
Lisle memijit-mijit keningnya. Kepalanya terasa sakit. Tidak itu saja, kakinya juga terasa nyeri. William, sang sopir beberapa kali melirik pada kaca spion. Dia terlihat sedikit kuatir. Tadi saat dia menjemput, gadis itu terlihat lelah dan sedikit pucat. Lelaki itu jadi berpikir kalau tuannya tidak akan suka jika melihat ini.
Lagipula, kenapa nona ini bersusah payah bekerja? Bukankah tuan tidak kekurangan uang? William terus berpikir sepanjang perjalanan itu.
Begitu tiba di Palm Garden, Lisle merasa tak sabar untuk berbaring di ranjang yang nyaman itu. Dia hanya melepas sepatunya dan menghambur pada kasur dan bantal. Rasanya sangat lega bisa meluruskan badan setelah beberapa jam terus berjalan dari lantai ke lantai. Tanpa disadarinya, Lisle terlelap.
Thomas membangunkannya saat tiba makan malam. Dia sedikit kuatir karena harus mengetuk pintu beberapa kali tapi tak mendengar sahutan gadis itu. Apa dia pingsan lagi? William mengatakan kalau nona itu terlihat sangat lelah.
Dengan cemas, Thomas menghubungi tuannya.
Sementara, Lisle bermimpi tentang sesuatu ketika ponselnya berbunyi. Dia meraih tas yang tergeletak di sebelah bantalnya dan mencari di dalamnya. Nama pemanggil membuat kantuk yang masih memberati matanya langsung hilang.
“Hallo....”
“Apa yang kau lakukan?” Suara dingin Kennard langsung menyerbu pendengaran Lisle.
“Aku... sepertinya aku tertidur tadi.” Pikiran Lisle belum sepenuhnya jernih.
“Sekarang waktunya makan malam. Thomas terus mengetuk pintu dari tadi. Dia pikir kau pingsan.”
“Oh....” Lisle mendengar ketukan di pintu dan suara kepala pelyan yang memanggilnya. “Aku tidak mendengarnya....”
Kenapa menelpon? Kau masih di kantor? Apa kau tidak makan malam di rumah? Lisle ingin bertanya tapi merasa tak pantas.
“Cepat turun.” Kennard memerintah dengan suara yang membuat Lisle takut.
“I... iya. Aku mandi dulu....” Lisle merasa konyol mengatakan itu. Apa tuan Kent peduli dia sudah mandi apa belum.
__ADS_1
“Apa pekerjaannya begitu melelahkan sampai membuatmu tertidur tanpa sempat membersihkan diri dulu?” Suara Kennard terdengar menyelidik.
“Tidak juga. Aku cuma mengantuk....” Lisle menjelaskan.
“Hm, kalau begitu cepat mandi dan makan. Setelah itu kembali tidur. Aku tidak mau mendengar kau sakit selama aku pergi,” ujar Kennard dengan suara rendah.
Eh, pergi? Lisle terkejut. Kemana?
“Kau... pergi? Kemana?” Akhirnya Lisle tidak tahan untuk tidak bertanya.
“Ada sedikit urusan di luar. Hanya beberapa hari. Jangan lupa yang kukatakan. Kalau memang pekerjaan itu membuatmu kelelahan, lebih baik berhenti saja.” Kennard menutup sambungan.
Lisle terdiam masih dengan ponsel yang menempel di telinga. Dia harusnya senang karena tak akan melihat laki-laki itu selama beberapa hari, tapi entah kenapa kepergiannya terasa mengganggu.
“Nona, makan malam anda sudah siap. Apa Nona akan turun sekarang?” Terdengar suara Thomas dari balik pintu kamar. Dia mendengar suara gadis itu yang berbicara dengan tuannya di telpon.
Lisle berguling-guling di kasur hingga bagian yang sering ditempati Kennard. Rasanya cukup menyenangkan, pikir Lisle mengabaikan bagian hatinya yang terasa tidak nyaman.
Namun perasaan tidak nyaman yang hanya sedikit itu semakin mengganggu Lisle seusai makan malam. Dan makin menjadi hingga hari berikutnya. Dia masih berangkat kuliah dan bekerja dan mulai terbiasa dengan suasana kantor Diamond Group. Dia masih bisa menahan rayuan beberapa rekan kerja pria dan sedikit kecemburuan dari rekan kerja wanita. Namun pulang ke Palm Garden yang hanya berisi para pelayan itu membuat hati Lisle terasa kosong.
“Thomas, karena tuan tidak ada, apa aku boleh menginap di apartemenku dulu?” Lisle terlihat lesu saat sarapan. Ini hari kedua sejak Kennard pergi, Lisle tidak suka mengakui kalau dia merasa kehilangan.
“Nona, sebaiknya bertanya dulu pada tuan. Takutnya tuan akan marah besar lagi seperti dulu....” Thomas merasa sedih melihat makanan yang telah disiapkan sejak dini hari hanya dipandangi gadis itu tanpa disentuh. Dia ingin melaporkan pada tuannya tapi takut malah menjadi bumerang baginya karena dianggap tidak becus melayani nona ini.
“Aku takut....” Lisle menelungkupkan wajahnya di meja makan setelah menggeser piring sarapan dari hadapannya membuat Thomas dan seorang pelayan lainnya saling berpandangan.
“Nona hanya bertanya, kenapa harus takut?” Lagipula tuan menyukai nona, batin Thomas gemas.
__ADS_1
“Aku tidak tahu. Aku tidak pernah menelponnya. Siapa tahu itu akan mengganggunya. Bukankah dia sangat sibuk?” Lisle mengeluh.
Rasanya Thomas ingin berteriak pada gadis di depannya, seandainya kau masuk ke ruang rapat pemegang saham sekali pun, tuan Kent sepertinya tidak akan marah. Kenapa kau kuatir akan mengganggunya dengan sebuah panggilan telepon?
Namun Thomas hanya menghela napas mencoba menyabarkan hati. Nona yang satu ini memang kerap membuat orang kesal tanpa dia sadari. Bahkan tuan saja sering terlihat menahan emosi saat menghadapi gadis ini tapi tak bisa melampiaskan amarahnya seperti pada orang lain.
“Kenapa tidak Nona coba saja?” Thomas menyarankan dengan sopan.
“Entahlah. Mungkin nanti saja....” Lisle mengangkat wajahnya dari meja, menarik kembali piring sarapan ke depannya dan mulai menyendok dengan enggan.
***
Hari ini adalah hari ketiga Lisle bekerja. Dia menjadi tidak terlalu bersemangat. Langkahnya pelan saja, tidak tergesa seperti biasa saat mengantar beberapa dokumen ke departemen tujuan. Gadis itu terlihat seperti melamun saat berjalan. Waktu dia masuk ke sebuah lift dia tidak memperhatikan seseorang yang sudah berada di dalamnya.
“Lisle?” Suara seorang lelaki menegurnya.
Lisle menoleh pada orang di sampingnya. Perutnya menjadi mual. Dean tampak memamerkan senyumnya yang menurut Lisle sama sekali tidak menarik. Dia tidak tahu bagaimana ada gadis yang mau saja diajak berkencan dengan lelaki ini. Tanpa peringatan dari beberapa rekan kerjanya pun dia akan berusaha berada sejauh mungkin dari Dean.
Sayangnya Lisle tidak tahu kalau tadi Dean juga berada dalam lift yang sama. Dan mereka hanya berdua dalam benda persegi ini.
Lisle hanya mengangguk sedikit menanggapi teguran Dean lantas kembali menatap pada pintu lift. Dia berharap lift ini bergerak dengan kecepatan cahaya dan tiba di departemen yang ditujunya dalam sekejap.
“Hei, aku tidak melihat kau pulang dengan seseorang dua hari ini. Apa pacarmu tidak menjemputmu?” Dean memulai pembicaraan dengan rasa penasaran yang meluap. Kemaren sore dia mematai gadis itu saat pulang. Lisle terlihat berjalan kaki keluar dari halaman kantor Diamond Group dan berbelok ke sebelah kanan jalan. Di sana Lisle masih terlihat berbelok lagi ke sisi bangunan Jill & Jo. Dean tahu di situ ada sebuah jalan kecil yang menghubungkan ke jalan besar di belakang sana.
Dean tidak tahu, Lisle hanya berdiri di sisi bangunan itu untuk menunggu William menjemputnya. Andaikan Dean mau mengawasi sebentar lagi, dia akan melihat sebuah mobil yang jauh lebih mewah dari miliknya berhenti dan gadis yang diawasinya naik ke dalam mobil tersebut.
__ADS_1