleh membuangnya kalau tidak suka," ujar Kennard.


Lisle hendak mengatakan sesuatu saat Kennard memberi isyarat dengan tangannya.


"Jangan membantahku."


Lisle mengambil benda itu tanpa memeriksanya langsung memasukkannya ke dalam tas.


"Hindari lelaki bernama Ralph itu...." Kennard menambahkan.


***


"Lisle!"  Suara Celine memanggil Lisle yang sedang berjalan melewati gerbang belakang. Gadis itu sengaja menunggu Lisle di sana. Dia penasaran dengan yang terjadi di Palm Garden kemaren. Ini sangat luar biasa, Lisle, sahabatnya bisa keluar masuk bangunan 'keramat' itu!


Lisle berhenti melangkah, menunggu Celine mendekat. Wajah Celine tampak sedikit berkeringat.


"Bagaimana? Apa semuanya beres?" tanya Celine tak sabar.


Lisle menghela napas tak berdaya. "Aku tidak tahu. Aku sudah memohon. Tapi kata tuan Kent, kita lihat saja besok, yang berarti hari ini. Dan aku belum melihat apa-apa...."


Keduanya melangkah perlahan beriringan menyusuri jalan lengang taman belakang kampus. Lisle  menunduk mengamati ujung gaun abu-abu dan sepatu yang dipakainya. Semuanya masih baru. Lisle baru melepas labelnya tadi pagi. Tiba-tiba teringat olehnya dompet pemberian Kennard. Dia buru-buru membuka tas dan meraih dompet kulit dengan logo huruf sebuah merk ternama. Dibukanya dompet itu dan melihat kartu emas itu terselip di dalamnya. Pada salah satu bagian dompet, Lisle menemukan banyak lembaran uang dengan nominal besar.


Gadis itu termangu sejenak, ternyata sulit menghindar dari pemberian lelaki itu.

__ADS_1


"Hm, dompet yang bagus!" Celine berkomentar waktu Lisle mengeluarkan dompetnya.


Lisle hanya tersenyum kecut. Dia mengabaikan komentar itu dan menyimpan benda di tangannya dengan hati-hati.


"Apa kau sudah melihat Ralph hari ini?" tanya Lisle. Dia ingin memastikan Ralph tidak apa-apa.


"Belum. Tadi begitu sampai aku langsung menunggumu di sana." Celine mengarahkan telunjuknya sembarangan ke gerbang belakang.


"Semoga saja yang dikatakan tuan kent benar, bahwa keluarga itu akan baik- baik saja...." Lisle bergumam lemah.


Mereka kembali sama-sama terdiam.


"Lisle, apa kau tidur dengan tuan Kent?" tanya Celine tiba-tiba membuat Lisle nyaris tersedak.


“Tidak. Tentu saja tidak. Aku... aku memang tidur dalam satu kamar dengannya tapi kami tidak melakukan apa-apa. Maksudku seperti yang kamu katakan itu.” Lisle menggeleng sekaligus menggerak-gerakkan kedua tangannya di depan Celine sebagai isyarat bahwa dia tidak seperti yang Celine kira.


Mata Celine melebar. Baginya hebat seorang Lisle bisa naik ke ranjang tuan Kent. “Itu luar biasa. Kau tahu berapa banyak gadis yang menginginkan naik ke ranjang tuan Kent? Meski pun kedengarannya aneh kalau kalian tidak melakukan apa-apa....”


“Kau gila! Apanya yang luar biasa? Dia membuatku takut.” Lisle menggerutu. Dia juga kadang merasa aneh kenapa tuan Kent tidak memaksa untuk menyentuhnya hingga hari ini.


Tapi dia menciumku beberapa kali! Lisle kembali menggeleng untuk mengusir setiap ingatan tentang ciuman itu. Rasanya darahnya menjadi lebih cepat mengalir dan mukanya terasa panas. Dia menggigit bibirnya. Sudah tak terhitung rasanya bekas sesapan itu.


“Tapi dipikir bagaimana pun rasanya tidak mungkin kalau kalian tidak melakukan apa-apa. Setidaknya kalian pernah berciuman bukan? Aku tidak akan percaya kalau kau mengatakan tidak....”


“Celine!” Lisle memotong cepat kalimat gadis itu. Celine membuat Lisle malu dengan kata-katanya. Setidaknya gadis itu bisa menyimpan dugaan-dugaan konyolnya itu dalam hati, tidak perlu terlalu menjadi terus terang seperti ini.


Saat itu Celine di sebelahnya menghentikan langkah. Dengan setengah berbisik, dia berkata pada Lisle, “Di depan ada Ralph. Dia sedang menuju ke mari.”


Lisle mengikuti arah pandang Celine. Ralph memang terlihat berjalan menuju ke arah mereka.


“Celine, aku pergi dulu ya. Kau... di sini saja. Tuan Kent menyuruhku menghindari Ralph. Aku tak ingin ada masalah lagi.” Lisle buru-buru membelokkan langkah ke arah lain sebelum Celine sempat memberikan persetujuannya.

__ADS_1


 


__ADS_2