Kekasih Terpaksa Sang Penguasa

Kekasih Terpaksa Sang Penguasa
Bab 76. Bulan Madu


__ADS_3

"Bagaimana?" Baru saja bertemu, Celine sudah bertanya dengan nada penasaran. Kemarin Lisle terlihat kehilangan minat untuk kuliah setelah insiden pagi hari itu. Celine juga tidak merasa enak untuk banyak bertanya. Padahal banyak hal yang ingin didengarnya dari sahabatnya itu.


Lisle masuk di kelas pertama. Sudah tidak ada kuliah lagi di jam berikutnya tapi juga masih terlalu pagi untuk pulang. Gadis itu memilih mengerjakan sebuah tugas kuliah. Dia bertekad menyelesaikannya hari ini sebelum bepergian. Celine yang mempunyai jadwal kuliah malah memutuskan bolos dan menguntit Lisle ke tempat itu.


"Masalah dengan Shopia. Gosip itu tiba-tiba menjadi dingin. Apa yang sudah tuan Kent lakukan?" Celine pikir orang-orang kaya akan punya pemecahan masalah yang berbeda.


Lisle menggeleng. "Tidak ada."


"Tidak mungkin!" Celine tidak percaya.


Lisle hanya mengedikkan bahu. "Semalam sebuah mobil mengikutiku pulang. Tapi tuan Kent menyuruh William membiarkannya karena kemungkinan orang-prang itu bermaksud mencari tahu identitasku. Katanya sebagai peringatan. Membuat mereka menebak-nebak hubunganku dengan tuan Kent. Jadi mereka tidak akan berani macam-,macam.  itu. Benar-benar tidak melakukan sesuatu, 'kan?"


"Hanya itu?"


"He eh." Lisle merasa sedikit terganggu dengan adanya Celine. Mungkin niatnya mengerjakan tugas tidak akan terlaksana.


"Bagaimana dengan gosipnya?" Celine masih penasaran.


"Aku tidak tahu. Tapi apa kau tidak melihat Shopia hari ini?" Lisle jadi teringat dengan nona muda Harfey itu. "Dia kan ada kelas yang sama denganmu hari ini?"


"Gadis itu tidak masuk. Mungkin wajahnya masih bengkak karena pukulanmu kemarin," ujar Celine membuat perkiraan.


Lisle yang mendengarnya dibuat meringis. 


"Mmm, kapan kalian akan pergi berbulan madu?" tanya Celine teringat rencana bulan madu Lisle.


"Besok pagi."


"Aku pasti akan merindukanmu," ujar Celine lagi. Saat ini pun dia sudah merasa kehilangan. 


"Pasti." Lisle menatap Celine dengan raut bercanda. Sesungguhnya dia pun akan merindukan sahabatnya ini.


Celine mencibir. 

__ADS_1


Lisle tertawa melihatnya. "Aku juga akan merindukanmu," hiburnya.


"Tidak mungkin. Kau akan melupakanku." Celine merajuk. Dia merasa di hati Lisle tidak ada lagi tempat baginya.


"Kau mau ikut?" tanya Lisle tiba-tiba. Akan menyenangkan jika ada Celine di sampingnya. Dia tidak akan melulu melihat tampang suaminya dan punya alasan bagus setiap harus melarikan diri.


Celine memasang tampang jijik. "Kau pikir aku orang yang tidak tahu malu? Bisa-bisanya kau mengajakku pergi ikut berbulan madu. Tidak. Kau orang paling konyol yang pernah kukenal."


Lisle cuma meringis mendengar penolakan sahabatnya. " Padahal aku bermaksud baik," keluhnya. "Hubungi aku kalau kau berubah pikiran."


"Tidak akan. Lagipula untuk apa aku mengganggu orang yang sedang berbulan madu?"


"Jangan berlebihan. Itu cuma seperti liburan biasa." Lisle merasa tidak yakin dengan ucapannya sendiri. Bahkan liburan biasa bagi Kennard terasa sangat istimewa bagi Lisle.


"Aku malas meneleponmu lagi," ujar Celine teringat panggilannya beberapa hari yang lalu justru diterima tuan Kent. Lelaki itu pasti akan lebih murka jika sampai menemukan sebuah panggilan tak penting saat dia sedang berbulan madu. Sekarang pun Celine sudah sungkan bertemu lelaki itu.


"Suamimu membuatku takut." Celine menggerutu tanpa mengatakan penyebabnya.


"Kau tahu?" Kennard pasti mengatakan sesuatu tentang panggilan di tengah malam itu, pikir Celine. 


Lisle mengangguk.


"Tidak. Dia memang tidak memarahiku. Tapi nada bicaranya dingin sekali. Jelas dia merasa tidak senang," ujar Celine. "Memang salahku, meneleponmu tengah malam."


"Kalau ada apa-apa, kau bisa menghubungiku lewat Steve. Dia akan menyampaikan pesanmu." Lisle mengambil ponselnya. "Akan kukirimkan nomornya."


"Kau yakin tidak apa-apa kalau aku meneleponnya? Aku agak segan bicara dengan orang itu. Dia… seperti patung es." Celine teringat dengan asisten tuan Kent yang bernama Steve itu. "Dia bahkan tampak seperti bayangan tuan Kent"


Lisle tertawa mendengar komentar sahabatnya tentang Steve. "Tentu saja tidak. Dia sangat baik. Percayalah."


Celine mengamati ponselnya, menyimpan nama Steve dalam daftar kontaknya. Dia berharap tidak akan pernah punya alasan untuk menghubungi nomor itu. Sahabatnya Lisle sangat ceroboh dengan sembarangan memberikan nomor orang kepercayaan presdir Diamond Group.


***

__ADS_1


"Kalau kau berubah pikiran katakan saja." Kennard mengingatkan Lisle saat mereka tiba di sebuah dermaga kecil di pulau.


Pagi sekali mereka sudah berangkat menuju pelabuhan dan menuju tempat itu dengan menggunakan kapal motor. Steve mengantarkan mereka sampai di sana dan pergi setelah mendapatkan beberapa instruksi. Dia akan mengatur beberapa pekerjaan dan menggantikan tuan lent mengurus segalanya selama sang presdir pergi. 


Meski sedikit gugup Lisle menggeleng juga. "Aku benar-benar ingin berlatih."


 


Sudut bibir Kennard sedikit terangkat. Dia bisa merasakan kegugupan istrinya. "Kuharap kau tidak menyesali keputusanmu ini."


Kennard membantu Lisle turun dari kapal dengan menggendongnya dan masih tidak menurunkannya meski telah berada pada tempat yang mudah.


Sekelompok orang berpakaian mirip militer menyambut kedatangan mereka. Lisle meronta dalam gendongan Kennard saat melihat mereka.


"Turunkan aku," ujar Lisle setengah berbisik. "Kau membuatku malu."


Kennard menurunkan istrinya yang tersipu di bawah pandangan sekelompok lelaki itu, mengecup pucuk rambutnya sekilas. Tak ada seorang pun yang berkomentar atas sikap Kennard. Tentu saja, karena mereka adalah sebagian dari pasukan khusus yang dilatih secara profesional di pulau. Mereka tahu siapa bos mereka. Tak ada yang akan berani mengkritik atau berkomentar atas apapun yang tuan Kent lakukan.


Lisle bergegas membuat jarak dengan Kennard. Dia merasa jengah dengan perlakuan Kennard padanya di depan umum.


Seorang bertubuh tinggi besar dengan otot-otot yang bahkan bisa terlihat dari balik bajunya maju ke depan. Tampaknya dia adalah pemimpin dari kelompok itu. 


"Tuan, selamat datang kembali di pulau. Sudah lama sekali tidak melihat anda." Si lelaki tidak sekalipun melihat pada Lisle.


Kennard hanya mengangguk sekilas. "Ada Hans yang selalu datang ke sini. Itu sudah cukup," ujarnya sambil mengawasi orang-orang itu.


"Kurasa Steve sudah memberitahu. Aku ke sini dengan istriku. Dia akan ikut berlatih bersama kalian dan aku akan mengawasi perkembangannya. Kami hanya dua minggu di sini. Dia hanya ikut beberapa latihan dasar dan teknik yang sederhana. Kurasa waktunya cukup." Kemudian Kennard beralih pada Lisle yang tampak tidak ingin berada dekat-dekat dengan suaminya. Dia menatap gadis itu seperti memberi isyarat.


Saat itu barulah para anggota terlatih yang semuanya adalah laki-laki menatap ke arah Lisle. Dan mereka mendapati seorang gadis dengan tinggi yang mungkin rata-rata hanya sedada mereka sedang berdiri dengan gugup. Wajahnya yang cantik terlihat memerah.


"Hallo, semua. Aku Lisle. Mohon bimbingannya." Lisle tersenyum canggung. Hatinya mulai cemas.


 

__ADS_1


__ADS_2