Kekasih Terpaksa Sang Penguasa

Kekasih Terpaksa Sang Penguasa
Bab 44. Makan Malam Untuk Tuan Kent


__ADS_3

Gadis resepsionis itu kebingungan sejenak dengan pertanyaan Lisle, lalu kemudian berdehem berusaha untuk tidak tertawa. Baginya pertanyaan itu sangat lucu. Tuan presdir sudah memiliki asisten sendiri. Mana mungkin perusahaan mengeluarkan pengumuman lowongan kerja sebagai asisten? Gadis di depannya ini pasti sedang mengigau, pikirnya.


“Maaf, Nona. Kami tidak memiliki lowongan pekerjaan seperti yang Nona maksud. Tapi kalau Nona mau, kami sedang mencari pekerja part time sebagai pengantar dokumen.” Gadis resepsionis itu memberitahu dengan sopan.


Meski merasa malu dengan penjelasan itu, tak urung Lisle merasa senang. Pengantar dokumen? Apakah dia akan berkeliling dari satu lantai ke lantai lain untuk mengantarkan beberapa dokumen? Itu pekerjaan yang mudah sepertinya.


“Benarkah? Kalau begitu, aku mau melamar untuk pekerjaan itu.” Lisle menatap gadis resepsionis itu dengan pandangan penuh harap. “Apa saja persyaratannya?”


“Tidak ada persyaratan khusus. Nona hanya perlu membuat lamaran biasa sebagai formalitas dan memasukkannya ke bagian HRD kami. Tapi saya dengar karena ini sangat mendesak, mungkin nona bisa datang ke kantor HRD lebih dulu sekarang....” Gadis itu teringat jika pekerjaan itu telah kosong dalam beberapa hari ini karena orang yang bertugas di bagian itu tiba-tiba mengundurkan diri. Ada banyak dokumen yang terlantar menunggu untuk dikirimkan.


“Baik. Dimana aku bisa menemukan bagian HRD-nya?” Lisle menjadi tidak sabar.


Gadis dengan seragam Diamond Grup itu memberitahu letak kantor yang dimaksud pada Lisle.


Setelah mengucapkan terimakasih, Lisle menuju sebuah lift di ujung ruangan, menekan sebuah tombol dan menunggu lift itu bergerak naik.


Manajer HRD-nya seorang wanita dengan tampang serius tapi cukup ramah. Dia memberitahu Lisle bahwa gadis itu sudah bisa bekerja besok harinya sambil membawa berkas lamaran. Bahkan hari itu pun sebenarnya dia sudah bisa mulai bekerja, tapi karena jam masuk kerjanya sudah lama terlewat, manajer itu menyuruh Lisle untuk datang besok saja.


Lisle akhirnya pulang ke Palm Garden dengan perasaan senang sore harinya. Dia akan bekerja di perusahaan tuan Kent mulai besok. Gajinya lebih besar dari yang diberikan Cloud Cafe. Hampir dua kali lipat. Hari ini Lisle merasa sangat beruntung.


***


“Kudengar perusahaan Caldwell mulai membaik hari ini.”


Lisle membaca chat yang dikirimkan Celine sambil bersandar di sofa yang ada di kamar. Perasaannya menjadi lega. Ternyata tuan Kent benar tentang keluarga Caldwell yang akan baik-baik saja.


Sambil tersenyum sendiri, Lisle mengetik. “Aku harap itu benar. Oya, Celine. Aku mendapatkan pekerjaan baru. Aku akan menceritakannya padamu besok.”


“Hm, pekerjaan baru. Dimana?” Kennard tiba-tiba sudah berada di belakangnya, mengintip pada layar ponsel Lisle.


“A... hanya sebuah pekerjaan kecil....” Lisle berusaha terlihat tenang meski sebenarnya jantungnya terasa hampir melompat keluar. Untung saja tadi dia tidak menulis tentang Diamond Group pada Celine.


“Pekerjaan kecil seperti apa?” Kennard memutari sofa dan duduk di sebelah Lisle. Dia melepas dasinya dan meletakkannya sembarang di meja.


Bagaimana lelaki ini bisa masuk ke kamar tanpa menimbulkan suara? Apa dia hantu? Lisle tersenyum sedikit sambil memutar otak mencari jawaban yang tepat.


“Semacam mengantarkan dokumen....” Lisle meringis, merasa tak menemukan jawaban bagus. Namun dia tak akan menyebut nama perusahaannya.


“Dimana?” tanya Kennard lagi. Kali ini dia menatap langsung pada Lisle hingga membuat gadis itu gugup seketika.


“Hanya perusahaan kecil. Tuan mungkin tidak akan tertarik....” Lisle mencoba mengelak. “Eh, aku... ada yang harus kukerjakan....” Gadis itu bangkit tapi lengannya ditahan oleh Kennard hingga dia terduduk kembali di sofa.


“Kau bilang akan melakukan apa pun untukku. Apa saja?” Kennard bicara dengan nada rendah. Matanya berkilat menyiratkan sesuatu yang membuat gadis itu takut.

__ADS_1


Lisle tampak seksi dengan gaun tidur setali yang dipakainya. Garis lehernya yang rendah membuat Kennard bisa menemukan pemandangan lebih di dalam sana.


Sejak kapan gadis ini berani menggodanya dengan berpakaian seperti itu? Kemana piyama tidur yang menutup seluruh tubuhnya?


Lisle menelan ludah dengan gugup, tapi dia mengangguk juga dengan enggan.


Kennard menghirup aroma shampo dari rambut gadis itu. “Hm, enak sekali,” gumam lelaki itu pelan. “Bagaimana kalau aku menginginkanmu. Apa kau mau melayaniku?”


Kennard benar-benar menginginkan gadis ini.


Gadis itu mengkerut di tempatnya, tidak berani bergerak sedikit pun. “Aku... aku... kalau untuk itu, aku belum bisa. Aku belum pernah....”


Kennard meraih wajah kecil itu. “Kau bilang apa saja. Bukankah itu berarti semuanya tanpa terkecuali?”


Mata indah Lisle menggenang, seperti ada ribuan berlian yang hendak berlompatan keluar. “Tuan, aku....”


Lisle gemetar. Kennard menopangkan sebelah lengannya pada sandaran sofa, memerangkap. Dalam pandangannya, Lisle sangat menarik saat seperti ini. Matanya yang berkaca-kaca, bibir yang bergetar karena takut, dia jadi teringat pertemuan pertama mereka.


Saat Kennard menunduk pada wajah itu, Lisle memohon dengan suara memelas. “Tu... Tuan, jangan. Kumohon....”.Airmatanya pecah berderai.


***


Lisle mengusap airmata sambil melanjutkan pekerjaannya mengiris bawang. Sementara Kennard mengawasi dari tadi sambil bersidekap di kursinya, menunggu.


“Buatkan aku makan malam,” ujar Kennard di luar dugaan.


Meskipun dia pernah bilang bahwa dia bisa memasak untuk lelaki itu, tapi tidak berarti Lisle pandai memasak. Bukankah ada Thomas yang kemampuan memasaknya setara koki hotel bintang lima? Lisle menggeleng tanpa sadar. Bibirnya menekuk cemberut.


“Aku tidak suka wajah cemberutmu.” Kennard menegurnya. “Apa kau kecewa karena tak sesuai harapanmu?”


Aish, apa dia sedang mengolok-olokku? Muka Lisle memerah teringat tadi dia hampir pingsan begitu Kennard mendekatinya. Dia menyangka laki-laki itu akan menghabisinya malam ini dan itu membuatnya takut, tapi Kennard malah berkata sesuatu tentang makan malam dan kelaparan.


Memangnya kemana Thomas dan pelayan lainnya? Apa mereka semua libur hari ini?


Lisle tidak tahu harus memasak apa. Dia berdiri di dapur yang luas itu dan melihat banyak bahan makanan di kulkas tapi bingung mengolahnya. Mungkin dia akan mencampur semuanya biar tuan jahat ini keracunan setelah mengkonsumsinya. Pikiran semacam itu membuat bibirnya mengulas senyum.


“Kau tiba-tiba senang. Apa kau berpikir akan meracuniku?” ujar Kennard lagi.


Lisle hampir tersedak dengan tebakan itu. Dia menggeleng cepat. Terlalu cepat. “Tidak. Mana aku berani.”


Astaga. Bagaimana bisa lelaki itu menebak sempurna?


“Tertulis di wajahmu.”

__ADS_1


Sekali lagi Lisle melongo dibuatnya.


“Cepatlah. Aku lapar!”


Setelah satu jam lebih gadis itu menata meja makan. Kennard sudah ada di kursinya. Tampak tak sabar. Lisle tak berani melirik waktu dia meletakkan sepiring pasta dengan potongan sosis dan telur di depan laki-laki itu.


Kening Ken berkerut mengamati hidangan sederhana di depannya.


“Apa ini?” Ditusuknya potongan sosis itu dengan garpu. Matanya menyipit.


Lisle tidak tahu harus tertawa atau menangis. Dia meringis ketika menjawab pertanyaan sindiran itu. “Saya cuma bisa masak ini, Tuan.”


Sepiring pasta dengan telur dan sosis untuk Kennard yang terbiasa dengan masakan seorang chef. Lisle menelan ludah, menunggu. Dia berharap sesuatu membuat laki-laki itu tersedak dan kehabisan napas. Atau mungkin di tengah gaya makannya yang sok berkelas itu meski hanya disuguhi sepiring pasta, jantungnya tiba-tiba berhenti berdetak.


Kennard hanya meliriknya sekilas lalu mulai menyendok, memakannya sesuap demi sesuap.


“Kau makanlah juga!” perintahnya karena hanya melihat Lisle masih berdiri di sisi meja.


Sebenarnya Lisle juga lapar. Aroma pasta  buatannya sendiri itu menambah perih lambung. Tapi dia masih menunggu Kennard menyelesaikan makannya untuk kemudian pergi ke dapur dan makan di sana. Dia tidak berselera makan di meja yang sama dengan Kennard. Entah kenapa hari ini laki-laki ini benar-benar menyebalkan.


“Nanti saja, Tuan. Saya makan di dapur saja.” Lisle beralasan  sambil masih berdiri di tempatnya layaknya seorang pelayan menunggu majikannya makan dan siap jika sewaktu- waktu bila diperlukan.


“Siapa yang menyuruhmu makan di dapur?” Kennard berhenti menyuap. Dia memandang pada Lisle. Gadis itu menunduk.


“Eh, tidak ada....”


“Jadi makanlah di sini. Rasanya tidak enak makan sambil dipandangi orang yang terus menerus menekuk bibirnya dan menyumpahi di dalam hati.”


 ---------


Aih, Bang Kennard, kok bikin kesel sih?! 🤣🤣🤣


Hai, hallo semua... Masih semangat kan bacanya? Semoga semuanya diberi kesehatan dan segala kebaikan hari ini. Makasih untuk tetap sabar nungguin kelanjutan cerita ini yang memang merayap kayak siput. Makasih juga atas dukungan like, komen, vote, hadiah dan tipnya. Kalian semua penyemangat author. 🥰🥰🥰


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2