Kekasih Terpaksa Sang Penguasa

Kekasih Terpaksa Sang Penguasa
Bab 87. Hari Terakhir


__ADS_3

Lisle pikir di hari terakhir mereka di pulau dia bisa bersantai. Tapi bahkan hari masih belum terang ketika Kennard membangunkannya. Lelaki itu telah rapi dengan setelan latihnya.


Meski tak membantah, Lisle menarik lagi selimut yang tadi disibakkan suaminya. Dia berbalik mengatur posisi paling nyaman. Matanya masih terasa sangat berat. Tadi dia hanya membuka mata sebentar, berkedip sekali karena pemandangan yang menurutnya sangat menawan di depannya kemudian kembali memejamkan mata.


Kembali mimpi menariknya. Lisle merasa melihat Celine berdiri di tepi jurang. Tapi itu seperti pemandangan yang samar. Tampak nyata tapi juga seperti halusinasi. Lisle masih mendengar Kennard memanggilnya.


"Nyonya Kent, apa kau tak ingin melihat matahari terbit di dekat karang?" 


Perlu puluhan detik bagi otak Lisle untuk kembali bekerja. Sementara setengah dari isi kepalanya masih mengulang adegan Celine yang terjatuh, suara Kennard membuatnya memikirkan hal lain yang lebih nyata. Gadis itu membuka matanya dan mengerjap-ngerjap sebentar.


"Kau bilang matahari terbit?" Lisle mendadak bangkit dari berbaringnya.


Kennard mengangguk. "Cepatlah ganti pakaianmu. Jangan sampai mataharinya sudah naik baru kita sampai di sana."


Lisle terburu-buru menuju kamar mandi dan kembali secepat kilat. Hanya perlu beberapa menit untuk mengganti pakaiannya. Setelahnya dia sudah tiba di depan Kennard yang menunggunya di luar rumah. Wajahnya tampak polos tanpa riasan. Rambutnya juga hanya dikepang satu ke belakang.


Kennard tak bisa tidak tersenyum dengan penampilan istrinya. Sejak sebelum menjadi istrinya hingga sekarang, Lisle tidak berubah. Selalu sederhana dan tidak berusaha terlihat lebih baik. Justru kesederhanaan dan kepolosan itulah yang disukai Kennard. Lisle cantik alami. Tanpa riasan pun dia sudah sanggup menarik perhatian siapa pun.


"Ayo!" desak Lisle yang melihat Kennard tidak juga bergerak dari tempatnya berdiri.


Tanpa menyahut, Kennard membalikkan badan dan mulai berlari pelan agar bisa diikuti istrinya.


"Hei! Aku pikir kita akan naik sesuatu. Apa di sini tidak ada motor atau sepeda?" Lisle mengikuti suaminya dengan tergesa. Sementara Kennard terlihat berlari santai dengan langkah lebarnya, Lisle harus berusaha keras agar mereka bisa.sejajar. 


"Berlari lebih sehat. Apa kau tidak bosan naik kendaraan setiap hendak bepergian? Setelah kita pulang nanti, kita tak akan punya kesempatan bagus seperti ini lagi." Kennard tidak mengurangi kecepatannya meski Lisle terlihat bersusah payah mengikutinya.

__ADS_1


Udara dipenuhi embun. Dingin. Ada kabut tipis yang tertembus cahaya lampu waktu mereka melewati gedung pelatihan. Belum ada satu orang pun terlihat di sekitar mereka.  


Lisle menatap lurus pada jalan di depan yang tidak memiliki penerangan.


"Kita akan kemana?" tanya Lisle penasaran. Seingat dia, pantai terlalu jauh dari sana. Saat datang ke sini, mereka perlu setengah jam dengan mobil untuk sampai. Jika berlari seperti sekarang, entah berapa lama waktu yang diperlukan. Dua jam? Tiga jam?


"Pantai." Kennard menyahut pendek sambil terus berlari.


"Tapi itu sangat jauh. Apa tidak keburu mataharinya terbit?" Lisle bermaksud mengingatkan meski dia tahu tidak mungkin Kennard lupa itu.


"Darimana kau tahu kalau pantainya jauh?" Kennard balik bertanya. "Jangan bicara lagi. Aku tahu apa yang kulakukan. Terus lari dan Ikuti saja!"


Akhirnya Lisle tidak mengatakan apapun lagi. Yah, kau bosnya. Tentu saja kau tahu apa yang kau lakukan. Dia hanya menggerutu di dalam hati.


Setelah setengah jam berlari, mereka tiba di tepi laut di bagian penuh batu karang. Ternyata mereka melewati jalan yang berbeda dari saat mereka tiba.


"Mataharinya sudah hampir terbit!" seru Lisle.  


"Kemarilah." Kennard meraih tangan istrinya dan menuntunnya mendaki sebuah batu karang besar. Dari sana pemandangan sekitar terlihat lebih jelas.


Keduanya duduk menghadap ke arah laut. Permukaannya yang berombak memecah pantulan langit yang mulai terang. Perlahan semburat kekuningan mengintip dari sisi langit sebelah timur.


Kennard memeluk Lisle yang duduk di sebelahnya. Bukan terbitnya matahari pagi yang dilihatnya. Wajah senang Lisle lebih menarik perhatiannya.


"Kau senang?" tanya Kennard pada istrinya yang sedari tadi tak berhenti bicara sambil menunjuk-nunjuk ke beberapa arah. Padahal tak ada yang luar biasa dari pemandangan laut pagi ini. Mereka pernah berlayar beberapa hari ke Sun Imperial. Suasananya jauh lebih menakjubkan. Sayang, saat itu gadis ini terlihat sangat tertekan di sisinya.

__ADS_1


Terlihat anggukan keras Lisle. Bibirnya tak henti mengulas senyum. Dia bahkan tidak sadar sedang diperhatikan.


"Bukankah kita pernah melihat yang lebih baik dari ini saat di Sun Imperial?" Kennard mengingatkan.


Lisle terdiam. Dia berpaling pada lelaki di sampingnya. Pandangan mata dan senyum menggoda lelaki ini membuatnya tersipu.


"Benarkah? Aku tidak ingat." Lisle kembali menatap lurus ke depan.


Sebenarnyalah dia tidak lupa setiap menit dari kebersamaan mereka di saat yang mana pun. Dia hanya malu mengakui bahwa pesona lelaki ini telah membuatnya mengabaikan sekitarnya. Dan saat itu waktunya sangat tidak tepat. Dia sedang meratapi nasibnya, bagaimana dia bisa menikmati liburan itu?


"Saat itu kau selalu ketakutan setiap disentuh. Apa aku terlihat menakutkan?" Kennard ingat bagaimana Lisle selalu berusaha menghindarinya.


"Tentu saja aku takut. Kita baru saja bertemu, tapi kau terus mengatakan kalau kita berpacaran."  


"Karena kau terlihat lucu. Banyak wanita yang berusaha mendekatiku, kau malah seperti kelinci yang ketakutan setiap bertemu. Aku sampai bertanya-tanya sendiri apa lagi yang kurang dariku?" Kennard mengakui jika dulu Lisle sempat membuatnya tidak percaya diri.


"Kau mau tahu kekuranganmu, Tuan Kent?" Lisle melempar sebuah kerikil yang ditemukannya ke permukaan laut di bawah sana. "Kau sangat sombong. Dan aku tidak suka lelaki sombong."


"Aku pantas sombong, bukan? Aku memiliki semuanya…." 


"Kau mulai lagi." Lisle mencibir ke arah suaminya. "Apa kau pikir saat kau mati, semua uangmu akan berguna?"


"Hei, apa istriku sedang mendoakan kematianku?" Kennard menarik Lisle lebih dekat padanya.  


"Tentu saja tidak. Aku berharap, aku yang pergi lebih dulu agar aku tidak perlu menangis saat kau yang duluan pergi. Aku tidak bisa membayangkannya." Lisle menatap ke dalam mata segelap malam di depannya. Ya, dia tidak tahu akan seberapa dalam kesedihannya saat perpisahan itu tiba. Sedangkan kematian adalah kepastian yang tidak bisa dibantah oleh siapapun. Bahkan oleh orang paling berkuasa di Black Mountain ini.

__ADS_1


Kennard membelai pipi halus istrinya. "Kalau kau yang pergi lebih dulu, aku akan bunuh diri," ujarnya. 


Lisle tertawa. "Tidak! Kalau aku yang harus pergi lebih dulu. Kau tidak boleh mengikutiku. Kau harus tetap hidup. Apa kau pikir kita akan terus seperti ini, hanya berdua? Apa kau tidak pernah berpikir ingin memiliki anak?" Pipi Lisle memerah saat mengatakan itu. Dia tidak pernah memikirkan tentang memiliki anak. Tapi sebentar tadi hal itu melintas tiba-tiba.


__ADS_2